WHO Tegaskan Kaum Muda Tak Kebal dari COVID-19

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 24 Mar 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 24 Mar 2020, 08:27 WIB
Tedros Adhanom Ghebreyesus (tengah), direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, berbicara pada konferensi pers tentang pembaruan COVID-19, di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss.

Liputan6.com, Jakarta Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan bahwa kaum muda tidak kebal dari infeksi virus Corona penyebab COVID-19.

Hal tersebut mengingat kebanyakan peringatan lebih berfokus pada perlindungan kelompok yang rentan seperti lansia dan mereka yang memiliki masalah kesehatan bawaan.

"Meskipun orang yang lebih tua adalah yang paling terdampak, orang yang lebih muda juga tidak diselamatkan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip dari Business Insiders Singapore pada Senin (23/2/2020).

Dia menambahkan, saat ini terlihat ada penambahan kasus COVID-19 secara signifikan pada orang-orang berusia di bawah 50 tahun.

"Anda tidak kebal. Virus ini membuat Anda masuk rumah sakit selama berminggu-minggu atau bahkan membunuh Anda," kata Tedros dalam konferensi persnya beberapa waktu lalu.

2 dari 3 halaman

Berkaca dari Kaum Muda di Italia

Dedikasi Tenaga Medis Perangi Corona di Italia
Perawat dengan alat pelindung diri saling berpelukan di rumah sakit Cremona, tenggara Milan, Lombardy pada 13 Maret 2020. Jumlah kematian akibat Covid-19 di Italia sekarang yang tertinggi di dunia, menyalip China tempat wabah ini pertama kali. (Paolo MIRANDA/AFP)

Dr. Antonio Pesenti, kepala unit perawatan krisis intensif di Lombardy, Italia, tempat COVID-19 paling mewabah di Eropa mengatakan, banyak kelompok usia muda yang dirawat di rumah sakit dengan gejala parah.

"Sebanyak 50 persen pasien di unit perawatan intensif kami, yang merupakan pasien terparah, berusia di atas 65 tahun. Namun, itu berarti bahwa 50 persen dari pasien kami, lebih muda di bawah 65," kata Pesenti seperti dikutip dari Sky News.

Dia menambahkan, dalam perawatan, banyak pasien berusia 20 atau 30-an tahun. Beberapa juga mengalami gejala parah seperti lansia.

Pesenti mengungkapkan, alasan Italia memiliki angka kematian yang tinggi adalah karena tingginya populasi lansia. Namun, bukan berarti kelompok usia muda juga tidak akan terkena COVID-19 atau hanya mengalami gejala ringan.

Di Italia, hampir seperempat dari sekitar 28 ribu pasien COVID-19 berusia antara 19 sampai 50 tahun.

Tedros juga mengatakan bahwa meski seseorang tidak sakit, seseorang juga bisa berkontribusi pada kehidupan orang lain.

"Pilihan yang Anda ambil tentang ke mana Anda pergi bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati untuk orang lain," ujarnya. Selain itu, Tedros juga berterima kasih pada kaum muda yang menyebarkan kewaspadaan, bukan virusnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓