5 Kunci Tangani Obesitas pada Anak Menurut Dokter Olahraga

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 12 Sep 2019, 06:00 WIB
Anak Obesitas

Liputan6.com, Jakarta Menangani obesitas pada anak berbeda dengan orang dewasa. Pasien dewasa dapat mengurangi asupan kalori melalui program diet yang sehat serta meningkatkan aktivitas fisik. Namun, cara tersebut tidak dapat langsung diterapkan pada anak. Penanganan obesitas pada anak punya metode sendiri.

Dokter spesialis kedokteran olahraga Michael Triangto mengungkapkan, ada lima strategi khusus mengatasi obesitas pada anak.

Dalam hal ini, penanganan obesitas anak bukan hanya sekadar melalui operasi bariatrik (pembedahan yang dilakukan membantu menurunkan berat badan).

"Pertama, kita harus mengubah pola makan yang ada. Bukan dengan diet ketat semata. Ini karena pasien adalah anak yang masih membutuhkan pertumbuhan tubuh yang optimal," ungkap Michael kepada Health Liputan6.com melalui keterangan tertulis, ditulis Rabu (11/9/2019).

Kedua, meningkatkan aktivitas fisik dalam bentuk permainan, bukan latihan beban. Latihan beban nantinya bisa meningkatkan risiko cedera. Perlu diingat, anak-anak yang obesitas meski bertubuh bongsor, tapi sebenarnya pertumbuhannya belum selesai (masih proses pertumbuhan).

2 of 4

Motivasi untuk Beraktivitas Fisik

Penggerak Olahraga Ajak Masyarakat Hidup Sehat
Seorang anak mencoba berbagai olahraga ketangkasan bersama komunitas penggerak olahraga di tengah kegiatan Car Free Day kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (30/6/2019). Kegiatan tersebut dalam rangka mengajak masyarakat untuk hidup sehat dengan berolahraga. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Strategi ketiga, menurut Michael, meningkatkan motivasi melalui pendidikan yang mampu dipahami oleh sang anak. Agar anak tetap mau melakukan diet juga aktivitas fisik secara teratur.

Menjaga motivasi anak agar mau beraktivitas fisik pun penting. Ini karena latihan yang dilakukan sebagai bagian dari permainan, bukan keharusan melakukan olahraga.

"Keempat, mendidik orangtua agar tidak selalu mengizinkan apa yang diminta atau direngekkan oleh anaknya. Hal ini penting disadari para orangtua. Salah satu faktor terjadinya obesitas pada anak adalah seringkali para orangtua membebaskan anaknya untuk mengonsumsi makanan dengan bebas memberikan uang jajan," lanjut dokter yang berpraktik di RS Mitra Kemayoran Jakarta.

"Pemberian uang jajan itu pun tanpa mempertimbangkan faktor gizi yang perlu dan tidak perlu dikonsumsi oleh sang anak."

3 of 4

Bentuk Tim Medis yang Tepat

Pasien eks obesitas asal Karawang Jawa Barat Arya Permana, tengah dilakukan pengukuran baju di ruang poliklinik anak RSHS, untuk dipakai usai operasi bedah plastik pada 24 Juli 2019 mendatang. (Liputan6.com/Arie Nugraha)
Pasien eks obesitas asal Karawang Jawa Barat Arya Permana, tengah dilakukan pengukuran baju di ruang poliklinik anak RSHS, untuk dipakai usai operasi bedah plastik pada 24 Juli 2019 mendatang. (Liputan6.com/Arie Nugraha)

Kelima, untuk menunjang keberhasilan program menangani obesitas pada anak harus dibentuk tim yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan, baik kedokteran maupun di luar kedokteran. Michael juga menambahkan, berbagai tahapan pengobatan yang dijalani pasien obesitas juga terkait dana yang besar.

"Pengobatan obesitas tidak hanya memakan waktu, tenaga, kesabaran. Namun, juga dana yang besar," ujar dokter yang menjabat sebagai Direktur Slim and Health Sport Centre Jakarta ini. 

Oleh karena itu, pencegahan terjadinya obesitas pada anak menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Upaya tersebut hanya dapat dilakukan dengan baik jika negara turut andil dengan mendorong terlaksananya edukasi pada masyarakat.

Selain itu, kerjasama lintas sektoral dibutuhkan. Masalah obesitas dan kesehatan butuh pelibatan kementerian/lembaga, misal, bidang industri, ekonomi, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta telekomunikasi.

4 of 4

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓