Konsentrasi Debu Polutan Tinggi, Penyebab Fenomena Langit Merah di Muaro Jambi

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 23 Sep 2019, 14:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 13:13 WIB
Potret Langit Merah di Jambi Akibat Kabut Asap, Siang Gelap Bak Malam Hari

Liputan6.com, Jambi Debu polutan dengan konsentrasi tinggi menjadi penyebab terjadinya fenomena langit merah di Muaro Jambi pada Sabtu (21/9/2019). Fenomena tersebut terjadi saat siang hari, yang mana langit terasa gelap layaknya menjelang matahari terbenam di sore hari. 

Kehadiran debu polutan tersebut dipengaruhi kabut asap yang semakin pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto memberi penjelasan fenomena langit merah secara ilmiah.

"Tebalnya asap didukung tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran lebih dari 10 mikron (PM10). Pada Sabtu tengah malam, pengukuran konsentrasi PM10 menunjukkan kondisi tidak sehat (373,9 ug/m3)," jelas Siswanto dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, ditulis Senin (23/9/2019).

"Di Muaro Jambi menunjukkan, warna putih dari hasil analisis citra satelit Himawari-8 pada 21 September 2019 mengindikasikan lapisan asap sangat tebal. Jadi, langit merah muncul, yang mungkin terjadi karena kebakaran lahan dan hutan, yang terjadi di wilayah tersebut, terutama lahan-lahan gambut." 

2 of 4

Konsentrasi Debu Polutan Tinggi

Potret Langit Merah di Jambi Akibat Kabut Asap, Siang Gelap Bak Malam Hari
Potret Langit Merah di Jambi Akibat Kabut Asap, Siang Gelap Bak Malam Hari (sumber: Merdeka.com)

Langit merah di Muaro Jambi juga dikenal dengan fenomena Mie Scattering atau istilah ilmiah dalam bahasa Inggris, yakni Rayleigh Scattering.

Jika ditinjau dari teori fisika atmosfer, langit merah disebabkan  adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol).  

"Fenomena langit merah dikenal dengan istilah hamburan mie (Mie scattering). Ini terjadi jika diameter aerosol dari debu polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari," lanjut Siswanto.

"Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer. Sementara itu, konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru. Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Artinya, debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi."

3 of 4

Pencemaran Kabut Asap

Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau pada Minggu (15/9/2019). (Dok Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Aerosol yang tinggi seperti langit merah yang terjadi di Muaro Jambi dapat mengganggu keseimbangan energi yang dapat memengaruhi perubahan iklim. 

Studi terbaru terkait konsentrasi aerosol berjudul Aerosol-PBL interaction: an important process for haze pollutionmitigation in both megacity and regional scales ditulis Xin Huang, Zinlin Wang, dan Aijun Ding dari School of Atmospheric Sciences, Nanjing University, Nanjing, Tiongkok.

Hasil studi yang dipublikasikan di EGU General Assembly pada 2019, aerosol tinggi dapat mengurangi radiasi matahari yang masuk. Bahkan meningkatkan intensitas pencemaran kabut asap. 

Ketika aktivitas matahari berkurang, tutupan awan menjadi minimum. Tutupan awan dapat menimbulkan efek pemanasan (efek rumah kaca) sebesar 13 persen, dari jurnal berjudul Analisis Pengaruh Aktivitas Matahari Terhadap Perubahan Iklim, yang ditulis Frendi Ihwan Syamsudin pada 2018.

4 of 4

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓