Seperti Apa Batasan Keintiman Fisik Ibu Angkat dengan Anak Pra Remaja?

Oleh Benedikta Desideria pada 11 Des 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 11 Des 2019, 18:00 WIB
Ibu angkat dan anak pra remaja. (Foto: Pixabay)
Perbesar
Ibu angkat dan anak pra remaja. (Foto: Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta Kedekatan Betrand Peto dengan ibu angkat-nya Sarwendah menjadi sorotan banyak warganet. Sebagian warganet yang menganggap kedekatan fisik di antara mereka berlebihan. Namun, sebagian lagi menganggap bahwa kedekatan keduanya seperti hubungan kandung.

Dalam beberapa Instagram Stories, misalnya milik Sarwendah, Betrand tampak mencium dahi dan pipi sang bunda sebelum berangkat sekolah. Di beberapa kesempatan Betrand kerap bermanja-manja dengan sang bunda.

Apa tanggapan psikolog terkait kedekatan fisik seperti ini?

Menurut psikolog anak Astrid Wen, anak yang menjelang remaja atau sudah pubertas biasanya sudah aware dengan lawan jenis serta sudah memiliki preferensi seksual. Sehingga, batasan keintiman fisik antara anak (baik anak angkat maupun kandung) dengan orangtua perlu diperhatikan.

"Memang sewajarnya anak yang sudah memasuki pubertas ada batasan keintiman fisik yang jelas. Batasan personal setiap pribadi itu dibutuhkan," kata Astrid.

Mengenai pelukan dan ciuman pipi, menurut Astrid masih wajar dan boleh-boleh saja. Namun, hal yang perlu diperhatikan apakah ada kenyamanan dari pihak ibu atau ayah serta anak akan keintiman fisik tersebut.

"Yang diinginkan kan baik orangtua dan anak sama-sama nyaman. Batasannya dimana? Ini balik lagi ke batasan personal," kata Astrid.

"Relasi itu harus penuh dengan rasa aman dan juga saling menghargai satu sama lain," katanya. 

2 dari 4 halaman

Batasan Fisik Tak Hanya Berlaku Bagi Anak Adopsi

Ada anak yang memang menyukai sentuhan tapi ada orangtua juga yang tidak terlalu suka sentuhan. Misalnya ada anak laki-laki yang sudah puber masih senang memeluk sang ibu tapi ibunya tidak suka (mungkin terkait trauma masa lalu) meskipun itu anak kandung. Sehingga, hal-hal seperti ini perlu dibicarakan seperti disampaikan Astrid.

Perbincangan pertama yang perlu dilakukan adalah antara ayah dan ibu. Baru kemudian dibicarakan dengan anak.

"Diskusi bersama dan terus apa langkah selanjutnya. Strategi apa yang perlu dilakukan," kata wanita yang sehari-hari praktik di Pion Clinician Cilandak Jakarta ini.

 

 

3 dari 4 halaman

Bila Perlu ke Psikolog

Bila ayah dan ibu bingung serta terjadi ketidaksepakatan  mengenai kedekatan fisik yang terjadi sebaiknya perlu dimoderasi oleh ahli seperti psikolog. Ahli, kata Astrid, akan melihat apakah interaksi yang terjadi selama ini wajar atau tidak lalu melihat lebih dalam lagi kepribadian anak. 

"Biasanya, kalau datang ke psikolog anak, bisa diketahui masa lalu anak seperti apa, serign dapat sentuhan enggak di masa kecilnya. Mungkin ada kebutuhan afeksi yang cukup tinggi," kata Astrid. 

Jika memang ibu atau ayah kurang nyaman dengan sentuhan yang terlalu dekat, psikolog membantu mencari jalan tengah. Sehingga, bila memang kebutuhan afeksi anak akan sentuhan besar akan dicari jalan tengah yang nyaman bagi keduanya. 

Selanjutnya, bicarakan baik-baik dengan anak mengenai kedekatan fisik seperti apa yang nyaman bagi keduanya.

"Mau anak angkat atau anak kandung, kalau memang bawaan kita (misal ibu) enggak suka disentuh-sentuh, itu perlu dibicarakan. "Mama kurang suka dipeluk-peluk terlalu sering' atau 'Mama lebih suka dipeluk seperti ini". Jadi, ajarkan cara interaksi fisik dan ekspresi kasih sayang seperti apa," jelas Astrid.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan juga video menarik berikut:

Lanjutkan Membaca ↓