Crosshijaber dan Kaitannya dengan Perilaku Seks Menyimpang

Oleh Liputan6.com pada 19 Okt 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 19 Okt 2019, 18:16 WIB
Ilustrasi Crosshijaber

Liputan6.com, Jakarta - Media sosial tengah digemparkan dengan fenomena crosshijaberSeorang pria yang entah dengan alasan apa pun memakai pakaian muslimah, lengkap dengan hijab dan juga cadar. Aksi tersebut dikaitkan dengan perilaku transvestisme.

Istilah crosshijaber diambil dari kata cross-dressing, yaitu tindakan mengenakan pakaian atau perlengkapan lain yang biasanya hanya dipakai lawan jenis dalam masyarakat tertentu.

Tak hanya berupa komunitas di media sosial, tetapi berberapa crosshijaber ketahuan “melancarkan serangan” dengan berani masuk ke tempat yang dilarang bagi pria, seperti tempat wudu, area tempat salat wanita di masjid, bahkan toilet.

Dianggap mencoreng hijab dan memicu tindak kejahatan

Sebelum membahas lebih lanjut soal transvestisme, akun komunitas crosshijaber yang sempat muncul di media sosial cukup mengkhawatirkan masyarakat.

Sebab, mereka bisa dengan mudah memanfaatkannya untuk melakukan tindak kejahatan terhadap perempuan, baik di ruang publik seperti toilet umum maupun di ruang pribadi.

Pengguna hijab menganggap bahwa perilaku crosshijaber melecehkan atau mencoreng hijab itu sendiri. Sebab, pada dasarnya, hijab digunakan perempuan untuk menutup auratnya. Sedangkan pada pelaku crosshijaber, tak jelas apa tujuannya, selain sekadar iseng, hobi, atau memuaskan keinginan pribadi.

Dari KlikDokter, dr. Sepriani Timurtini Limbong mencoba menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, memang ada dugaan bahwa para pria yang gemar memakai baju perempuan, dalam hal ini baju muslim, memiliki kelainan jiwa, sadar atau tanpa disadarinya. Perilaku tersebut dapat dimasukkan menjadi golongan parafilia atau sexual disorder.

Hubungan antara transvestisme dengan pelaku crosshijaber

Lebih lanjut lagi, perilaku para crosshijaber tersebut juga dapat disebut sebagai transvestisme. Kelainan seksual ini memang lebih sering terjadi pada kaum adam.

“Transvestisme adalah perilaku yang senang mengumpulkan baju lawan jenisnya, lalu memakainya juga di kehidupan nyata. Perlu diingat, transvestisme bukan transgender. Misalnya pada para crosshijaber, mereka tetap laki-laki yang suka dengan perempuan. Tapi, mereka bisa mendapat kepuasan tersendiri saat melakukan hal tersebut,” ujar dr. Sepriani.

 

2 of 3

Crosshijaber

Tangkapan layar Komunitas Crosshijaber. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)
Tangkapan layar Komunitas Crosshijaber. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

Selain transvestisme, ada juga fetishism. Dilanjutkan dr. Sepriani, berbeda dengan transvestisme, laki-laki pelaku fetishism hanya senang mengumpulkan pakaian atau benda yang berhubungan dengan wanita untuk merangsang birahinya, tetapi tidak ia pakai. Misalnya rok, celana dalam, bra, hingga pembalut—semua hanya dimanfaatkan pelaku saat memuaskan dirinya.

Transvestisme termasuk perilaku seks menyimpang

Seperti yang sempat dikatakan di atas, transvestisme termasuk golongan parafilia. Nah, di dalam parafilia, terdapat juga perilaku menyimpang lainnya seperti eksibisionis (senang memperlihatkan alat kelamin), pedofilia (ketertarikan seksual dengan anak kecil), masokisme (terangsang bila disakiti), dan lain sebagainya.

Dengan demikian, perilaku transvestisme yang diduga dimiliki oleh para pelaku crosshijaber memang termasuk kondisi yang mengkhawatirkan. Jika tidak segera diatasi, maka ada kemungkinan pelakunya melakukan tindak kejahatan seksual pada orang-orang di sekitarnya.

 

3 of 3

Crosshijaber yang Meresahkan

Tangkapan layar Komunitas Crosshijaber. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)
Tangkapan layar Komunitas Crosshijaber. (Foto: Liputan6.com/Polres Kebumen/Muhamad Ridlo)

Ada lagi satu hal yang yang perlu digarisbawahi dalam masalah fenomena crosshijaber ini. Menurut dr. Sepriani, biasanya pelaku perilaku seksual menyimpang tidak berani menunjukkan identitasnya kepada orang lain. Mereka cenderung pemalu dan khawatir jika sisi lainnya terungkap. Beda halnya dengan komunitas crosshijaber yang sedang ramai dibicarakan ini.

“Bisa jadi, di dalam komunitas tersebut, hanya beberapa orang, bahkan satu atau dua saja yang benar-benar mengalami kelainan seksual. Sisanya mungkin hanya ikut-ikutan saja. Oleh sebab itu, anggapan bahwa pelaku crosshijaber mengidap transvestisme baru dugaan sementara saja. Diperlukan pemeriksaan psikis untuk memastikannya,” tuturnya.

Normalnya, orang memiliki fantasi seksual berupa gambaran bahwa dia sedang bercinta dengan orang lain. Ketika seseorang membutuhkan hal yang lebih dari sekadar foreplay pada umumnya, dr. Sepriani mengatakan, di situlah ada bibit-bibit kelainan seksual. Ketimbang meneruskan hal tersebut, lebih baik bawa permasalahan Anda ke terapis.

Kesimpulannya, meski ada kecenderungan kuat ke arah sana, kaitan dengan perilaku transvestisme pada pelaku crosshijaber baru dugaan sementara. Diperlukan pemeriksaan psikis yang menyeluruh untuk diagnosis pasti. Semoga fenomena tersebut segera berakhir dan tidak sampai menimbulkan tindak kejahatan seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

Penulis Ayu Maharani / Klik Dokter

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait