Cegah COVID-19, WHO Ganti 'Menjaga Jarak Sosial' jadi 'Menjaga Jarak Fisik'

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 24 Mar 2020, 10:21 WIB
Diperbarui 24 Mar 2020, 10:21 WIB
Penerapan Social Distancing di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Social distancing atau menjaga jarak sosial dinilai menjadi salah satu strategi terpenting dalam pencegahan infeksi virus corona atau COVID-19. Beberapa waktu yang lalu, para dari World Health Organization lebih memilih menggunakan istilah "physical distancing" atau "menjaga jarak fisik" ketimbang istilah sebelumnya.

"Kami mengganti untuk mengatakan 'jarak fisik' dan itu bertujuan karena kami ingin orang-orang tetap terhubung," kata ahli epidemiologi WHO, Dr. Maria Kerkhove seperti dikutip dari Channel News Asia pada Selasa (24/3/2020).

Kerkhove mengatakan, meskipun jarak terpisah, namun masyarakat tetap bisa terhubung satu sama lain dengan berbagai cara misalnya dengan internet dan media sosial. Menurutnya, ini adalah cara untuk tetap berkontak dengan orang lain dan menjaga kesehatan mental di tengah pandemi COVID-19.

"Temukan cara melalui internet dan berbagai media sosial untuk tetap terhubung karena kesehatan mental Anda dalam melewati (pandemi) ini, sama pentingnya dengan kesehatan fisik Anda," kata Kerkhove dalam konferensi persnya pada hari Jumat pekan lalu.

2 dari 4 halaman

Menjaga Jarak Fisik Menghindari Pembawa Virus

Berbagai Cara Warga Dunia Terapkan Social Distancing
Warga melakukan social distancing atau menjaga jarak saat akan memasuki apotek di Roma, Italia, Senin (16/3/2020). Social distancing adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran virus corona COVID-19. (AP Photo/Alessandra Tarantino)

Kerkhove mengatakan bahwa menjaga jarak fisik dari orang lain bisa mencegah virus menyebar atau menggunakan Anda sebagai pembawa penyakit dan membuatnya menular ke lebih banyak orang.

"Yang dilakukan dalam menjaga jarak fisik adalah, benar-benar memisahkan orang. Jadi pikirkan kelompok orang yang sama tetapi tersebar di wilayah geografis yang jauh lebih besar," katanya seperti dikutip dari CTV.

Dr. Michael Ryan dari WHO mengatakan bahwa ada banyak kasus penularan virus corona yang berasal dari orang yang tidak bergejala. Namun, bukan berarti mereka tidak terinfeksi.

"Anda membuat jarak fisik antar satu sama lain karena Anda tidak tahu persis siapa yang mungkin memiliki virusnya," kata Ryan.

3 dari 4 halaman

Bukan Cara Satu-Satunya Cegah Penyebaran

Tedros Adhanom Ghebreyesus (tengah), direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, berbicara pada konferensi pers tentang pembaruan COVID-19, di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss.
Tedros Adhanom Ghebreyesus (tengah), direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, berbicara pada konferensi pers tentang pembaruan COVID-19, di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss.(Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)

Walaupun begitu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanmon Ghebereyesus menegaskan pembatasan jarak fisik saja tidak cukup untuk benar-benar menghentikan penyebarannya.

"Meminta warga untuk tinggal di rumah dan langkah-langkah pembatasan jarak fisik lainnya penting untuk memperlambat penyebaran virus dan menambah waktu, tetapi mereka adalah tindakan defensif yang tidak akan membantu kita untuk menang," kata Tedros dalam konferensi persnya pada Senin seperti dikutip dari New York Post.

Tedros menegaskan, setiap negara juga perlu menerapkan strategi seperti isolasi dan merawat kasus yang dikonfirmasi, serta melacak dan mengkarantina semua kontak dekat pasien.

"Untuk menang, kita perlu menyerang virus dengan taktik agresif dan bertarget," kata Tedros.

4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓