Agar Milenial Tetap Sehat di Tengah Gempuran Jajanan Kekinian

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 04 Feb 2020, 08:00 WIB
Diperbarui 04 Feb 2020, 08:24 WIB
Boba

Liputan6.com, Jakarta Demi mencicipi jajanan kekinian, antrean panjang mengular terlihat di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Sebagian besar yang mengantre kawula remaja milenial. Antrean pun menarik perhatian pengunjung lain. Terpampang nama kedai minuman boba dalam bahasa Taiwan.

Tak jauh di sebelahnya, camilan ringan yang juga dari Taiwan ikut diminati pengunjung. Silih-berganti pengunjung, dari anak-anak sampai remaja membeli camilan khas ayam tepung yang berbumbu pedas-manis. Sesekali ada bocah menarik tangan orangtuanya menuju kedai camilan tersebut. Bermaksud ingin membelinya.

Fenomena di atas termasuk pemandangan jajanan kekinian kian menjamur. Tak heran, anak-anak dan remaja milenial timbul rasa penasaran untuk mencobanya.  Kedai minuman dan makanan yang baru muncul menjadi sasaran manis.

Namun, kandungan gula yang tinggi, perasa, dan bahan pengawet yang terkandung dalam jajanan kekinian diam-diam bisa menimbulkan penyakit tidak menular (PTM). Sebut saja hipertensi dan diabetes. Oleh karena itu, milenial harus pandai mengatur makanan dan minuman agar gizi yang diperoleh seimbang.

“Bukan enggak boleh makan jajanan kekinian. Milenial, yang saya baca, memang punya sifat suka mencari hal baru dan suka explore (eksplorasi). Dengan gawai, mereka berselancar mencari jajanan apa saja yang lagi nge-tren sekarang,” tutur ahli gizi Siti Dharma Azizah melalui siaran Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, ditulis Minggu (2/2/2020).

“Jadinya ya sasaran kuliner asik. Walaupun begitu, milenial perlu melihat kecocokan apa yang dimakan. Contohnya, makan spageti tapi disertai dengan salad. Atau kalau mau makan satu burger dilengkapi seporsi buah. Yang penting harus seimbang makannya.”

2 dari 5 halaman

Pola Makan Seimbang

Sarapan Pagi Breakfast
Pola makan seimbang untuk milenial. Ilustrasi Foto Sarapan (iStockphoto)

Pola makan seimbang seiring tren jajanan perlu diketahui milenial. Generasi milenial sekarang dipersiapkan menuju Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dengan fisik kuat ditunjang makanan bergizi. Gizi anak remaja milenial dipenuhi mulai usia 15-30 tahun. Makanan utama harus sesuai kebutuhan. Misal, anak remaja usia 10-18 tahun, kebutuhan kalori antara 2.000-4.000 kalori.

“Zaman sekarang remaja (perempuan) kelihatan (badan) pengen seperti boneka barbie. Akhirnya, makan tidak sesuai kebutuhan. Padahal, gizi baik untuk pertumbuhan tulang dan kalsium. Kalau enggak mau makan nasi bisa diganti karbohidrat lain (gandum, kentang, ubi),” Siti menerangkan. 

“Makanan bersumber karbohidrat, protein, dan lemak dalam jumlah cukup. Bisa juga cari (jajanan) yang aman dan terhindar dari pengawet.”

Untuk kebutuhan karbohidrat diperhitungkan. Jika sehari kebutuhannya 2.100 kalori, maka milenial boleh saja makan pizza 300 kalori atau burger 500 kalori. Kalori tersebut sudah cukup setara porsi makan siang ditambah minuman satu gelas boba, yang mengandung hampir 200-an kalori. 

Di sisi lain, minuman boba, lanjut Siti, mengandung banyak gula tambahan. Ia menyarankan lebih baik mengganti boba dengan susu. Ini karena remaja milenial masih tahap perkembangan. Mereka juga butuh serat (sayuran), tak masalah ditambah lauk nasi dan ayam tepung. 

“Remaja kan cenderung konsumsi fast food (makanan cepat saji) yang mengandung tinggi natrium dan gula. Dampak ke depan kalau terlalu banyak fast food berujung PTM. Makannya tetap gizi seimbang. Sarapan itu cukup 400 kalori, dengan nasi uduk atau nasi biasa, lauk satu ayam, tahu/tempe goreng, dan susu.”

3 dari 5 halaman

Perhatikan Kalori dan Baca Label

Ilustrasi makanan rendah kalori
Tak lupa perhatikan kalori. Ilustrasi makanan rendah kalori (sumber: iStockphoto)

Agar milenial tetap seimbang gizi, kesadaran memahami kecukupan kalori dan membaca label kemasan makanan dapat dibangun. Siti mencontohkan, lebih sering melihat kandungan kalori. Misal, makan satu porsi makanan ternyata mengandung 900 kalori. Ukuran yang tinggi bila kebutuhan kalori sehari 2.100 kalori.

“Belum makan siang, malam atau mengemil. Apalagi makanan yang tinggi kalori, seperti kue-kue manis. Milenial mungkin bisa mencicipinya sedikit atau separuh saja,” jelas Siti, yang berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta.

Berkat membaca label kemasan, remaja bisa melihat kebutuhan kalori dalam satu porsi makanan. Perhitungan prakiraan kalori dapat dicoba. Pola makan nasi ditambah sayuran dan lauk sudah mengandung 500-600 kalori. Ingin makan burger double, kandungannya 900 kalori.

“Boleh makan burger double, asal cukup makan separuh saja. Jangan lupa ditambah makan buah. Untuk makan siang, bakso dan siomay, boleh. Kemudian camilan cilok dan cimol bisa diganti seporsi buah. Adanya keseimbangan ini mencegah terjadinya malnutrisi dan gizi kurang,” Siti melanjutkan.

Selain itu, kebutuhan gizi seimbang dapat menyesuaikan dengan tubuh seseorang. Kalau milenial termasuk bertubuh kurus, baiknya untuk camilan makan sandwich dan telur. Hindari hanya sekadar makan buah karena buah 40 kalori.

Tak lupa, mengkombinasikan gizi seimbang dengan aktivitas fisik. Sekarang ini aplikasi pesan antar makan dapat memanjakan milenial. Mereka pun tinggal meng-klik layanan pesan antar makanan, lalu menunggu makanan datang. Aktivitas fisik jadi kurang sehingga menumpuk jadi obesitas.

4 dari 5 halaman

Bawa Bekal dan Dorong Menyukai Sayur Buah

bekal sekolah
Bawa bekal bisa jadi ide menyenangkan. Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Membawa bekal dari rumah merupakan solusi mendapatkan makanan sehat dan seimbang. Upaya ini bisa mengurangi kebergantungan terhadap jajanan kekinian. Kebersihan makanan dapat terjaga ketimbang jajan di luar.

Dari pengalaman seorang ibu—yang tak disebut namanya—punya anak remaja 16 tahun yang suka jajan, lantas bagaimana mengedukasi konsumsi makanan seimbang?

“Remaja yang senang jajan sebaiknya tetap didorong bagaimana dia suka konsumsi sayur dan buah. Ibu bisa mengajak anaknya hari Sabtu-Minggu memasak bareng. Supaya anak remaja suka, bisa bikin puding buah dan sayur,” Siti menyarankan.

“Sayuran, seperti bayam boleh dimasukkan ke dalam macaroni. Makanan ini kan pasti anak suka ya jadi bisa disisipkan sayuran. Perlahan-lahan, kombinasikan makanan yang disenangi anak milenial sekarang (pasta, pizza) dengan sayuran.”

Pola makan sehat dimulai dari diri sendiri. Milenial bisa membawa bekal roti bakar yang diisi sayuran dan telur dadar. Salad buah dan sayur ikut menjadi pilihan bekal menarik. Bagaimana seandainya membawa bekal malah dibully karena dianggap ketinggalan jaman atau aneh?

Dibully karena membawa bekal. Jangan cemas, nanti teman-teman juga banyak melihat, bekalnya sehat ya. Itu sebagai bentuk edukasi kepada teman-teman lain,” tutup Siti.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓
Album 'CYAN' Kang Daniel Sukses Rajai iTunes