Dokter Jiwa Ungkap Kondisi Mental Masyarakat Usai Kerusuhan di Papua

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 07 Okt 2019, 12:00 WIB
Rusuh Wamena

Liputan6.com, Jakarta Walaupun suasana di berbagai wilayah di Papua sudah terbilang kondusif, pemulihan dari trauma dirasa tetap penting bagi masyarakat yang terdampak kerusuhan beberapa waktu lalu.

Dalam temu media di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta beberapa waktu lalu, dokter spesialis kejiwaan Rizky Aniza Winanda mengatakan bahwa masalah mental banyak dialami oleh orang-orang yang menjadi korban dari kerusuhan di beberapa wilayah yang terjadi beberapa saat lalu.

"Di tempat saya ada beberapa korban kemarin yang sampai saat ini mengalami gangguan penyesuaian cemas, stres akut semenjak kejadian itu, karena mereka memiliki kios di pasar yang dijarah dan dirusak juga," kata Aniza lewat sambungan jarak jauh dari Papua Barat, ditulis Senin (7/10/2019).

Aniza sudah mengira bahwa masalah trauma akan terjadi. Dia menambahkan, jumlah psikiater di Papua cukup banyak, khususnya di Jayapura.

"Dari perhimpunan kami kemarin memang cukup disibukkan dengan adanya orang-orang yang mengalami trauma," kata dokter yang berpraktik di RSUD Schoolo Keyen, Papua Barat itu.

2 of 3

Pendekatan yang Tidak Mudah

Pengungsi Wamena
200-an orang pengungsi rusuh Wamena bertahan di Yonif 751 Sentani di Kabupaten Jayapura. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Aniza menegaskan bahwa bukan hanya warga pendatang yang membutuhkan penanganan trauma. Masyarakat asli pun juga butuh karena banyak dari mereka merasa tidak aman karena adanya kerusuhan.

"Pendekatannya memang tidak mudah, sangat sensitif. Pendekatan budaya terutama yang harus kita pikirkan," kata Aniza.

"Terutama dengan hal yang sesimpel, kita sering menggunakan 'pendatang' dan 'orang asli Papua' terkesan 'kami bukan bagian dari mereka' terkesan 'kami menciptakan perpisahan itu.' Ini yang sangat sensitif sehingga membuat orang berpikir akan dibedakan penanganan pendatang dan warga asli," ujar alumni FKUI itu.

Aniza pun menjelaskan pada pasien-pasiennya, bahwa ketakutan yang dirasakan tidak hanya terjadi pada satu orang saja. Ada banyak masyarakat, bahkan di kota besar yang merasa takut dengan adanya konflik.

"Saling berbagi perasaan masing-masing, bahwa jangan sampai teman-teman kita terprovokasi, kita juga ikut terprovokasi, sementara itu pendekatan yang bisa kita lakukan. Kita tidak sendiri kok, ketakutan kita sama dengan yang mereka rasakan."

3 of 3

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓