BKKBN Harap Materi Kesehatan Reproduksi Masuk Kurikulum Sekolah

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 27 Des 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 27 Des 2019, 13:00 WIB
Hasto Wardoyo

Liputan6.com, Jakarta Demi meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo berharap materi tersebut dapat masuk ke dalam kurikulum sekolah. Pembicaraan ini dilakukan Hasto dengan menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 26 Desember 2019. 

“Kami dengan Kemendikbud sudah ada perjanjian kerja sama tapi masih secara umum terkait Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga. Kalau diizinkan, materi kesehatan reproduksi bisa masuk kurikulum di sekolah," ungkap Hasto kepada Nadiem sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com, Jumat (27/12/2019).

"Materi kesehatan reproduksi nanti lewat modul-modul yang sangat terseleksi. Kami ingin menindaklanjuti kerja sama ini dalam bentuk yang lebih rinci lagi dan juga terkait materi kependudukan dan pembangunan keluarga. Kami siap menyiapkan materinya.”

Adanya rencana memasukkan materi kesehatan reproduksi menjadi salah satu upaya BKKBN membekali generasi muda agar siap membentuk keluarga kelak. Untuk mewujudkan generasi yang unggul dimulai memahami lebih dalam tentang kesehatan reproduksi. 

"Saat ini, generasi sekarang banyak yang tidak berkualitas. Salah satunya karena keluarga tidak mempersiapkan diri soal proses reproduksinya. Maka, stunting, kematian ibu dan bayi tinggi. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, (membentuk) keluarga harus dipersiapkan sejak dini,” lanjut Hasto.

2 dari 3 halaman

Perlu Waktu Masuk Kurikulum Sekolah

Hasto Wardoyo
Audiensi dengan Kepala BKKBN Hasto pada Kamis (26/12/2019), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan perlu waktu materi kesehatan reproduksi masuk kurikulum di sekolah. (Humas BKKBN)

Mendengar pendapat Hasto, Nadiem mengatakan materi kesehatan reproduksi yang akan masuk ke dalam kurikulum sekolah membutuhkan waktu lama.  

“Karena harus menunggu struktur kurikulum yang baru. Dan (saat ini) kami arahnya merampingkan substansi. Ada arahan Presiden Joko Widodo untuk penyederhanaan kurikulum pendidikan. Perlu revitalisasi kurikulum atau simplifikasi," ucap Nadiem di hadapan Hasto.

"Masuk dalam kurikulum harus ada proses redefinisi--merumuskan batasan dengan melihatnya dari sudut lain. Hal ini harus disiapkan secara matang. Saya harap BKKBN segera menyiapkan materi-materi terkait kesehatan reproduksi yang benar-benar penting. Sehingga mudah dipahami guru dan murid. Siapkan saja materi-materi yang akan masuk dalam kurikulum."

Hasto menerangkan beberapa pembahasan materi kesehatan reproduksi seperti seputar melahirkan dan pencegahan AIDS.

“Kami akan menjelaskan hal-hal praktis dan penting untuk disampaikan di sekolah, termasuk juga mengenai persalinan di bawah usia 20 tahun. Ini karena ukuran panggul belum mencapai 10 cm. Tentunya, mereka belum mengerti. Sirkumsisi (sunat) bisa diterangkan untuk pencegahan AIDS. Hal-hal seperti ini penting untuk disampaikan," terangnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓