Ketika Virus Corona Bermutasi, Bagaimana Efektivitas Vaksin COVID-19?

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 19 Jun 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 19 Jun 2020, 21:00 WIB
Virus Corona COVID-19 dari Mikroskop
Perbesar
Gambar menggunakan mikroskop elektron yang tak bertanggal pada Februari 2020 menunjukkan virus corona SARS-CoV-2 (oranye) muncul dari permukaan sel (hijau) yang dikultur di laboratorium. Sampel virus dan sel diambil dari seorang pasien yang terinfeksi COVID-19. (NIAID-RML via AP)

Liputan6.com, Jakarta Perbincangan mutasi virus Corona kian merebak seiring kabar munculnya mutasi virus di Beijing, Tiongkok. Varian virus Corona yang muncul di Beijing diduga varian yang berbeda dari tempat asal virus merebak di Wuhan. Seberapa cemas persoalan mutasi virus Corona?

Peneliti biologi molekuler Ahmad Utomo menjelaskan, kita harus tahu terlebih dahulu definisi mutasi. Definisi mutasi bisa berbeda bagi orang awam dan orang yang berkecimpung sebagai ilmuwan.

"Definisi mutasi bisa berbeda antara orang awam dan ilmuwan. Saya tidak mengatakan sebagai mutasi virus Corona, melainkan lebih kepada variasi. Kalau kita bicara mutasi memang harus melihat lebih spesifik lagi. Gambarannya, apakah spesiesnya sama atau punya fungsi berbeda," jelas Ahmad melalui sambungan telepon kepada Health Liputan6.com, Jumat (19/6/2020).

"Pada virus Sars-CoV-2 secara genom, kekerabatannya yang paling dekat dengan virus dari kelelawar sebanyak 96 persen. Kalau kita kelompokkan semua genom yang sudah di-sequence (diurutkan), termasuk genom dari Lembaga Molekuler Eijkman dan Universitas Airlangga ada 13 genom, total sekitar 20.000 genom. Itu kesamaan genomnya 99,9 persen. Dari segi genom virus Corona, variasinya termasuk banyak."

2 dari 5 halaman

Genom dan Vaksin COVID-19

Virus Corona COVID-19 dari Mikroskop
Perbesar
Gambar menggunakan mikroskop elektron yang tak bertanggal pada Februari 2020 menunjukkan virus corona SARS-CoV-2 (kuning) muncul dari permukaan sel (merah muda) yang dikultur di laboratorium. Sampel virus dan sel diambil dari seorang pasien yang terinfeksi COVID-19. (NIAID-RML via AP)

Dilihat dari sisi virus Corona, mungkin dia hanya ingin mereplikasi dan memperbanyak diri. Pada pandangan manusia, Ahmad menjelaskan, hal itu disebut mutasi, yang dapat memperparah gejala. Hal itulah yang kemudian menimbulkan kecemasan, khawatir vaksin COVID-19 tidak berpengaruh.

Untuk target pembuatan vaksin COVID-19, pada umumnya menyasar protein yang kerap disebut Crown atau tanduk pada SARS-CoV-2. Ini karena tanduk yang menyelimuti virus Corona merupakan lokasi transmisi untuk menempel pada sel-sel tubuh manusia.

"Sars-CoV-2 ini punya protein spike (protein yang menempel pada tubuh manusia dan menginfeksi tubuh) yang ada pada 'tanduknya' (Seperti diketahui, bentuk virus Corona ini seperti memiliki tanduk pada setiap sisinya). Biasanya publik khawatir kalau ada mutasi, jadi vaksinnya enggak berpengaruh lagi. Tapi so far, dari puluhan ribu genom SARS-CoV-2 belum ada mutasi yang signifikan di daerah tersebut (protein spike)," Ahmad melanjutkan.

"Kembali lagi ke pertanyaan, vaksin COVID-19 nanti kira-kira ampuh enggak? So far, selama enggak ada mutasi yang berarti ya enggak ada masalah. Adanya variasi SARS-CoV-2 juga belum dilaporkan menemukan suatu kekhawatiran terhadap pengembangan vaksin COVID-19."

Dalam hal ini, variasi virus Corona yang dilaporkan, belum ada satupun yang menunjukkan bisa memengaruhi efek jenis vaksin yang akan dikembangkan. Terkait dampak variasi SARS-CoV-2 terhadap penyakit, hingga saat ini belum ada data yang jelas.

"Kita sudah ada data genom, tapi tidak ditautkan dengan data pasien. Untuk mengetahui, seberapa makin parah atau ganas virus, ya harus tahu dong, virus dengan sequence ini berkaitan (dengan) gejala pasien seperti apa. Selama ini, data di GISAID hanya sequence genom saja," lanjut Ahmad.

"Tidak ada laporan variasi sequence genom tertentu yang mana membuat pasien kondisinya lemah, parah, berat, kritis, dan meninggal. Yang mana itu (genom) kita enggak tahu. Lalu dari variasi sequence genom, pasien mana saja yang diabetes, hipertensi, dan penyakit komorbid lain juga enggak tercatat. Secara keseluruhan, pola mutasi (variasi) yang ada, belum ada bukti genom mana yang lebih berbahaya dan bikin gejala parah."

3 dari 5 halaman

Beda dari SARS-CoV Terdahulu

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19.
Perbesar
Beda dari Sars-CoV terdahulu. Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Yang menjadi salah satu fokus ilmuwan, SARS-CoV-2 ini berbeda dari genom sebelumnya. SARS-CoV-2 punya kemampuan menyembunyikan diri sampai mendekat ke sel target.

"Secara genom pun berbeda jauh. Beda 20 persen. Ibarat kata kita berbicara spesies yang berbeda sama sekali. SARS-CoV-2 punya intensitas ikatan virus kepada sel manusia jauh lebih kuat. Ikatannya 10 kali lipat lebih kuat. Kalau bicara lem, dia mengikatnya lebih kencang dan enggak gampang lepas," Ahmad menjelaskan.

"Yang menarik juga, dia enggak hanya bisa mengikat dengan kuat. SARS-CoV-2 itu pintar menyelinap. Ada protein di bagian tanduk. Tanduk inilah yang mengikat AC2 reseptor sel manusia. Titik ikatan dengan protein tanduk pun enggak gampang dikenali sistem imun. Lebih susah dideteksi sel imun."

Ahmad menggambarkan, seandainya SARS-CoV dan SARS-CoV-2 menginfeksi orang yang sama, maka daya tahan tubuh lebih cepat mengenali yang Sars-CoV. Lebih susah mengenali Sars-CoV-2 karena tonjolan 'tanduk' yang berperan sebagai pintu masuk ke sel manusia masih disembunyikan oleh Sars-CoV-2.

"Dia mengeluarkan taring ketika sudah mendekati target. Masalahnya target ini kan punya banyak enzim, begitu enzim mendekat, dia secara enggak sengaja akan mengaktifkan tonjolan tanduk pada virus. Yang tadinya kelihatan (terdeteksi) menjadi kelihatan," terang Ahmad.

"Artinya, sudah dekat untuk menginfeksi. SARS-CoV-2 secara keseluruhan punya kemampuan jauh lebih cepat dan susah dikenali. Makanya, masa inkubasinya lama."

4 dari 5 halaman

Variasi Virus dan Gejala Klinis

FOTO: Menengok Pasien COVID-19 di Rumah Sakit Lapangan Brasil
Perbesar
Pasien COVID-19 berbicara dengan kerabatnya melalui video call saat mendapat perawatan di rumah sakit lapangan dalam gym di Santo Andre, Sao Paulo, Brasil, Selasa (9/6/2020). Hingga 10 Juni 2020, kasus positif COVID-19 di Brasil sebanyak 742 ribu orang. (AP Photo/Andre Penner)

SARS-CoV-2 memang susah dideteksi sistem imun. Sistem imun tidak mudah melihat dari awal kehadiran SARS-CoV-2. Masa inkubasi lebih lama, sehingga orang menampakkan gejala cukup lama. Berbeda dengan SARS-CoV, ketika seseorang terinfeksi, beberapa hari kelihatan gejala.

"Variasi genom ada sekitar 20.000, kita masih belum mengetahui variasi mana yang berkorelasi dengan gejala ringan, sedang, dan berat. Sebagian penelitian di luar negeri ada yang mengklaim, varian SARS-CoV-2 tertentu berkorelasi pada tingkat keparahan. Tapi mereka penelitiannya dengan jumlah pasien terbatas dan fokus pada modelling," Ahmad menjelaskan.

"Untuk mengetahui dampak mutasi, misalnya, apakah pengikatan virus lebih kuat atau ringan, kita juga harus mengumpulkan data pasien. Kita sudah ada 13 genom virus, sementara kasus COVID-19 di Indonesia sudah 40.000 lebih. Kalau kita mau studi variasi SARS-CoV-2 berpengaruh pada gejala klinis pasien, ya harus men-sequence genom 40.000-an dari kasus COVID-19 itu."

Di sisi lain, Ahmad menyebut, penyebab kematian pasien SARS-CoV-2 banyak terjadi akibat penggumpalan darah pada paru-paru. "Pembuluh darah paru-paru itu tipis sekali. Bila ada sumbatan darah, pertukaran oksigen tidak berjalan lancar. Kondisi ini terjadi secara masif."

"Dampaknya hanya pada pasien COVID-19 yang kritis. Terjadi inflamasi terjadi penggumpalan darah serta akibat efek badai sitokin," tutup Ahmad.

Badai sitokin merupakan kondisi tubuh mengalami infeksi dan peradangan akibat serangan virus Corona. Virus tersebut menginfeksi sel-sel tubuh yang sehat, yang mengakibatkan kerusakan organ.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓