Tips Kepala BKKBN agar Bonus Demografi Jadi Menguntungkan

Oleh Aditya Eka Prawira pada 19 Sep 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 19 Sep 2019, 11:00 WIB
Kepala BKKBN, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Hasto Wardoyo

Liputan6.com, Pangkalpinang - Bonus demografi yang puncaknya terjadi pada 2045 bisa mendatangkan keuntungan jika pemerintah dapat mengelolah sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah, termasuk pemerintah daerah di seluruh penjuru Indonesia, adalah menekan jumlah balita yang lahir baru.

Selanjutnya, didik dengan baik anak-anak remaja usia SD, SMP, dan SMA dari sekarang. Seperti yang pernah Hasto lakukan saat menjabat sebagai Bupati Kulonprogo, Yogyakarta. Dia memasukkan anak-anak putus sekolah dan anak jalanan ke dalam asrama untuk diberikan pendidikan selama satu bulan.

"Tapi jangan lupa TFR (Total Fertility Rate diturunkan, dalam arti jumlah persalinannya dikurangi," kata Hasto Wardoyo yang juga seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung belum lama ini.

 

2 dari 2 halaman

Produktifkan Orang Tua

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Hasto Wardoyo berbagi cerita serta pengalamannya sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala BKKBN. Sebelumnya, Hasto adalah seorang Bupati Kulon Progo, dan juga seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Tidak lupa juga orang-orang tua untuk diproduktifkan. Dengan cara memberikan mereka sejumlah pelatihan (training) sehingga mereka bisa melakukan sesuatu sambil menikmati masa tuanya.

"Tolong dong orang usia tua yang pensiunan itu disiapkan juga," kata Hasto Wardoyo.

"Purnatugas itu disiapkan biar dia tidak jadi beban anak cucunya," Hasto menekankan.

Syukur-syukur, lanjut Hasto, kalau individu-individu yang sudah purnatugas itu memiliki uang yang meskipun mungkin jumlahnya tidak banyak untuk berinvestasi.

"Mereka bisa beli bebek atau ayam, yang dipelihara sama orang miskin. Satu orang pensiunan bisa memperkaya lima orang tukang bebek, itu kan bagus," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓