Ilmuwan Klaim Vaksin Corona Tersedia dalam 90 Hari

Oleh Melly Febrida pada 02 Mar 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 02 Mar 2020, 09:00 WIB
20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta Para ilmuwan dunia kini tengah berjuang mengembangkan vaksin Virus Corona, termasuk di Israel. Bahkan sebuah kelompok peneliti mengatakan bahwa vaksin tersebut akan rampung dalam tiga minggu dan siap digunakan dalam 90 hari.

Para ilmuwan di Galilee Research Institute, yang dikenal sebagai MIGAL, sedang mencoba vaksin virus bronchitis menular avian coronavirus, atau IBV, untuk bereaksi menghambat coronavirus baru yang dikenal sebagai COVID-19, seperti dilaporkan Jerusalem Post.

“Selamat kepada MIGAL atas terobosan yang menarik ini. Saya yakin akan ada kemajuan lebih lanjut yang cepat, memungkinkan kami untuk memberikan tanggapan yang diperlukan terhadap ancaman global COVID-19, ” kata Ofir Akunis, Menteri Sains dan Teknologi Israel.

Akunis mengatakan dia telah menginstruksikan direktur jenderal kementeriannya untuk mempercepat semua proses persetujuan. Karena menurutnya vaksin oral harus melalui proses regulasi, termasuk uji klinis.

MIGAL, lembaga penelitian independen, yang berspesialisasi dalam bidang bioteknologi, ilmu lingkungan dan pertanian, mengatakan di situsnya bahwa timnya melibatkan 80 PhD dan total 260 peneliti di 53 laboratorium.

Vaksinnya untuk mengatasi IBV atau penyakit bronkial yang menginfeksi unggas telah lolos uji dalam uji praklinis di Institute di Institut Kedokteran Hewan Israel

"Konsep dasar kami adalah mengembangkan teknologi dan tidak secara khusus vaksin untuk jenis virus ini," kata Dr. Chen Katz, ketua kelompok bioteknologi MIGAL.

Katz menjelaskan para peneliti menemukan bahwa coronavirus pada unggas sangat mirip secara genetik dengan yang menginfeksi manusia - dan ia menggunakan metode infeksi yang sama.

"Yang perlu kita lakukan adalah menyesuaikan sistem dengan urutan baru. Kami berada di tengah-tengah proses ini, dan mudah-mudahan dalam beberapa minggu kami akan memiliki vaksin di tangan kami. Ya, dalam beberapa minggu, jika semuanya berhasil, kami akan memiliki vaksin untuk mencegah coronavirus,” kata Katz.

CEO MIGAL David Zigdon mengatakan vaksin itu bisa mencapai persetujuan keselamatan dalam 90 hari mengutip NYPost.

"Mengingat kebutuhan global yang mendesak akan vaksin Virus Corona pada manusia, kami melakukan segala yang kami bisa untuk mempercepat pengembangan," tambahnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Vaksin Virus Corona dari Moderna

Di AS, pembuat obat Moderna yang berbasis di Massachusetts telah mengirim batch pertama vaksin eksperimental - disebut mRNA-1273 - ke National Institute of Allergy and Infectious Diseases untuk pengujian hanya enam minggu setelah mulai bekerja.

Perusahaan biotek di Cambridge mengatakan botol pertama dari produk eksperimental akan digunakan dalam studi Tahap 1 yang direncanakan, yang melibatkan pengujian pada sejumlah kecil orang sehat.

Direktur NIAID Anthony Fauci mengatakan kepada CNN bahwa uji klinis dapat dimulai pada akhir April, tetapi proses pengujian dan persetujuan peraturan akan berlangsung setidaknya satu tahun.

Dia mengatakan minggu ini bahwa proses persetujuan dapat dipercepat setelah percobaan Fase 1 yang berhasil, tetapi bahkan ketika berjalan dengan kecepatan sangat tinggi, vaksin tidak akan siap untuk digunakan setidaknya satu tahun atau 18 bulan.

3 dari 3 halaman

Vaksin Virus Corona dari Baylor College

Di Texas, sementara itu, para ilmuwan di Baylor College of Medicine di Houston yang mengerjakan vaksin SARS beberapa tahun lalu juga membuat vaksin untuk Virus Corona baru atau COVID-19.

“Kita tahu bahwa virus itu 80 persen mirip dengan virus SARS-CoV-2 saat ini yang menyebabkan COVID-19, tetapi pada saat yang sama, kami juga merekayasa vaksin yang berpotensi baru yang akan jauh lebih spesifik terhadap COVID-19,” kata Maria Bottazzi dari Pusat Pengembangan Vaksin di Baylor mengatakan kepada ABC 13.

Kathryn Stephenson, seorang profesor sekolah Kedokteran Harvard dan kepala unit uji klinis untuk Pusat Penelitian Virologi dan Vaksin di Pusat Medis Beth Israel Deaconess, mengatakan kepada Boston Globe bahwa vaksin harus menjalani pengujian ekstensif dengan kelompok orang yang semakin besar.

"Anda dapat membuat vaksin, tetapi Anda tidak akan memasukkannya ke dalam manusia sampai Anda cukup percaya diri dengan produk Anda," kata Stephenson, yang pusatnya juga mengerjakan vaksin coronavirus.

Perusahaan lain yang terburu-buru mengembangkan vaksin termasuk Inovio, GlaxoSmithKline, Sanofi dan Johnson & Johnson.

Sementara itu, perusahaan Israel BATM mengatakan pada Kamis bahwa mereka telah mengembangkan kit diagnostik cepat untuk menguji virus corona - dan bahwa produksi sedang berlangsung di sebuah fasilitas di Roma yang dimiliki oleh Adaltis, yang memproduksi perangkat pengujian medis.

 

Lanjutkan Membaca ↓