Berlebihan Makan Mi Instan Bikin 40 Persen Anak di Tiga Negara Asia Tenggara Kurang Gizi

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 28 Okt 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 29 Okt 2019, 17:13 WIB
Ilustrasi Mi Instan (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Mi instan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi makanan yang biasa dikonsumsi oleh anak-anak. Namun, kebiasaan itu ternyata menjadi penyebab jutaan anak mengalami masalah kekurangan gizi dan membuat banyak dari mereka terlalu kurus dan obesitas.

Laporan UNICEF menyebutkan, di tiga negara Asia Tenggara: Filipina, Indonesia, dan Malaysia, rata-rata 40 persen anak di bawah lima tahun mengalami kurang gizi. Angka itu lebih tinggi dari sepertiga rata-rata global.

"Mi mudah. Mi murah. Mi cepat dan mudah menggantikan apa yang seharusnya jadi diet seimbang," kata Mueni Mutunga, spesialis nutrisi UNICEF Asia seperti dilansir dari Channel News Asia pada Senin (28/10/2019).

Mutunga mengatakan bahwa mi instan yang sangat murah, rendah nutrisi yang sesungguhnya penting, serta zat gizi mikro seperti zat besi. Selain itu, produk semacam itu juga rendah protein dan memiliki kandungan lemak serta garam tinggi.

2 of 3

Kemiskinan jadi Masalah Utama

Ilustrasi mi instan (iStock)
Ilustrasi mi instan (iStock)

Selain itu, konsumsi buah-buahan, sayur, telur, susu, ikan, dan daging yang kaya nutrisi memudar dari pola makan ketika penduduk pedesaan berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan.

Selain itu, masalah ekonomi juga menjadi salah satu faktor kebiasaan tersebut. Menurut T Jayabalan, ahli kesehatan masyarakat di Malaysia, keluarga dengan pendapatan rendah seperti yang ada di negaranya, sangat bergantung dengan mi siap saji, ubi jalar, dan produk berbasis kedelai sebagai makanan utama mereka.

"Kemiskinan adalah masalah utama," kata Jayabalan.

Kurangnya perhatian dari orangtua soal masalah gizi pada anak juga menjadi salah satu masalah ini.

"Orangtua percaya mengisi perut anak-anak mereka adalah yang paling penting. Mereka tidak peduli soal asupan yang cukup untuk protein, kalsium, atau serat," kata Hasbullah Thabrany, pakar kesehatan masyarakat Indonesia pada AFP.

Maka dari itu, baik Jayabalan maupun Thabrany sepakat bahwa intervensi pemerintah dinilai penting untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya terkait promosi dan iklan, serta distrbusi besar-besaran yang bahkan mencapai tempat-tempat terpencil.

3 of 3

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by