Peneliti AS Uji Coba Vaksin COVID-19 Lewat Suntikan

Oleh Fitri Syarifah pada 11 Apr 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 11 Apr 2020, 07:00 WIB
Jennifer Haller, Wanita Pertama yang Disuntik Virus Corona Covid-19 untuk Uji Coba Vaksin

Liputan6.com, Jakarta Para peneliti di Amerika Serikat terus berlomba untuk mencari vaksin virus corona (Covid-19) yang efektif dan aman. Kali ini perusahaan Inovio membuat terobosan dengan uji coba vaksin menggunakan injeksi intrakutan (di bawah kulit dengan sudut suntikan 10-15 derajat).

"Suntikan ini akan terasa seperti skin test (tes alergi)," ujar peneliti kepada relawan di Kota Kansas, Missouri, dikutip Foxnews.

"Ini merupakan percobaan terpenting yang pernah kami lakukan. Semua pihak sudah berusaha keras untuk bisa sampai tahap ini," ujar Dr. John Ervin dari Pusat Penelitian Farmasi kepada wartawan. 

Percobaan menggunakan kandidat vaksin yang dikembangkan oleh Inovio Pharmaceuticals ini menjadi perhatian dunia. 

Sebelumnya, kandidat vaksin lainnya sudah diuji coba dengan aman sejak bulan lalu di Seattle, yang dikembangkan oleh U.S. National Institutes of Health (NIH). Sekitar dua per tiga peserta dalam studi tersebut, telah menerima dosis pertama dari dua dosis yang dibutuhkan.

Penelitian dari Inovio menggunakan dua dosis vaksin, dengan kode INO-4800, yang akan diberikan kepada 40 peserta yang sehat di laboratorium penelitian Kota Kansas dan University of Pennsylvania. Inovio bekerja sama dengan para peneliti China agar segera memulai studi yang sama di sana.

 

 

2 dari 2 halaman

Masih ada lusinan vaksin yang akan diujicoba

Kasus Virus Corona Bertambah, Bio Farma Kebut Penemuan Vaksin Anti Covid-19
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Lusinan vaksin kini sedang dikembangkan di laboratorium-laboratorium di seluruh dunia. 

"Hal baiknya adalah kami mendapat banyak relawan," ujar Dr. Anthony Fauci, kepala penyakit infeksius NIH yang dipublikasikan dalam Jurnal American Medical Association.

Kebanyakan vaksin yang sedang dikembangkan merujuk pada satu target: protein berbentuk paku di sepanjang permukaan virus yang membantunya menusuk/menempel ke sel manusia. Namun, banyak juga yang mengincar lainnya.

Peneliti Inovio sendiri, mengemas bagian dari kode genetik virus di dalam sepotong DNA sintetis. Saat disuntikkan sebagai vaksin, sel akan bereaksi seperti pabrik mini yang memproduksi copy-protein yang tidak berbahaya. Lalu, sistem imun membuat antibodi yang melindungi terhadap mereka, mempersiapkan dengan prima jika virus sesungguhnya muncul.

Kepala penelitian dan pengembangan Inovio, Kate Broderick, menggambarkannya sebagai agen "FBI" dengan poster buruan, sehingga bisa mengenali musuhnya.

"Setidaknya, ada yang menunjukkan kalau suntikan intrakutan--entah bagaimana mempercepat pengembangan antibodi pelindung sistem imun," ujar Dr. Pablo Tebas dari University of Pennsylvania kepada AP. Tebas yang memimpin studi terbaru terkait Covid-19 ini.

Studi pendahuluan ini merupakan langkah pertama untuk melihat apakah vaksin tersebut cukup aman. Jika studi ini berjalan lancar, masih akan memerlukan waktu lebih dari setahun sebelum vaksin tersedia secara global.

Lanjutkan Membaca ↓