Menjadi Lansia Bahagia dan Produktif

Oleh Liputan6.com pada 27 Nov 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 27 Nov 2019, 06:00 WIB
Ilustrasi lansia bahagia

Liputan6.com, Jakarta Memasuki lanjut usia (lansia) sering dianggap menakutkan karena fisik dan mental mulai mengalami penurunan. Sebenarnya menjadi lansia bukanlah hal yang harus ditakutkan.

“Jumlah lansia ini perkembangannya cepat sekali. Naik terus. Karena tadi, kesehatan makin bagus dan sebagainya. Makanya harus bahagia kalau jadi lansia,” kata ketua Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) dan inisiator "genRe", orang tua hebat dan lansia tangguh, Dr. Sudibyo Alimoeso, MA.

Di masa-masa lanjut usia, menurut Sudibyo adalah masa transisi untuk beradaptasi, mencari minat baru, mengatur kembali pola hidup, menyesuaikan peran dan menerima adanya perubahan fisik. Jangan dilalui dengan stres, sebaiknya tetap berpikir positif. 

Sudibyo juga menganjurkan agar lansia sesekali keluar, berjalan-jalan, untuk tidak terus menerus berada dalam rumah. Menurutnya, berada di dalam rumah terus justru bisa menimbulkan stres.

“Usia ini dianggap membahayakan karena sering terjadi krisis dalam kehidupan keluarga. Suka di rumah itu kadang-kadang suka ditanya. Kalau bapak-bapak suka ditanya sama istrinya, ‘Kok di rumah aja pak?’," kata Sudibyo.

Maka dari itu, lebih baik berjalan-jalan keluar rumah. Bisa ke tempat baru atau melakukan hal-hal positif lainnya.

 

2 dari 3 halaman

Tetap produktif

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa menjadi lansia berarti sudah waktunya berhenti berprestasi. Seolah sudah sulit sekali melakukan apapun.

Ketua IPADI menyangkal hal itu dan mengatakan bahwa bahkan ada orang-orang lansia yang bisa menduduki pemerintahan B.J. Habibie yang menjadi presiden saat usia 62 tahun. 

Anda juga bisa melakukan hal-hal yang sederhana seperti membuat kerajinan tangan dan memasak. Masa ini juga bisa digunakan untuk melakukan introspeksi diri, mengevaluasi apa yang sudah dilakukan atau dicapai sebelumnya.

 

 

 

3 dari 3 halaman

Mengatasi rasa kesepian

Lansia (iStock)
Ilustrasi lansia (iStockphoto)

“Banyak lansia-lansia terjadi sindrom ini, sarang burung kosong. Artinya, tadinya ramai dengan anak-cucu. Tiba-tiba tinggal sendirian di rumah. Anak-cucunya lupa, sibuk dan sebagainya,” kata Sudibyo.

Merasa sendirian bukanlah hal yang aneh bagi lansia. Justru perasaan ini umum dan terjadi di berbagai penjuru dunia.

Sindrom “sarang burung kosong” atau empty nest syndrome merupakan rasa kesepian yang mendalam karena merasa tinggal sendiri. Oleh karena itu, lansia disarankan untuk mengikuti komunitas atau sarana pengembangan diri.

Dengan demikian, lansia bisa lebih memahami gejala dan risiko yang akan dialami seiring bertambahnya usia. Juga untuk mengatasi rasa kesepian dan stres yang kerap kali muncul.

 

 

 

Penulis: Selma Vandika

Lanjutkan Membaca ↓