Cerita Paskibraka Nasional 2019 Rasakan Gempa Pertama Kali di Asrama

Oleh Ratu Annisaa Suryasumirat pada 17 Agu 2019, 06:00 WIB
Diperbarui 17 Agu 2019, 06:00 WIB
Paskibraka, Paskibraka 2019, Paskibraka Nasional 2019, Pembawa Baki 2019, Pembawa Baki Paskibraka Nasional 2019
Perbesar
Calon Paskibraka Nasional 2019 dari Sulawesi Selatan, Ulfiatussaah (kiri) dan dari Sumatera Selatan, Dini Damayanti (kanan). (Foto: Liputan6.com/Ratu Annisaa Suryasumirat).

Liputan6.com, Jakarta - Paskibraka Nasional 2019 dari Sulawesi Selatan, Ulfiatussaah, dan Paskibraka dari Sumatera Selatan, Dini Damayanti menceritakan pengalaman tak terlupakannya ketika menjalani pendidikan dan pelatihan di Cibubur, Jakarta Timur.

Apalagi kalau bukan gempa Banten yang terjadi pada 2 Agustus 2019. Gempa tersebut terasa sampai ke PP-PON Cibubur, Jakarta Timur. Mereka berdua sendiri memang baru pertama kali merasakan gempa.

“Baru pertama, ini jantung rasanya kayak mau loncat ke lapangan. Lampu ngayun-ngayun, pintu juga goyang. Jadi mau keluar itu ragu. Pas waktu itu lagi di masjid, mau adzan,” kata Dini kepada Diary Paskibraka Liputan6.com belum lama ini.

“Jangan sampai ngerasain lagi, ya Allah. Dini juga pikirannya gitu, terserah kepada Allah. Aku langsung lari aja ke lapangan. Sempat ngamanin jantungnya lama banget, tidur aja tidak nyenyak, kebangun melulu,” kata Paskibraka Nasional 2019 yang dikenal ceriwis ini.

Sementara U’ul, saat itu dirinya tengah beristirahat di kamarnya karena sedang tidak salat. Ketika gempa mengguncang, dia lantas berlari dengan cepat keluar dari kamar.

Gempa dengan kekuatan 7,4 SR yang berpusat di 147 km Barat Daya Sumur-Banten ini membuatnya sangat kaget. U’ul pun sempat sedih karena takut ibunya di kampung halaman khawatir dengan keadaannya.

“Aku takut dia kayak cemas gitu, kan enggak pernah pegang handphone. Enggak pernah nelpon, enggak pernah kasih kabar, nanti dia takut, jadi ya aku di sini baik-baik saja. Aku khawatir, sempat nangis,” katanya.

Namun, pengalaman tak terlupakan ini juga membawa tawa tersendiri bagi dua Paskibraka Nasional 2019 tersebut. U’ul mengatakan, dia jadi merasa geli sendiri ketika ingat rasa paniknya saat gempa terjadi.

“Lucu banget kak, aku kan lagi di lantai dua tuh karena kan lagi enggak salat. Jadi ambil tangga itu langsung lima anak tangga, langsung lari,” ujar dia sambil tertawa lepas.

“Pas itu dibilang mau ada gempa susulan, udah siapin baju kalau keluar harus buru-buru. Langsung atur strategi lah, Kak,” dia menambahkan.

 

Rindu dengan Orang Tua

Paskibraka, Paskibraka 2019, Paskibraka Nasional 2019
Perbesar
Calon Paskibraka Nasional 2019 dari Sulawesi Selatan, Ulfiatussaah (kanan) dan dari Sumatera Selatan, Dini Damayanti (kiri). (Foto: Liputan6.com/Ratu Annisaa Suryasumirat).

U’ul dan Dini menambahkan, mereka berdua sangat senang menjalani Diklat Paskibraka 2019. Sebab, semua teman-teman yang ada di sana memiliki cerita tersendiri yang unik.

“Semuanya kocak kak, kalau ketemu kayak orang gak waras semua gitu. Itu yang bikin kita semangat di sini karena kita beda-beda,” kata U’ul.

Selain itu, dukungan dari orangtua juga selalu diingat oleh mereka berdua. Semangat latihan pun mereka jaga dengan baik guna membanggakan orangtua.

“Suka duka pasti ada Kak, kayak rindu orangtua, jauh dari orangtua, pasti rindu," katanya.

“Walaupun jauh dari orangtua tetep semangat, penyemangatnya juga ada. Kalau orangtua di sini bunda juga ada. Jadi kalau rindu orangtua itu lihat Bunda Nina, Kak Ophy, Kak Tri, langsung terobati,” Dini menambahkan.

Kebetulan, mereka berdua juga ingin menjadi Polwan. Karenanya, U’ul dan Dini pun serius dalam berlatih di Paskibraka 2019 agar punya kesempatan yang lebih baik untuk masuk Akademi Kepolisian (Akpol).

“Mau masuk Akpol, angkat derajat orangtua,” kata U'Ul

“Jangan lupa doain aku, semoga aku di sini sehat-sehat. Bisa 17-an Agustus, bisa membanggakan orang tua, kebetulan ayah udah meninggal, tinggal ibu, terus aku di sini baik-baik saja,” U’ul mengakhiri.

Saksikan Video Menarik Terkait Paskibraka Nasional

Lanjutkan Membaca ↓