Cegah Corona, Ritual dari Abad-16 Logu Senhor di NTT Ditiadakan

Oleh Liputan6.com pada 25 Mar 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 25 Mar 2020, 18:00 WIB
Gereja Tua Santo Ignatius Loyola Sikka.foto tahun 2019

Liputan6.com, Sikka Dalam upaya mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), Uskup Maumere Edwaldus Martinus Sedu mengeluarkan Surat seruan Pastoral Keuskupan Maumere terkait Covid 19 di Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Salah satunya imbauan adalah meniadakan misa atau perayaan ekaristi dan prosesi tradisi dan ritual keagama Logu Senhor di Paroki Santo Ignatius Loyola Sikka

Uskup Maumere juga menguraikan khusus terkait Perayaan Pekan Suci. Disebutkan umat membawa daun palma masing-masing, ritus pembasuhan kaki para rasul ditiadakan, passio dan doa umat meriah pada Jumat Agung didaraskan, penghormatan salib tanpa memegang dan mencium salib, tablo jalan salib ditiadakan, prosesi Logu Sinhor di Kampung Sikka ditiadakan, dan pembaptisan katakumen tidak dilaksanakan pada Malam Paskah.

Dalam tradisi Logu Senhor ini, biasanya acara didatangi ribuan umat dari Keuskupan Maumere dan dari luar daerah serta wisatawan asing. Mereka menghadiri pelaksanaan Jumad Agung menyambut perayaan Paskah atau dikenal dengan Logu Senhor.

Prosesi Logu Senhor merupakan tradisi religi yang telah berjalan sejak abad ke 16 di Gereja tua Santo Ignatius Loyola Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Logu Senhor berarti berjalan di bawah usungan Salib Senhor sambil membawa lilin yang bernyala di tangan. Ribuan umat berjalan khusuk memanjatkan doa dan permohonan mengenang penderitaan hingga wafatnya Yesus Kristus.

 

2 dari 3 halaman

Sejarah Prosesi Logu Senhor

Logu Senhor
Umat berjalan menunduk dibawah salib Senhor ( Logu Senhor) yang disimpan didalam sebuah peti yang diusung oleh petugas. foto tahun 2019

Pada akhir abad ke XV sampai awal abad ke XVI wilayah Sikka dipimpin seorag tokoh yang bernama Moang Baga Ngang. Beliau mempunyai tiga orang putra yaitu Moang Lesu, Moang Korung dan Moang Keu.

Dari ketiga orang putra tersebut Moang Lesu lebih menonjol dalam hal wawasan. Ia lebih memahami kehidupan masyarakat di wilayah Sikka mulai dari kelahiran, kehidupan, penderitaan sampai dengan kematian, seperti yang diungkapkan dalam syair bahasa Sikka,

Niang ei Beta Mate Tanah ei Herong Potat Mate Due Rate Rua Potat Due Leda Telu. “Blutuk Niu Nurak di mate Blupur Odo Korak di potat Teri di mate era di potat”

Ia kemudian memikirkan dan mencari tempat di dunia ini yang tidak ada penderitaan dan kematian. Maka Moang Lesu lalu mengembara mencari tanah tersebut yang dalam bahasa Sikka berarti “Tanah Moret”.

Ia mengembara keluar dari kampung Sikka menuju wilayah utara dan tiba di wilayah Maumere tepatnya di pelabuhan Waidoko yang pada saat itu merupakan tempat persinggahan atau berlabuhan kapal- kapal dagang dari Bugis, Buton, Makasar, Bonerate dan juga kapal dagang Portugis dari tanah Malaka.

Di sana, ia bertemu dengan salah seorang anak buah kapal dagang Portugis yang bernama, Dzogo Worilla.

Moang Lesu lalu bertanya apakah di tanah mereka tidak ada kematian, namun jawaban dari Dzogo Worilla bahwa di dunia ini manusia yang lahir, hidup dan akan berakhir dengan kematian.

Tetapi untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti akan “Tanah Moret” tersebut, ia kemudian diajak untuk bersama-sama berlayar menuju ke tanah Malaka, karena di sana ia dijanjikan akan memperoleh penjelasan yang lebih pasti. Keinginan yang kuat untuk mencari “Tanah Moret”, Moang Lesu pun akhirnya berlayar bersama-sama menuju tanah Malaka.

Setibanya di sana Moang Lesu dipertemukan dengan Gubernur Tanah Malaka yang bernama Worilla dan beliau menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya yaitu mencari “Tanah Moret”.

Jawaban yang diperoleh ialah bahwa hanya ada kehidupan yang bahagia dan kekal setelah kematian di dunia ini, maka Moang Lesu harus mengikuti persyaratan-persyaratan yakni, membangun gereja dan mengikuti semua ajaran-ajaran gereja dan membangun irmida atau stasion perarakan.

Moang Lesu menyetujui persyaratan-persyaratan yang disampaikan dan slap untuk melaksanakannya. Selanjutnya beliau pun mengikuti pelajaran agarna Katolik, pelajaran ilmu politik dan pemerintahan selama kurang lebih 3 tahun.

Setelah itu beliau dibaptis dengan nama Don Alexius Ximenes da Silva dan dilantik menjadi raja Sikka oleh Gubernur Tana Malaka Worilla.

Ketika akan kembali ke Sikka, Moang Lesu menghadiakan kepada Gubernur Malaka sejumlah emas dan harum-haruman yang dalam Bahasa Sikka disebut “Ambar Menik” (muntahan ikan paus).

Sebaliknya Gubernur Malaka memberikan hadiah kepada Moang Lesu berupa, salib senhor, patung meninung (patung kanak-kanak Yesus sebagai Raja), Tugur Griang (panji yang bergambar orang kudus ujung bawahnya terbelah dua), Regalia kerajaan dan sejumlah besar hatang gading berukuran besar dan sedang.

Diperkirakan pada tahun 1608, Moang Lesu kembali dari tanah Malaka didampingi seorang guru agama yang berkebangsaan Portugis bernama, Agustinho Rossario Da Gama yang bergelar Moang Morenho.

Setibanya di kampung Sikka, Moang Agustin Rosario Da Gama menyelenggarakan upacara pengukuhan kembali Moang Lesu menjadi Raja Sikka.

Ia mulai mengajar iman katolik kepada keluarga raja serta semua warga masyarakat Sikka, sekaligus memimpin upacara upacara liturgi gereja termasuk upacara Liturgi prosesi Logu Senhor pada hari raya Jumat Agung yang dalam bahasa Sikka disebut “Sexta Fera”.

Logu Senhor berarti berjalan di bawah usungan Salib Senhor sambil membawa lilin yang bernyala di tangan seraya berdoa dalam hati sambil memanjatkan intensi atau permohonanan kepada Tuhan Yesus yang menderita dan wafat.

Salib Senhor merupakan suatu rahmat dan kekuatan dari Allah yang dapat menyembuhkan orang dari segala jenis penyakit yang sulit disembuhkan secara medis, seperti yang belum dikarunia keturunan bahkan juga membebaskan orang dari penderitaan apapun.

Para peserta prosesi Logu Senhor memberikan kesaksian iman bahwa dengan mengikuti upacara ini, Tuhan mengabulkan doa dan permohonan mereka.

Logu Senhor mengungkapkan pentingnya nilai Religius dalam kehidupan orang Sikka dan sekaligus menyadarkan orang akan kerapuhan hidup, yang hanya mendapatkan kekuatanya dalam kehidupan agama. Devosi ini juga berguna dalam melestarikan nilai-nilai agama katolik.

Sejak saat itu upacara Logu Senhor rutin dilaksanakan pada setiap hari raya Jumad Agung dibawah pimpinan Moang Agusthinho Rosario Da Gama.

Setelah kematian Moang Gama, upacara ini dipimpin oleh putranya yang benama Thomas Didimus Da Gama. Namun setelah beberapa tahun kemudian beliau pindah dari kampung Sikka dan berdiam di Maumere tepatnya di Waidoko. Meski demikian upacara Logu Senhor tetap diselenggarakan setiap tahun.

Pada pertengahan tahun 1800 datanglah Moang Nyong Bari Ende (Kampung Numba) yang beriman jatolik pemimpin suku Darabogar dan tinggal di Wisung Darapung.

Ia dipercayakan oleh Raja untuk memimpin acara jumad agung dan Logu Senhor dengan gelar Moang Mestry (Liturgi). Prosesi Logu Senhor ini sempat ditiadakan oleh para Imam Jesuit yang menjadi pastor di Paroki Sikka, tetapi selanjutnya dengan adanya kesepakatan dari umat dan disetujui oleh pastor paroki maka Devosi Logu Senhor ini kembali dilaksanakan pada setiap hari raya Jumad Agung (Sexta Fera).

Sementara ketua Panitia Logu Senhor Firminus Marianus ditemui Media Liputan6.com, Senin (23/3/2020) sore di Kabpung Sikka menyampaikan masalah Corona atau Covid 19 ini bukan masalh lokal lagi tatapi ini sudah menjadi masalah dunia, aturan ini sudah dibuat dari tingkat pusat sampai daerah.

"Dan dari Gereja sendiri Bapa Uskup sudah mengeluarkan seruan Pastoral maka dari segi aturan kita wajib mematuhi aturan tersebut," sebutnya.

Sebagai ketua panitia Logu Senhor tahun 2020, sebutnya tidak mau mengambil resiko dengan kondisi yang ada. Sehingga kita harus mendukung apa yang sudah diputuskan, baik itu keputusan dari pemerintah maupun keputusan Geraja.

"Sebagai ketua panitia Logu Senhor, kalau memamang dibatalkan kita akan ikuti aturan tersebut demi kebaikan kita bersama," ujarnya.

Dikonfirmasi soal tradisi Logu Senhor tersebut dibuat dalam bentuk seremonial dirinya mengakui belum ada keputusan, karena sesuai dengan pertimbangannya harus dilakukan pertemuan DPP terlebih dahulu baru diberikan keputusan.

"Sehingga secara langsung DPP merupakan keterwakilan dari umat, sehingga apa yang menjadi keputusan DPP akan diaampaikan ke umat, dan menurutnya keputusannya tetap dengan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan," sebutnya.

Memang sebagai umat di Paroki Sikka masih ada pro dan kontra tentang ritual agama Logu Senhor, walaupun pro dan kontra tersebut tidak bisa kita lihat secara langsung, memang dalam diskusi masih ada juga yang menginginkan kalau bisa dilaksanakan kita tetap laksanakan ritual Logu Senhor.

"Tetapi kita akan mengambil hal yang terbaik, jangan sampai tradisi yang sudah kita buat setiap tahun terbut akan membrikan dampak yang tidak baik bagi umat. Tradisi Logu Senhor akan kita laksanakan di tahun yang akan datang bila kondisi nya sudah aman," bebernya.

Sebagai ketua panitia Logu Senhor, dirinya menyampaikan tidak berani untuk melaksanakan tradisi Logu Senhor di tahun 2020 ini.

Untuk persiapan kepanitiaan Logu Senhor baru dari seksi adegan Jalan Salib yang sudah 2 minggu ini sudah menjalankan latihan peran adegan kisa sengsara Yesus dan dari keuangan baru mencapai 50%. Utuk upacara misa nya Jumad Agung akan tetap dilaksanakan sesuai dengan surat bapa Uskup.

Kita juga punya konsep saat Jumat Agung, walaupun tidak ada prosesi Jalan Salib tetapi kita akan mendesain satu tempat prosesi jalan Salib tersebut.

"Ini hanya satu ikon kecil dimana di depan gereja akan dibuat Golgota Yesus disalibkan sehingga dalam ujud jalan salib pada jumad agung yang merupakan gambaran kisa sengsara Yesus dapat kita ujut melalui Golgota dimana yesus disabkan karena dosa manusi," jelasnya.

Untuk tradisi Logu Senhor sendiri kita akan mengarak dari Kapela Senhor menuju ke dalam Gereja untuk upacara penyembahan tersebut dan dalam upacara penyembahan Salib Senhor sesuai dengan tradisi kita harus menyium Salib Senhor tatapi kali ini tidak ada tradisi cium salib Senhor dan Logu Sehor, ada hanya Salib Senhor diarak kedalam gereja dan umat tetap berada ditempat masing-masing dan berdoa dalam hati sesuai dwngan ujutnya masing-masing.

"Kalau kita melakukan perarakan dan cium salib akan memberikan resiko yamg sangat tinggi," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓