Tips dari Dokter Anak untuk Meyakinkan Orangtua Antivaksin

Oleh Benedikta Desideria pada 09 Agu 2019, 10:00 WIB
Diperbarui 10 Agu 2019, 05:14 WIB
20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta Banyak orangtua merasakan sulitnya meyakinkan segelintir orangtua lain yang antivaksin. Umumnya, orangtua antivaksin itu beralasan tidak tega anaknya jadi sakit atau demam pascavaksinasi.

Menurut dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang FKUI Hartono Gunardi, memang kadang-kadang orangtua sangat khawatir ketika anaknya yang sehat lalu diimunisasi jadi menangis, sedikit demam dan ada bekas suntikan.

"Namun, orangtua perlu tahu bahwa bila anak yang tidak diimunisasi rentan terhadap penyakit infeksi yang berbahaya," kata Hartono dalam Instagram Live Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Kamis (8/8/2019).

Hartono mencontohkan bila anak tidak mendapatkan vaksinasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) lalu terserang penyakit difteri di kemudian hari, penyakit tersebut membuat anak jadi sulit bernapas.  Anak harus segera dibawa ke rumah sakit, dan mungkin perlu mendapatkan serum dari luar negeri agar bisa sembuh.

"Sementara, di luar negeri serum ini sudah sedikit, karena kasusnya sudah sedikit, banyak pabrik serum sudah tutup (tidak memproduksi lagi)," kata Hartono.

Daripada membuka peluang anak berisiko terkena difteri, tentu lebih mudah bila anak mendapatkan imunisasi.

"Jadi, jangan menunggu jatuh sakit, lebih baik diimunisasi," sarannya.

2 of 3

Efek Samping Vaksinasi Ringan

Pemprov Aceh Akhirnya Bolehkan Vaksinasi MR
Vaksinasi di Aceh (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

Hartono tidak menampik bahwa usai anak mendapatkan vaksinasi bakal ada reaksi dari tubuh. Seperti menangis, sedikit demam, atau bengkak di bekas suntikan.

"Ada efek samping tapi itu ringan dan sederhana dan akan membaik dalam beberapa hari," katanya.

 

3 of 3

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓