Saat Hamil, Partikel Polusi Udara Bisa Terkumpul dalam Plasenta

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 27 Sep 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 27 Sep 2019, 07:00 WIB
Ilustrasi ibu hamil bisa mendaftarkan janin dalam JKN-KIS dari BPJS Kesehatan (iStock)
Perbesar
Polusi udara berbahaya bagi ibu hamil (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Polusi udara selama ini memang dianggap bisa berbahaya bagi ibu hamil. Sebuah studi terbaru bahkan menemukan zat-zat berbahaya bisa melakukan 'perjalanan' melewati paru hingga mencapai plasenta yang menjaga janin.

Para peneliti di Belgia mencoba mencari tahu apa yang membuat polusi udara begitu berbahaya bagi ibu hamil bahkan bisa berpengaruh pada kelahiran bayi.

Dalam sebuah studi pada 28 ibu baru, mereka menemukan bahwa partikel berupa karbon hitamĀ polusi udara terkumpul di daerah plasenta yang sangat dekat dengan janin. Padahal, plasenta memberi nutrisi pada janin yang sedang berkembang dan memblokir zat-zat yang merusak aliran darah ibu.

Dilansir dari New York Post pada Jumat (27/9/2019), para peneliti melihat bahwa semakin tinggi paparan polusi, semakin banyak partikel yang ada di plasenta.

"Karena organ janin sedang dalam pengembangan penuh, inilah yang mungkin memiliki beberapa risiko kesehatan," kata penulis senior studi dan pakar lingkungan dan kesehatan masyarakat, Tim Nawrot.

2 dari 3 halaman

Bahaya Polusi Udara Bagi Ibu Hamil

Ilustrasi polusi udara
Perbesar
Ilustrasi polusi udara (iStock)

Studi yang dimuat dalam jurnal Nature Communication ini sendiri menggunakan sebuah cara pemindaian khusus yang dikembangkan oleh para penelitinya.

Walau begitu, menurut Dr Yoel Sadovsky dari University of Pittsburgh Medical Center, Amerika Serikat, yang seorang pakar plasenta, studi ini masih terlalu kecil untuk menyimpulkan bahwa partikel dalam plasenta bisa mencapai janin dan berpengaruh pada efek kesehatan bayi.

Namun, tetap saja studi ini membuktikan adanya bahaya dari polusi udara bagi ibu hamil.

"Pertanyaannya selanjutnya adalah berapa banyak partikel karbon hitam yang bisa menyebabkan kerusakan," kata Sadovsky.

Adapun, Nawrot bersama dengan timnya sedang melakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari tahu lebih banyak temuan lagi.

3 dari 3 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓