Bukan Berpotensi seperti Joker, ODGJ Lebih Rentan jadi Korban Kekerasan

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 11 Okt 2019, 17:00 WIB
Joker (2019)

Liputan6.com, Jakarta - Jika usai nonton film Joker Anda berpikir bahwa seseorang dengan gangguan jiwa bisa menjadi seorang pembunuh kejam, buang jauh-jauh stigma semacam itu. Faktanya, di Indonesia, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) lebih rentan menjadi korban dari kekerasan.

"Masyarakat jangan berpendapat bahwa orang dengan gangguan jiwa ini adalah orang yang berbahaya dan berpotensi menjadi penjahat seperti Joker, itu sama sekali keliru," kata Yeni Rosa Damayanti, Ketua Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia pada Health Liputan6.com.

Ditemui usai pertemuan dengan BPJS Kesehatan di Jakarta, Jumat (10/11/0219), Yeni mengatakan bahwa meski ODGJ sedang tidak mengonsumsi obat-obatan, belum tentu dia akan melakukan tindakan kekerasan.

"Karena orang dengan gangguan jiwa itu kecenderungannya lebih rentan menjadi korban tindakan kekerasan daripada pelaku kekerasan," kata Yeni.

2 of 3

Lebih Rentan jadi Korban

Ilustrasi gangguan jiwa (iStock)
Ilustrasi gangguan jiwa (iStock)

Yeni mengungkapkan bahwa sebuah penelitian sederhana pada para pasien di beberapa rumah sakit jiwa di Indonesia, menemukan bahwa hampir semua responden pernah mengalami tindakan kekerasan.

"Mereka merinci, diolok-olok, dilempar batu. Ini untuk membuktikan bahwa dalam penelitian yang dilakukan oleh psikiater ini, hampir semua pasien menyatakan mereka pernah menjadi korban dari berbagai tindak diskriminasi," ujar wanita yang merupakan seorang aktivis di orde baru ini.

Bahkan, meskipun sedang tidak minum obat pun, ODGJ lebih rentan menyakiti dirinya sendiri ketimbang orang lain.

"Kalaupun ada yang merugikan orang lain, jumlahnya sangat kecil. Seperti yang saya katakan tadi, jauh lebih besar kemungkinannya untuk jadi korban kekerasan daripada menjadi pelaku kekerasan."

3 of 3

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓