Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

Verifikasi UmurStop di Sini

Awas, Disfungsi Ereksi Bisa Sebabkan Produktivitas Kerja Hilang

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 29 Agu 2019, 23:00 WIB
Diperbarui 29 Agu 2019, 23:00 WIB
Depresi (iStock)
Perbesar
Disfungsi ereksi makin memperburuk produktivitas kerja. (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Disfungsi ereksi dapat membuat produktivitas kerja buruk. Bahkan menurunkan kualitas hidup. Temuan tersebut dari studi yang mencakup lebih dari 50.000 pria dari 8 negara (Brasil, Tiongkok, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat).

Hasil penelitian disfungsi ereksi ini berdasarkan laporan adanya kesulitan meraih atau mempertahankan ereksi dalam enam bulan sebelum survei dilakukan.

"Gangguan meraih atau mempertahankan ereksi ini bisa membuat hilangnya produktivitas di tempat kerja menjadi lebih besae. Pria juga lebih banyak mengalami gangguan aktivitas. Kondisi ini mengurangi kualitas hidup sehingga seseorang akan mengalami kecemasan dan Depresi serta meningkatkan kemungkinan penyakit kardiovaskular," papar peneliti studi Irwin Goldstein, dilansir dari News Medical Life Science, Kamis (29/8/2019).

Studi ini menyasar pria berusia 40 hingga 70 tahun. Secara keseluruhan, hampir 50 persen pria yang disurvei menderita disfungsi ereksi. Pria Italia punya prevalensi tertinggi disfungsi ereksi yang dilaporkan.

"Lebih dari dua kali lipat pria lebih mungkin berada di rumah dan melaporkan sakit ke tempat kerja. Risiko gangguan produktivitas dan aktivitas juga dua kali lebih tinggi pada kelompok ini," ujar Irwin.

Disfungsi ereksi dapat terjadi karena kadar hormon seks yang rendah, pasokan darah ke penis berkurang, gangguan stimulasi saraf pada organ, serta akibat dari pembedahan sebelumnya atau perawatan medis terhadap area penis.

Kejadian disfungsi ereksi dilaporkan pertama kali pada Massachusetts Male Aging Study, yang didukung oleh beberapa survei internasional lainnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:


Hilangnya Produktivitas Kerja

Ilustrasi gangguan ereksi (iStock)
Perbesar
Gangguan ereksi membuat produktivitas kerja. (iStock)

Tingkat keparahan disfungsi ereksi juga dinilai pada skala 1 sampai 5. Mereka yang memiliki skor 2 atau lebih diklasifikasikan mengalami disfungsis ereksi dibandingkan. Angka-angka tersebut karena tak diambil sebagai standar yang berwenang evaluasi dari negara lain.

"Pria melaporkan gangguan kerja lebih dari 22 persen. Gangguan dalam produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari menyebabkan hilangnya sekitar 25 persen dan 29 persen dari waktu kerja pada pria dengan disfungsi ereksi," Irwin menjelaskan.

Penilaian kualitas hidup terkait kesehatan dibuat menggunakan skor Mental Component Summary (MCS) dan Physical Component Summary (PCS). Pria yang mengalami disfungsi ereksi juga lebih cenderung berpenampilan tua, gemuk, perokok, peminum yang berlebihan, dan tidak berolahraga.

Temuan juga menunjukkan, pengaruh disfungsi ereksi terhadap aktivitas harian lebih buruk terjadi pada pria di Tiongkok. Untuk kaitan disfungsi ereksi dan penurunan kualitas hidup terkait kesehatan tertinggi dilaporkan dari Italia.


Makin Memperburuk Produktivitas

Depresi (iStockphoto)
Perbesar
Disfungsi ereksi memengaruhi produktivitas kerja. (iStockphoto)

Irwin menekankan, semakin parah disfungsi ereksi, semakin buruk juga produktivitas secara keseluruhan serta kualitas hidup. Langkah-langkah untuk mencegah ini termasuk identifikasi masalah dan perawatan yang lebih baik.

Studi tersebut berjudul The association of erectile dysfunction with productivity and absenteeism in eight countries globally yang dipublikasikan di International Journal of Clinical Practice pada 6 Agustus 2019.

Ada juga studi lainnya menunjukkan, disfungsi ereksi menyebabkan hilangnya produktivitas. Kondisi ini menjadi masalah yang lebih serius karena semakin banyak pria yang lebih muda sudah mulai didera disfungsi ereksi.

Tingkat testosteron yang rendah serta peningkatan keparahan disfungsi ereksi termasuk faktor risiko dalam penurunan kualitas hidup, salah satunya penderita diabetes pria. Faktor obesitas dan alkohol juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi serta penyakit lainnya, misal gula darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, depresi dan hipertensi.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya