Tengkorak Kepala Bayi Aneh, Ibu Ini Ungkap Kisah Nyata Humpty Dumpty

Oleh Fitri Syarifah pada 21 Feb 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 21 Feb 2020, 16:00 WIB
P3K Anak: Tindakan Pertama Pada Anak Kejang Demam

Liputan6.com, Jakarta Seorang ibu di Inggris menceritakan kondisi anaknya yang mengalami penyakit langka. Ronnie Jebbitt (sekarang berusia 20 bulan), terlahir dengan craniosynostosis, kecacatan lahir yang menyebabkan satu atau lebih cranial suture atau jaringan sutura pada kranium (jaringan sendi di antara tulang tengkorak) pada bayi menutup atau menyatu sebelum waktunya.

Ibu Ronnie, Harriet Alcock (26 tahun) menyebut kondisi anaknya ini seperti 'Humpty Dumpty' dalam dunia nyata.

"Anak saya sehat-sehat saja sejak baru lahir. Ia tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Tapi pada Agustus 2018, saat usia Ronnie sekitar 6 bulan saat itu, Ronnie mengalami kejang sehingga saya membawanya ke rumah sakit di Oxford," katanya, seperti dikutip Foxnews

Menurut Alcock, Ronnie gemetaran. "Kejadiannya berlangsung sekitar 30 detik, benar-benar tiba-tiba dan menakutkan,” kenangnya.

Awalnya, dokter berjuang untuk menemukan penyebab kejang-merujuk pada penyakit gastroesophageal reflux (GERD), yang kadang-kadang bisa mirip kejang epilepsi, menurut sebuah studi 2015.

Setelah itu, Alcock memeriksakan putranya ke berbagai dokter. Sejak awal kejang, putranya mengalami kurang lebih 7 kali kejang di waktu yang berbeda-beda.

Akhirnya, setelah Ronnie berusia 1 tahun, ia didiagnosis gejala craniosyntosis dengan kondisi yang cukup serius, berdasarkan hasil pemeriksaan Children National.

Peter Sun,MD,-direktur medis bedah saraf- menjelaskan tengkorak bayi biasanya terdiri dari beberapa tulang besar yang dihubungkan oleh struktur fleksibel yang disebut sutura. Jahitan fleksibel ini memungkinkan kepala dan otak tumbuh. Namun pada kondisi Craniosynostosis, jahitan ini hilang atau menutup terlalu cepat. Itu menyebabkan bentuk kepala yang cacat dan dapat mencegah otak memiliki cukup ruang untuk tumbuh.

"Sutura utama tengkorak adalah sagital, metopik, koronal, dan lamboid. Jenis craniosyntosis tergantung pada sutura mana yang tertutup," ungkapnya.

 

2 dari 2 halaman

Gejala umum cranyosyntosis

Bayi Isap Jempol Tak Masalah, Asalkan...
Mengisap jempol bisa buat bayi kembali tidur nyenyak di dini hari. (Foto: drgreene.com))

Adapun gejala umum cranyosyntosis, dilansir dari MedicalNewsToday adalah:

- bentuk tengkorak yang terdistorsi

- Titik lunak tengkorak bayi menyatu sebelum waktunya

- menghilangnya fontanel lebih awal

- pertumbuhan kepala lebih lambat dibandingkan dengan tubuh

- benjolan keras sepanjang cranial suture (tergantung pada jenis craniosynostosis)

Bayi yang baru lahir mungkin tidak memiliki tanda atau gejala, tetapi kondisinya mungkin terlihat selama bulan-bulan pertama kehidupan.

Seorang dokter anak akan mengukur kepala bayi dan memantau pertumbuhan mereka di setiap kunjungan selama tahun pertama kehidupan. Mereka melakukan ini untuk mengetahui dan memastikan diagnosis.

Keputusan operasi

Juli lalu, Ronnie akhirnya menjalani operasi untuk memisahkan cranial suture, lalu menyatukannya kembali.

Alcock merasa lega dokter menemukan diagnosisnya, tapi juga merasa mengerikan memikirkan putranya yang menjalani operasi (membayangkan dokter harus membelah tulang tengkorak putranya dan menyatukannya kembali).

Alcock sempat terkejut melihat anaknya yang memiliki luka jahitan zig-zag sangat banyak di kepalanya, namun ia merasa lega karena anaknya mampu bertahan. "Ia bahkan terbangun, berjalan dan bergumam, tiga hari setelah operasi," tutur Alcock.

Ini juga menjelaskan keadaan anaknya yang baik-baik saja sekarang. Ia memahami pentingnya meningkatkan kesadaran mengenai kondisi langka sejak bekerja, dan ia berharap ceritanya mampu membantu orang-orang.

Perlu diketahui, jika craniosyntosis tidak segera ditangani maka bisa mengakibatkan kelainan bentuk kepala dan wajah secara permanen serta psikologis anak terganggu karena menurunkan kepercayaan dirinya. Selain itu perkembangan anak akan terhambat, mengalami gangguan kognitif, lesu, kebutaan, gangguan pergerakan mata, kejang, atau bahkan meninggal (walaupun jarang terjadi).

Adapun wanita hamil yang berisiko melahirkan anak dengan craniosyntosis, yaitu jika memiliki penyakit tiroid atau menjalani pengobatan tiroid selama hamil dan pengguna obat kesuburan, clomiphene citrate sebelum hamil atau di awal kehamilan.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait