Puan Maharani Terima Penghargaan Tertinggi dari Majalah Her Times

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 24 Jul 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 24 Jul 2019, 18:16 WIB
Puan Maharani

Liputan6.com, Singapura Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menerima anugerah penghargaan Eminent Women of the Year 2019 dari Majalah Her Times pada 22 Juli 2019. Anugerah penghargaan tersebut dalam acara The Third Women Empowerment Award di Singapura.

“Kontribusi Bu Puan Maharani yang luar biasa dalam pemberdayaan perempuan patut menjadi contoh teladan bagi perempuan, terutama perempuan Indonesia dan Singapura,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Her Times, Annie Song, sesuai keterangan rilis Humas yang diterima Health Liputan6.com, ditulis Rabu (24/7/2019).

Penghargaan tersebut diberikan kepada perempuan luar biasa yang memiliki inisiatif dan pelaku dalam pemberdayaan perempuan serta mampu menjadi panutan. Majalah Her Times merupakan majalah Tiongkok yang ada di Singapura.

Puan Maharani adalah perempuan pertama yang mendapat penghargaan kategori tertinggi dari Majalah Her Times. Tak hanya menerima penghargaan, Puan Maharani juga dikukuhkan sebagai Ketua Yayasan Perempuan RISING, yang akan berkarya selama tiga tahun ke depan.

Sebagai Ketua Yayasan Perempuan RISING, Puan Maharani semakin berpeluang meningkatkan kesadaran dan mendorong pengaruh Indonesia dan Singapura melalui pemberdayaan perempuan.

“Saya bersyukur dan merasa terhormat menerima penghargaan ini. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi yang tak ternilai. Sekaligus menuntut lebih banyak tanggung jawab untuk terus berjuang dalam memberdayakan perempuan” ujar Puan Maharani.

2 of 4

Perkuat Peran Perempuan

Puan Maharani
Selain menerima penghargaan di Singapura pada 22 Juli 2019, Puan Maharani juga dikukuhkan sebagai Ketua Yayasan Perempuan RISING, yang akan berkarya selama tiga tahun ke depan. (Dok Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)

Di ajang The Third Women Empowerment Award, Puan juga menjadi pembicara. Dalam pidato, ia menekankan pentingnya kerja sama atau gotong royong untuk memperkuat peran perempuan di segala bidang.

"Pemberdayaan perempuan ini sebagai kesetaraan gender, bukanlah untuk meneguhkan siapa yang mendominasi dan didominasi, melainkan menemukan koridor bersama dalam segala aktivitas kehidupan tanpa membedakan pelakunya, laki-laki atau perempuan," Puan melanjutkan.

Ia juga mengutip pernyataan Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang mengambarkan peran perempuan dan laki-Laki diibaratkan sebagai dua sayap seekor burung. Jika dua sayapnya sama kuat, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya.

Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapat terbang burung itu sama sekali. "Inilah semangat yang harus kita tanamkan bersama dalam membangun dunia, yang mana perempuan dan laki-laki dalam harkat, martabat, kemajuan, dan kesejahteraan yang sama," tegasnya.

3 of 4

Tokoh Indonesia yang dapat Penghargaan

Puan Maharani
Selain Puan Maharani, ada tokoh-tokoh Indonesia yang terima penghargaan The Women Empowerment Award, salah satunya Tri Rismaharani (Wali Kota Surabaya). . (Dok Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)

Atas anugerah tersebut, Puan juga memberikan apresiasi kepada majalah Her Times dan Dewan Juri, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Puan bersyukur dan berterima kasih telah memercayai penghargaan tertinggi ini kepada dirinya.

Selain Puan, ada enam perempuan Indonesia dan lima perempuan Singapura yang juga mendapat penghargaan The Women Empowerment Award. Di antaranya Tri Rismaharani (Wali Kota Surabaya), Rina Ciputra (Komisioner PT Ciputra Development Tbk), Dewi Fortuna Anwar (Peneliti CSIS), dan Yenny Wahid (Direktur Wahid Institute), Carmelita (Presiden Andhika Lines), dan Anak Agung Ayu (Pendiri Citra Kartini).

Ungkapan syukur dipanjatkan Risma, "Saya dengan tulus berterima kasih atas penghargaan ini, sebuah kehormatan berada di antara semua perempuan yang mengagumkan malam ini."

Sebagai wali kota perempuan pertama di kota besar seperti Surabaya, ia harus memahami seluk beluk Surabaya dan memimpin dengan hati dan kasih sayang. 

"Tujuan inti saya, salah satunya adalah pemberdayaan perempuan. Wanita mempunyai peran inti di Surabaya, bukan hanya di kota pemerintahan. Namun, beberapa (upaya) pengendalian di antaranya, lingkungan, kampanye kesehatan, dan program kesejahteraan keluarga," lanjutnya.

 

4 of 4

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by