Kepala BKKBN: Banyak Remaja Tidak Tahu Risiko Pernikahan Dini

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 02 Jul 2019, 14:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2019, 14:16 WIB
Ilustrasi Pernikahan

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengungkapkan masih banyak remaja yang tidak tahu risiko pernikahan dini atau perkawinan anak. Padahal, isu tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menghadapi masalah demografi di Indonesia.

"Masih banyak anak-anak SMA yang tidak tahu tentang faktor risiko pernikahan dini atau perkawinan anak seperti kanker mulut rahim. Banyak yang belum tahu," kata Hasto ditemui Health Liputan6.com, usai pelantikannya di Kantor BKKBN, Jakarta, ditulis Selasa (2/7/2019).

Sebagai seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Hasto menjelaskan, ketika seorang wanita berusia 18 tahun maka rahim masih mudah terpapar kanker bila ia sudah aktif berhubungan seksual. Padahal, edukasi semacam itu dinilai bisa disosialisasikan dengan mudah oleh para remaja.

Hasto mengatakan, edukasi semacam ini perlu dilekatkan ketika ada sebuah diskusi, perdebatan, atau sosialisasi terkait pernikahan dini.

"Kalau bisa, diskusi itu berdasarkan proses biologis ya. Jadi, ketika kita berdebat tentang pernikahan dini, mbok kita itu mempertimbangkan tentang proses biologis, faktor risiko, seperti kanker mulut rahim, harus kita sosialisasikan," kata pria yang namanya melejit usai menjadi Bupati Kulon Progo ini.

Hasto menerangkan untuk menghadapi masalah semacam ini, program generasi berencana (GenRe) bisa penting untuk disosialisasikan pada remaja, terkait pencegahan pernikahan dini.

2 of 3

Tantangan: Soal Masalah Demografi

Menkes Nila usai pelantikan Hasto Wardoyo sebagai Kepala BKKBN. (Foto: Liputan6.com/Giovani Dio)
Menkes Nila usai pelantikan Hasto Wardoyo sebagai Kepala BKKBN. (Foto: Liputan6.com/Giovani Dio)

Dalam keterangan pers, Hasto mengatakan fokus BKKBN ke depan adalah bagaimana menghadapi bonus demografi. Hasto menjelaskan saat ini, satu penduduk yang tidak produktif ditanggung oleh dua orang produktif.

"Tapi ingat, penduduk produktif itu identik dengan penduduk yang konsumtif. Dia bisa jadi berkah bisa jadi musibah, karena itu saya kira fokusnya di situ," tambahnya.

Selain itu, ia menilai bahwa saat ini untuk membentuk keluarga yang sejahtera orientasinya sudah bergeser kepada kebahagiaan.

"Kalau saya sih itu yang saat ini penting," kata pria yang juga mendirikan sebuah rumah sakit ibu dan anak di Sleman, Yogyakarta itu.

3 of 3

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓