Lakukan 8 Langkah Ini untuk Bantu Anak Menghadapi Bullying

Oleh Liputan6com pada 31 Jan 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 31 Jan 2020, 13:00 WIB
Bullying Penindasan dan Kekerasan
Perbesar
Ilustrasi Foto Bullying (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Sebuah aksi perundungan merupakan suatu aksi yang ditakuti oleh para orangtua apabila anaknya menjadi korban ataupun pelaku.

Tidak semua perilaku jahat atau menyakitkan itu sebenarnya dikatakan perundungan. Itu bergantung pada ketidakseimbangan kekuatan untuk melukai seseorang dengan cara yang berulang dan disengaja, dilansir dari Today pada Kamis (30/1/2020).

Kekuatan itu dapat berupa status sosial, kekuatan fisik, atau akses ke informasi yang memalukan dan tujuannya selalu sama, yaitu membuat orang yang dirundung merasa dipermalukan dan tidak lebih dari pelaku.

Sebuah survei terbatas di Today, 86 persen dari 1.643 orangtua mengatakan anak mereka telah diintimidasi atau dirundung. Hanya 46 persen yang menganggap sekolah anak-anak mereka menganggap serius aksi perundungan dan 61 persen mengatakan anak mereka khawatir akan perundungan.

"Semua ini sangat sulit bagi orang tua untuk mengawasinya," kata profesor psikiatri di New York, Gail Saltz.

Lalu, kapan orangtua harus masuk menanganinya dan kapan harus menahan diri?

Inilah tindakan yang harus dilakukan dan tidak dilakukan orangtua ketika anak menghadapi perundungan.

2 dari 6 halaman

1. Hubungi pihak berwenang

Bullying Penindasan dan Kekerasan
Perbesar
Ilustrasi Foto Bullying (iStockphoto)

Apabila hal itu terjadi pada anak, hubungi pihak berwenang segera.

Terlebih lagi, jika ada situasi yang lebih buruk terjadi, seperti pelecehan seksual, cedera fisik, melibatkan senjata, atau kekerasan yang didorong oleh kebencian terkait rasisme dan diskriminasi agama. 

2. Kumpulkan informasi dan jangan panik

Memang sulit untuk tetap tenang ketika anak telah dirundung, terutama ada yang terluka, tetapi tetaplah tenang.

"Sayangnya, ketika anak yang ingin bercerita tentang perundungan ke orangtua mereka malah disambut dengan kepanikan yang membuat anak menjadi berpikir tidak seharusnya ia bercerita dan lebih baik diam," ucap profesor kriminologi di Florida Atlantic University, Sameer Hinduja.

Ia menambahkan untuk penting sebagai orangtua mengajak duduk dan mengobrol dengan tenang. Pahami konteksnya dan pelajari siapa yang terlibat.

3 dari 6 halaman

3. Pahami apa yang diharapkan

Bullying Penindasan dan Kekerasan
Perbesar
Ilustrasi Foto Bullying (iStockphoto)

Di sekolah dasar, anak-anak dapat menghadapi pengihnaan yang menyakitkan. Ketika beranjak remaja, mereka lebih mengerti teknologi dan perundungan yang mereka alami lebih canggih dan ganas. Disebut juga dengan cyberbullying.

Cyberbullying dapat membuat anak yang bahagia merasa seolah-olah hidupnya hancur.

4. Berikan tanggapan langsung

Berikan tanggapan untuk membantu anak mencari tahu bagaimana ia bisa mengatasi situasi itu tanpa keterlibatan orangtua.Lakukan diskusi dan beberapa ide untuk respon dan pendekatan yang cepat juga sederhana. 

"Banyak orangtua ingin masuk dan menyelamatkan langsung. Namun, anak-anak memiliki keterampilan sosial dan emosional yang mereka butuhkan untuk membangun diri mereka sendiri," ujar Hinduja.

4 dari 6 halaman

5. Beritahu jika teman bisa membantu

Ilustrasi teman - sahabat - rekan kerja (iStock)
Perbesar
Ilustrasi teman - sahabat - rekan kerja (iStockphoto)

Ketika melakukan diskusi, tekankan juga pentingnya membangun jaringan pertemanan.

"Anak perlu memahami bahwa penting untuk tetap bersosial agar tidak membiarkan budaya perundungan terjadi di lingkungannya," kata Saltz.

6. Tanda-tanda peringatan bahwa anak butuh bantuan orangtua

Jika anak telah mencoba mengahadapi sendirian dan itu tidak membaik, saatnya orangtua turut serta mengambil tindakan. Ini terutama jika anak sudah tidak ingin pergi ke sekolah atau ke luar rumah.

"Penindasan dapat membuat depresi dan gangguan kecemasan," kata Saltz.

Perundungan juga bisa menjadi penyebab bunuh diri. Maka dari itu, jika tidak ingin itu menjadi semakin buruk, ambil langkah untuk menyelamatkan anak.

5 dari 6 halaman

7. Tahan untuk tidak menghubungi orangtua pelaku

Ilustrasi orangtua dan anak bertemu (iStock)
Perbesar
Ilustrasi orangtua dan anak (iStock)

Daripada menghubungi orangtua pelaku, lebih baik menghubungi psikolog atau profesional kesehatan mental.

Saltz juga menyarankan untuk segera menghubungi pihak sekolah jika itu benar-benar semakin memburuk agar bisa membantu langkah selanjutnya yang harus dilakukan.

8. Bantu anak untuk kuat

Orangtua harus waspada jika nantinya anak malah memiliki pikiran yang negatif, seperti "aku pecundang" atau mungkin "aku akan selalu sendirian".

Menurut Saltz, ajarkan kepada anak untuk berpikir positif. Ajarkan bahwa kejadian itu nantinya bisa membuatnya lebih kuat dalam menghadapi perjalanan hidup.

Ajarkan agar anak melemparkan diri ke dalam apa yang mereka sukai tanpa membiarkan pembenci menggagalkan impiannya. 

Penulis : Vina Muthi A.

6 dari 6 halaman

Simak video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓