Bahaya Konsumsi Air Tidak Bersih yang Siap Melanda Selama Musim Kemarau

Oleh Liputan6.com pada 10 Jul 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 11 Jul 2019, 06:13 WIB
Ilustrasi Anak Minum Air Putih (iStockphoto)

 

Liputan6.com, Jakarta - Musim kemarau panjang mulai melanda beberapa daerah di Indonesia. Kemarau panjang tersebut berakibat kurangnya sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat. Alhasil, beberapa masyarakat terpaksa mengonsumsi dan menggunakan air kubangan atau air yang tercemar untuk beraktivitas.

Warga Wanakerta, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang contohnya. Warga desa terpaksa menggunakan air dari sungai yang tercemar limbah industri untuk mencuci dan mandi.

Padahal banyak bahaya yang mengancam masyarakat apabila menggunakan dan mengonsumsi air yang tidak bersih. Dikutip dari situs WHO International pada Selasa, 9 Juli 2019, air yang tidak bersih dapat menyebabkan penularan penyakit seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tipus, dan polio ketika masuk ke tubuh.

 

2 of 3

Banyak yang Meninggal karena Konsumsi Air Kotor

Sebenarnya, Berapa Banyak Air yang Harus Diminum Setiap Hari?
Ternyata, begini faktanya tentang berapa banyak air yang harus Anda minum setiap hari (iStockPhoto)

 

Sekitar 829.000 orang diperkirakan meninggal setiap tahun karena diare akibat air minum yang tidak bersih, sanitasi, dan kebersihan tangan. Walaupun diare dapat dicegah, tapi tidak memungkinkan apabila kebersihan termasuk air tidak diperbaiki.

Mencuci tangan bukan menjadi prioritas banyak orang ketika air tidak tersedia sehingga menambah kemungkinan terkena diare dan penyakit lainnya.

 

3 of 3

Minum Air Tak Bersih Berakibat Diare

Ilustrasi Anak Minum Air Putih (iStockphoto)
Diare Bisa Terjadi pada Anak karena Minum Air Tidak Bersih (Ilustrasi/iStockphoto)

 

Diare adalah penyakit yang dikaitkan dengan makanan dan air yang terkontaminasi tetapi selain diare ada penyakit bahaya lainnya. Pada 2017, lebih dari 220 juta orang memerlukan pengobatan pencegahan penyakit Schistosomiasis, penyakit akut dan kronis akibat cacing parasit akibat air yang terinfeksi.

Risiko kesehatan juga diperburuk oleh sanitasi yang buruk. Sekitar 20 persen dari populasi perkotaan masih kekurangan akses ke sanitasi yang baik pada 2012. Pembuangan limbah juga termasuk sumber sanitasi yang buruk.

Kegagalan mengolah dan membuang limbah padat dapat meningkatkan faktor pembawa penyakit seperti tikus dan serangga, selain itu kondisi perkotaan yang padat juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Penulis: Febrianingsih Alamako

Lanjutkan Membaca ↓