Puasa Ramadan Profesor Tjandra Yoga di India Berbekal Rendang dan Sambal Goreng Ati

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 29 Apr 2020, 05:00 WIB
Diperbarui 13 Mei 2020, 08:47 WIB
Liputan 6 default 2
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan6

Liputan6.com, New Delhi Hari-hari puasa Ramadan di tengah lockdown 2.0 India, Direktur WHO SEARO Bidang Penanggulangan Penyakit Menular, Prof Tjandra Yoga Aditama rupanya mengandalkan rendang dan sambal goreng ati kentang.  Baik berbuka puasa maupun sahur, kedua makanan tersebut ibarat penyelamat dirinya.

Sebagai pelepas dahaga, es buah siap sedia menemani setiap berbuka dan sahur. Tidak ada menu lain. Tidak ada juga menu makanan India yang dinikmatinya. Prof Tjandra yang berkantor di New Delhi harus bertahan dalam situasi lockdown tahap kedua.

"Tahun ini kelima kalinya saya puasa Ramadan di India, sejak September 2015 bertugas di WHO SEARO. Puasa kali ini cukup 'besar perbedaannya daripada tahun-tahun yang lalu. Tentunya karena COVID-19 sedang melanda," ujar Tjandra membuka percakapan melalui pesan singkat kepada Health Liputan6.com, ditulis Selasa (28/4/2020).

"Biasanya setiap tahun, sebelum puasa atau hari-hari pertama puasa saya (pulang) ke Jakarta. Saya memang sebulan sekali ke Jakarta. Di India tinggal sendiri saja. Balik lagi ke India ya bawa persediaan makanan untuk sebulan puasa."

Makanan yang wajib dibawa dari Tanah Air untuk sebulan puasa Ramadan meliputi 50 bungkus kecil es buah serta puluhan bungkus kecil rendang, sambal goreng ati dan teri kacang untuk menu buka puasa dan sahur.

"Saya selalu buka puasa dan sahur dengan minum es buah. Setiap satu bungkus yang sudah dikemas dari Jakarta ya untuk satu kali makan, sehingga cukup untuk sebulan puasa. Bahkan beberapa minggu sesudahnya," lanjut Tjandra.

India
Perbesar
Hari-hari puasa Ramadan Prof Tjandra Yoga Aditama di India saat lockdown 2.0 mengandalkan rendang dan sambal goreng ati. (Dok Prof Tjandra Yoga Aditama)
2 dari 4 halaman

Pupus Harapan Pulang ke Jakarta

Masjid Terbesar India Saat Ramadan
Perbesar
Masjid Jama terlihat pada bulan suci Ramadan di bawah penerapan lockdown untuk menekan penyebaran virus corona di New Delhi, 25 April 2020. Masjid terbesar di India itu selalu ramai dipenuhi dipenuhi Umat Muslim saat datangnya Ramadan namun, kini terlihat sepi imbas Covid-19. (Sajjad HUSSAIN/AFP)

Sayangnya, India sedang menjalani lockdown tahap kedua. Tak ayal, seluruh akses penerbangan tutup. Tjandra pun tidak bisa pulang ke Jakarta untuk membawa perbekalan makan sebulan puasa.

"Tahun ini India totally lockdown sejak 25 Maret 2020. Praktis semua tutup, bandara dan penerbangan juga tutup. Rencana saya pulang ke Jakarta tanggal 10-14 April 2020 jadi batal," ujar Tjandra, yang pernah menjabat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.

"Tadinya saya masih berharap karena (sebelumnya) lockdown sampai 14 April, jadi mungkin 15 April bisa ambil bekal ke Jakarta. Ternyata, dilanjutkan dengan lockdown 2.0 sampai 3 Mei 2020. Pupuslah sudah harapan."

Secercah harapan datang, Tjandra masih mempunyai persediaan rendang, sambal goreng ati kentang, dan es buah di lemari es.

"Terus terang saya tidak bisa masak sama sekali, kecuali menghidupkan rice cooker buat masak nasi, ketel masak air listrik serta microwave. Sehari sebelum puasa (hari Kamis), saya melakukan skrining di lemari es. Alhamdullilah, saya berhasil menemukan 8 bungkus kecil sambal goreng ati kentang masakan rumah dari Jakarta," Tjandra menambahkan.

"Ada juga 2 plastik rendang yang dikasih guru ngaji di Jakarta beberapa bulan yang lalu, 4 bungkus rendang dalam kemasan (prepacked), dan 2 bungkus kecil es buah."

3 dari 4 halaman

Persediaan untuk 15-20 Hari Puasa

Liputan 6 default 3
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Rendang, sambal goreng ati kentang, dan es buah yang masih ada di lemari es cukup 15-20 hari puasa Ramadan. Untuk memesan makanan pun sekarang sulit. Tidak ada orang yang bisa antar makanan. Bahkan tidak ada tukang antar koran dan tukang pos.

"Semua restoran di New Delhi juga tutup. Setidaknya 15-20 hari puasa, saya masih akan aman dan bisa tetap makan makanan Indonesia," terang Tjandra yang juga mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

"Mudah-mudahan saja tidak dilanjutkan lockdown 3.0 (lockdown tahap ketiga), sehingga restoran buka dan saya bisa berbuka dengan masakan India. Yang jelas, hari pertama puasa, Jumat (24/4/2020) kemarin, saya bisa berbuka dengan es buah. Nanti sore juga masih es buah dari Jakarta. Tapi besok-besok nampaknya minum jus kotak India saja."

Tjandra teringat tahun-tahun lalu bisa buka puasa di luar rumah. "Tahun-tahun yang lalu buka puasa juga dirumah. Kadang ada acara di Masjid KBRI atau buka puasa di restoran. Kadang kebetulan ada acara yang ada makan malamnya. Tahun ini tentu hanya akan selalu di rumah saja," katanya.

Momen ngabuburit dilakukan Tjandra dengan berjalan-jalan di dalam kompleks rumahnya. Situasi pun sepi dan kosong.

"Kadang saya mencuri kesempatan untuk jalan sore di dalam kompleks. Jalanan kosong melompong, saya biasanya jalan sore sambil bawa plastik, sehingga disangka baru dari toko beli buah atau roti," tutupnya sembari mengirimkan foto selfie dirinya dengan latar belakang jalanan yang kosong.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓