Menanti Vaksin Virus Corona Enam Bulan Lagi

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 30 Jan 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 30 Jan 2020, 13:00 WIB
Ilustrasi suntik vaksin campak pada anak (AFP/Johannes Eisele)
Perbesar
Vaksin virus corona sedang dikembangkan dalam enam bulan ke depan. (AFP/Johannes Eisele)

Liputan6.com, Queensland Seluruh dunia tengah menantikan vaksin virus corona baru atau yang dikenal sebagai 2019-nCOV dalam waktu enam bulan ke depan. Saat ini, Universitas Queensland (UQ) Australia mengembangkan vaksin menggunakan teknologi baru.

Bekerja sama dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), Wakil Rektor dan Presiden UQ, Peter Høj AC, menyampaikan, wabah virus corona Wuhan merupakan tantangan yang signifikan bagi masyarakat internasional.

"Ada banyak yang masih belum diketahui mengenai seberapa mudah virus corona dapat ditularkan antar manusia. Bersama CEPI, Universitas Queensland menggunakan teknologi (pembuatan) vaksin untuk menangani tantangan kesehatan global ini," tutur Peter melalui keterangan resmi di laman The University of Queensland Australia, Minggu (26/1/2020).

Head of University's School of Chemistry and Molecular Biosciences, Paul Young menambahkan, Universitas Queensland punya teknologi baru untuk membuat vaksin baru secara cepat berdasarkan pengetahuan informasi urutan genetik virus.

"Kami berharap mengembangkan vaksin virus corona selama enam bulan ke depan, sehingga dapat digunakan untuk membantu mengatasi wabah ini," lanjutnya.

2 dari 4 halaman

Teknologi Penjepit Molekuler

20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Perbesar
Teknologi baru pembuatan vaksin virus corona. (iStockphoto)

Menurut School of Chemistry and Molecular Biosciences and Australian Institute for Bioengineering and Nanotechnology, Keith Chappell, setelah vaksin virus corona baru selesai akan diberikan kepada sumber pertama penyebaran virus, yakni di Wuhan.

“Vaksin ini akan didistribusikan kepada responden pertama untuk membantu menahan virus agar tidak menyebar ke seluruh dunia,” tegas Keith.

Kunci pengembangan cepat dari vaksin potensial virus corona berupa teknologi penjepit molekuler (molecular clamp).

Teknologi ditemukan oleh para ilmuwan UQ dan dipatenkan oleh UniQuest.

"Teknologi penjepit molekuler Universitas Queensland memberikan stabilitas pada protein virus, yang termasuk target utama untuk (membentuk) pertahanan kekebalan tubuh kita," Keith menerangkan.

"Penjepit molekuler telah dirancang sebagai pendekatan platform untuk menghasilkan vaksin terhadap berbagai virus manusia dan hewan. Upaya ini menunjukkan hasil yang menjanjikan di laboratorium yang menargetkan virus seperti influenza, Ebola, Nipah, dan MERS coronavirus."

3 dari 4 halaman

Respons Antibodi

20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Perbesar
Vaksin virus corona memperkuat antibodi. (iStockphoto)

Mengingat penyebaran global yang cepat dari virus nCoV-2019, CEPI merespon cepat pengembangan vaksin.

"Tidak ada jaminan kesuksesan, tetapi kami berharap pekerjaan ini dapat memberikan langkah maju dalam mengembangkan vaksin untuk penyakit pneumonia Wuhan," terang CEO CEPI Richard Hatchett pada laman resmi CEPI.

"Kami membawa patogen baru dari urutan gen ke pengujian klinis dalam 16 minggu ke depan (enam bulan)."

Salah satu pendekatan desain vaksin 2019-nCOV adalah mensintesis protein sehingga mereka memperoleh respons imun, khususnya antibodi, yang dapat membunuh virus.

Sayangnya, respons imun tidak selalu menghasilkan antibodi yang secara efisien menekan virus.

Oleh karena itu, University of Queensland  mengembangkan suatu proses yang dapat mensintesis protein permukaan ini sambil "menjepit" sehingga membuat lebih mudah bagi sistem kekebalan  mengenali permukaan virus.

Antigen sintetis dapat dimurnikan dan diproduksi dengan cepat menjadi vaksin, dalam waktu 16 minggu sejak identifikasi patogen.

4 dari 4 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓