WHO Sebut 80 Persen Pasien COVID-19 Terkena Penyakit Ringan

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 18 Feb 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 18 Feb 2020, 14:00 WIB
Petugas medis memeriksa kondisi pasien kritis virus corona atau COVID-19 di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (13/2/2020).
Perbesar
Petugas medis memeriksa kondisi pasien kritis virus corona atau COVID-19 di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (13/2/2020). (Chinatopix Via AP)

Liputan6.com, Jakarta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sebagian besar kasus COVID-19 memiliki gejala yang ringan. Mereka menegaskan bahwa infeksi virus corona baru ini tidak lebih mematikan dari SARS dan MERS.

"Lebih dari 80 persen pasien memiliki penyakit ringan dan akan pulih," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, seperti dikutip dari The Guardian pada Selasa (18/2/2020).

Tedros mengungkapkan, penyakit lain terkait COVID-19 yang muncul adalah penyakit parah seperti pneumonia dan sesak napas (14 persen), penyakit kritis termasuk gagal napas, syok septik, dan kegagalan multi-organ (5 persen), serta dua persen adalah kasus fatal.

"Risiko kematian meningkat semakin tua Anda," kata Tedros.

Hasil tersebut diungkap berdasarkan analisis data yang didapatkan otoritas Tiongkok dari 44 ribu kasus COVID-19 di provinsi Hubei, tempat infeksi virus corona pertama kali dicatat.

2 dari 3 halaman

COVID-19 Pada Anak Berbeda

Mengintip Penanganan Pasien Kritis Virus Corona
Perbesar
Dokter memeriksa kondisi pasien kritis virus corona atau COVID-19 di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (13/2/2020). China melaporkan 254 kematian baru dan lonjakan kasus virus corona sebanyak 15.152. (Chinatopix Via AP)

Walaupun begitu, WHO menyatakan bahwa anak-anak tidak mengalami COVID-19 seperti orang dewasa mengalaminya. Mereka menyatakan masih melakukan penelitian lebih dalam soal hal ini.

"Fakta bahwa ada begitu banyak kasus ringan adalah ciri khas nyata dari penyakit ini dan membuatnya sangat berbeda dari SARS," kata Jennifer Nuzzo, ahli epidemiologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health's Center for Health Security.

Beberapa ahli berspekulasi bahwa mereka yang berusia lanjut dengan kondisi penyakit jantung atau diabetes, kemungkinan akan terkena COVID-19 lebih parah. Hal ini karena merekalah yang mendominasi pasien meninggal dunia.

"Bisa jadi beberapa orang memilik respon kekebalan yang mengakibatkan penyakit parah dan beberapa orang tidak," kata Nuzzo seperti dikutip dari The Washington Post.

3 dari 3 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓