Menristek Apresiasi Perusahaan Farmasi yang Produksi Obat Modern Asli Indonesia

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 09 Jan 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 09 Jan 2020, 14:17 WIB
Bambang Brodjonegoro

Liputan6.com, Bekasi Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Bambang P.S Brodjonegoro mengapresiasi perusahaan farmasi yang memproduksi Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Salah satunya, apresiasi diberikan kepada Dexa Group dengan produk OMAI yang berdaya saing tinggi.

Produk OMAI menggunakan prinsip Research and Development (R&D) untuk pengembangan obat farmasi. R&D merupakan kegiatan penelitian, pengembangan, yang memiliki kepentingan komersial dengan riset ilmiah murni.

"Dengan R&D, produk OMAI kita bisa berdaya saing. Hal itu bukti kesungguhan lebih dari 200 peneliti yang ikut bekerja. Kami yakin daya saing Dexa Group terjaga dan menjadi contoh perusahaan farmasi lain," ujar Bambang saat konferensi pers di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group, Cikarang, Bekasi, kemarin (8/1/2020).

"Kami mengapresiasi Dexa Group yang menjadikan R&D sebagai tolok ukur hukum proses pengembangan obat. Tidak mudah bisnis farmasi dan obat. Ini kan juga menyangkut nyawa manusia. Namanya juga obat. Butuh proses panjang sebelum mendapat izin edar."

2 of 3

Kurangi Ketergantungan Impor

Bambang Brodjonegoro
Ditemui di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group, Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa Barat pada Rabu (8/1/2020), Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengapresiasi Dexa Group yang berhasil mengembangkan Obat Modern Asli Indonesia. (Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Executive Director DLBS Raymond Tjandrawinata menerangkan, Obat Modern Asli Indonesia melalui proses pembuatan obat dengan penelitian secara modern. Bahan baku berasal dari tanaman dan hewan.

Contohnya, hasil produksi Dexa, yakni Inbumin, yang berbahan baku ikan gabus yang bermanfaat untuk membantu proses penyembuhan luka. Proses pembuatan dengan R&B dengan riset dan uji klinis. 

Tujuan dari R&D untuk mengurangi ketergantungan bahan baku obat impor. Yang didorong adalah penggunaan bahan baku tanaman dan hewan yang ada di Indonesia.

"Soal inovasi riset dan penggunaan teknologi untuk mendukung percepatan kemandirian bahan baku obat ada pada INPRES Nomor 6 Tahun 2016. Inpres itu gerakan mengurangi ketergantungan bahan baku impor," Bambang menekankan.

"Sehingga masih banyak upaya mencoba bahan baku obat lokal. Dexa bisa jadi contoh. Mereka mendorong produksi herbal atau obat asli Indonesia."  

3 of 3

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓