Pneumonia Menghantui Imlek, Bandara Soetta Perketat Pengawasan Pesawat dari Tiongkok

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 21 Jan 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 21 Jan 2020, 13:46 WIB
Mudik Natal dan Tahun Baru, Bandara Soetta Siapkan 478 Pesawat Ekstra

Liputan6.com, Jakarta Koronavirus penyebab wabah pneumonia di Tiongkok membuat beberapa negara meningkatkan kewaspadaan, termasuk Indonesia. Apalagi, menjelang hari raya Imlek yang jatuh pada 25 Januari besok.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Soekarno-Hatta Anas Ma'ruf mengungkapkan, Imlek adalah salah satu tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan pengamanan dari wabah pneumonia.

Anas mengatakan, mereka melakukan pengawasan lebih ketat terhadap pesawat yang berasal dari wilayah Tiongkok, termasuk Hong Kong, Beijing, dan Shanghai.

"Kami selalu mengidentifikasi pesawat yang datang dari Cina. Ada yang masuk ada yang transit. Itu kami identifikasi karena selalu berubah-ubah setiap hari," kata Anas di gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, ditulis Selasa (21/1/2020).

2 dari 3 halaman

Lakukan Pengawasan Pesawat Transit

Terminal 3 Bandara Soetta Siap Melayani Penerbangan Internasional
Pemandangan pesawat Garuda Indonesia yang bisa dilihat dari bourding lounge Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (24/04). Terminal ini mampu 25 juta calon penumpang per tahun. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Selain penerbangan yang langsung dari Tiongkok, KKP Bandara Soetta juga melakukan pengawasan pada pesawat yang berasal dari Tiongkok namun sempat transit di negara atau wilayah lain.

"Ada yang transit lewat Bangkok, ada yang di Filipina, ada yang dari Singapura juga banyak. Itu juga kami awasi," ujarnya.

Anas mengatakan bahwa di bandara Soetta, belum ada penerbangan langsung dari bandara Wuhan. "Kalau Bali ada. Di Bali ada satu hari dua kali, pagi dan sore. Teman-teman dari KKP di Denpasar juga melakukan pengawasan dengan ketat," katanya.

Terkait pengawasan di bandara dan pintu negara lain, Kemenkes dan KKP juga telah memasang pemindai suhu atau thermal scanner. Namun, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan, alat ini sudah ada sejak lama dan tidak hanya untuk waspada pneumonia Wuhan saja.

"Jadi bukan karena ini. Itu adalah bagian dari protap (prosedur tetap) teman-teman ini (KKP)," kata Anung dalam kesempatan yang sama.

"Seluruh penyakit infeksi, itu biasanya dengan demam. Alat kami sangat sensitif. Kalau ada orang yang suhunya di atas 38 derajat Celsius pasti akan tertangkap oleh pemindai kita. Nah, itu akan diperiksa lebih mendalam oleh petugas kesehatan," kata Anas

3 dari 3 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓