Balita 18 Bulan di Hong Kong Dinyatakan Positif COVID-19

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 14 Mar 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 14 Mar 2020, 09:00 WIB
Ilustrasi bayi.
Perbesar
Ilustrasi bayi. (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Seorang anak 18 bulan di Hong Kong dinyatakan positif terjangkit virus corona penyebab COVID-19. Dia dilaporkan sebagai pasien termuda di wilayah tersebut.

South China Morning Post, dikutip 13/3/2020), melaporkan bahwa orangtua balita ini sempat dikonfirmasi positif COVID-19 usai kembali dari London dengan penerbangan Cathay Pacific pada 29 Februari.

Anak ini dirawat di Princess Hospital di Kwai Chung pada hari Kamis, sehari setelah ayahnya dirawat di fasilitas kesehatan yang sama. Balita ini dikabarkan mengalami gejala pilek.

Dr. Chuang Shuk-kwan dari Centre for Health Protection mengatakan bahwa umumnya, anak-anak dan remaja hanya akan mengalami gejala ringan meski mereka terinfeksi.

"Apabila bayi dikonfirmasi, saya pikir gejalanya akan terus menjadi ringan," kata Shuk-kwan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Anak-Anak Tetap Bisa Terinfeksi

20160311-Ilustrasi Bayi-istock
Perbesar
Ilustrasi Bayi (iStockphoto)

Sebuah studi yang dilakukan pada para pasien COVID-19 di Shenzhen, Tiongkok dan dimuat di MerRxiv pada 4 Maret lalu menyatakan bahwa anak-anak tetap bisa terkena COVID-19. Namun, mereka kemungkinan lebih terhindar dari penyakit serius akibat kondisi tersebut.

Mengutip Live Science, para ilmuwan dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health dan Shenzhen Center for Disease Control and Prevention menemukan bahwa hal ini kemungkinan karena anak-anak memiliki paru-paru yang lebih sehat daripada orang dewasa. Hal ini dikarenakan mereka tidak terpapar rokok dan lebih sedikit terkena polusi.

Selain itu, orang dewasa juga lebih berpotensi mengalami proses pertahanan tubuh yang lebih berbahaya terhadap penyakit pernapasan, dibandingkan anak-anak.

Namun, belum diketahui seberapa siap anak-anak dengan gejala yang relatif ringan, akan menyebarkan penyakit tersebut pada orang lain.

"Ini adalah salah satu pertanyaan penting yang tersisa sekarang dan kami sedang berusaha mencari cara untuk menjawab itu," kata seorang penulis studi, Justin Lessler, ahli epidemiologi penyakit menular dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓