Pasien Alami Gejala Virus Corona Wuhan, Apa Terapi yang Tepat?

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 31 Jan 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 31 Jan 2020, 09:00 WIB
Ruang isolasi yang disiapkan pihak RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara untuk pasien virus Corona, Rabu (29/1/2020).(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)
Perbesar
Ruang isolasi yang disiapkan pihak RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara untuk pasien virus Corona, Rabu (29/1/2020).(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Liputan6.com, Jakarta Pasien yang mengalami gejala virus corona Wuhan berupa demam, lemas, batuk, dan sesak atau kesulitan bernapas dapat ditangani dengan terapi.

Sebelum diterapi, pasien diminta melakukan foto toraks. Kegunaannya untuk mengetahui kondisi organ dalam dada seperti paru-paru. Pasalnya,  virus yang dikenal dengan sebutan 2019-nCoV merupakan virus yang menyebabkan pneumonia.

Dokter spesialis paru RS Awal Bros Bekasi Timur, Annisa Sutera Insani menyampaikan, jika hasil foto toraks sesuai gambaran pneumonia dan ada kriteria suspect (terduga), maka dilakukan uji diagnostik melalui swab tenggorokan atau pemeriksaan dahak.

“Jadi, sebaiknya pasien yang mengalami gejala virus corona jenis terbaru ini sebaiknya dirujuk ke rumah sakit rujukan. Jika tidak bisa dirujuk, segera kunjungi rumah sakit lainnya. Pasien baiknya harus dirawat di ruang isolasi dan lakukan foto toraks berkala," jelas Annisa melalui keterangan tertulis kepada Health Liputan6.com, ditulis Kamis (30/1/2020).

Jenis terapi yang bisa diberikan kepada pasien dengan gejala virus corona, yaitu terapi simptomatik (terapi yang dilakukan berdasarkan gejala yang dialami), terapi cairan, dan ventilator mekanik (bila terjadi gagal pernafasan). Terapi cairan merupakan pemberian cairan dan obat melalui pembuluh darah.

Terapi ventilator mekanik merupakan pemasangan alat bantu pernapasan yang menghasilkan aliran udara terkontrol pada jalan napas pasien sehingga mampu mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam jangka waktu lama.

"Jika gejala virus corona yang dialami disertai infeksi bakteri, maka pasien dapat diberikan antibiotik,” lanjut Annisa.

 

2 dari 3 halaman

Indikasi Medis jika Masuk Kategori Suspect

RSHS
Perbesar
Petugas ruangan isolasi penyakit infeksi menular khusus tengah mengecek peralatan pelindung untuk mengantisipasi adanya pasien terpapar virus corona ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jumat, 24 Januari 2020. (Foto: Liputan6.com/Arie Nugraha).

Adapun indikasi-indikasi medis jika seseorang masuk kategori suspect virus corona, terutama bila pasien punya riwayat perjalanan ke Wuhan, Tiongkok selama 14 hari terakhir atau pasien itu petugas kesehatan yang merawat pasien infeksi akut respirasi yang berat.

"Selain itu, pasien yang punya kontak erat dengan pasien probable case 2019-nCoV selama 14 hari terakhir, berkunjung ke pasar hewan hidup di Wuhan. Pengunjung dan petugas kesehatan di rumah sakit yang dilaporkan menangani kasus 2019-nCoV bisa juga masuk kategori suspect bila alami gejala virus corona," Annisa menegaskan.

Selain itu, perlu diwaspadai jika pasien juga menunjukkan kondisi yang lebih berat. Orang lanjut usia (lansia) atau punya riwayat penyakit lainnya, seperti diabetes dan hipertensi berisiko lebih tinggi memperberat kondisi gejala 2019-nCoV.

"Dampak terburuk yang dapat terjadi akibat dari virus corona Wuhan ini, yakni infeksi berat (sepsis), kondisi shock, gagal pernapasan, yang berujung pasien meninggal dunia," lanjut Annisa.

 

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓