Antisipasi Penularan COVID-19, IDAI Anjurkan Sekolah Tak Dibuka hingga Desember 2020

Oleh Benedikta Desideria pada 30 Mei 2020, 21:04 WIB
Diperbarui 30 Mei 2020, 21:06 WIB
Diperpanjang Sampai 20 Mei, Siswa Belajar Online di Rumah
Perbesar
Siswa sekolah dasar belajar online menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings di Pamulang Tangerang Selatan, Kamis (2/4/2020). Menunjuk Surat Edaran Mendikbud, Kepala BNPB dan Walikota Tangsel, pelaksanaan belajar dari rumah di perpanjang sampai tanggal 20 Mei 2020. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan sekolah setidaknya membuka kegiatan belajar secara langsung pada Desember 2020. Hal ini mengacu pada masih terus bertambahnya jumlah kasus COVID-19 serta melonggarnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang memungkinkan terjadinya lonjakan kedua.

"Dengan mempertimbangkan antisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai bulan Desember 2020," kata Ketua Umum IDAI Dr dr Aman Pulungan SpA(K) FAAP, FRCP(Hon) dalam keterangan resmi pada Sabtu (30/5/2020).

Pembukaan sekolah bisa dipertimbangkan jika jumlah kasus COVID-19 di Indonesia mengalami penurunan.

Selama sekolah masih tutup, IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar dillaksanakan lewat skema pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kegiatan belajar mengajar dari rumah tentu berdasarkan modul yang sudah disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selama belajar mengajar jarak jauh, peran aktif siswa, guru, dan orangtua tentu jadi fakor penting.

 

2 dari 2 halaman

Lakukan Pemeriksaan Masif

Penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Ikuti Tes Swab PCR
Perbesar
Petugas medis menunjukkan sampel penumpang KRL Commuter Line saat tes swab dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Selasa, (5/5/2020). Pemkot Bekasi melakukan tes swab secara massal setelah tiga penumpang KRL dari Bogor terdeteksi virus corona. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Bila suatu hari sekolah kembali dibuka harus sudah memenuhi syarat-syarat epidemiologi. Lalu, IDAI mengimbau semua pihak bisa bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI membicarakan mengenai perencanaan pembukaan sekolah.

"Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilens kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi," kata Aman.

IDAI juga mengimbau pemerintah untuk melakukan pemeriksaan real time PCR secara masif. Yakni 30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi COVID-19. Pemeriksaan ini juga berlaku pada usia anak.

"IDAI akan terus melakukan pemantauan situasi langsung melalui cabang-cabang IDAI dan akan terus melakukan kajian dan akan memberikan rekomendasi perkembangan situasi terkini," tutup Aman.

Lanjutkan Membaca ↓