6 Masalah Tak Terduga Akibat Polusi Udara Seperti di Jakarta

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 02 Jul 2019, 10:00 WIB
Polusi Udara di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Beberapa hari terakhir, polusi udara di Jakarta berada dalam angka terburuk oleh laman pemantau kualitas udara, AirVisual. Kondisi tersebut jelas tidak baik bagi kesehatan masyarakat.

Berdasarkan laman AirVisual pada Senin (1/7/2019), indeks kualitas udara di Jakarta mencapai 178 atau tidak sehat.

Apabila selama ini polusi udara banyak terkait dengan masalah kesehatan pernapasan seperti asma, pnemumonia, dan kardiovaskular, beberapa penelitian menemukan kondisi medis lain yang bisa terpicu karena kualitas udara buruk. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini beberapa masalah tidak terduga akibat polusi udara.

1. Risiko Kematian Anak

Laporan dari State of Global Air (SOGA) 2019 menyatakan bahwa polusi udara berisiko mengurangi harapan hidup anak hingga 20 bulan. Khususnya mereka yang hidup di wilayah dengan polusi tinggi.

Mereka menemukan, polusi udara menjadi penyebab kematian terbesar kelima di dunia. Lebih mematikan ketimbang alkohol, kekurangan gizi, serta narkoba.

"Bukti yang terus meningkat menunjukkan adanya hubungan antara paparan udara beracun dan berat badan saat lahir rendan, serta pengembangan paru-paru berkurang dan asma pada masa kanak-kanak," kata Alastair Harper dari UNICEF UK.

2 of 7

2. Turunkan Kecerdasan Anak

Jakarta Diselimuti Kabut
Kabut tipis menyelimuti udara di salah satu sudut kota Jakarta, Selasa (10/7). Tingkat polusi di Jakarta semakin memburuk dengan Indeks Kualitas Udara hari ini tercatat oleh BreezoMeter mencapai angka 151. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Dalam sebuah penelitian yang dimuat di Journal of Intelectivity Disability Research menemukan, polusi udara bisa menghambat perkembangan kognitif.

Studi di Inggris tersebut menyatakan bahwa anak dengan disabilitas intelektual, 33 persen lebih mungkin untuk hidup di daerah dengan tingkat partikel solar yang tinggi. Sementara, 30 persen Sementara, 30 persen kemungkinan tinggal di daerah dengan tingkat nitrogen dioksida yang tinggi.

"Anak-anak ini 30 persen lebih mungkin untuk tinggal di daerah dengan tingkat karbon monoksida yang tinggai dan 17 persen lebih mungkin tinggal di daerah dengan tingkat sulfur dioksida yang tinggi," tulis para peneliti dari Lancaster University, Inggris.

3 of 7

3. Kecerdasan Manusia Menurun

Polusi udara Jakarta
Ilustrasi (AFP)

Sebuah penelitian yang dilakukan di Tiongkok dalam Proceedings of National Academy of Sciences melakukan tes bahasa dan aritmatika pada 20 ribu orang. Mereka menemukan, paparan kualitas udara buruk yang terlalu lama menyebabkan kemampuan kognitif lebih buruk seiring berjalannya usia.

"Kerusakan pada otak yang menua akibat polusi udara, kemungkinan membebani kesehatan dan biaya ekonomi yang besar. Mengingat bahwa fungsi kognitif sangat penting bagi para lansia untuk menjalankan tugas sehari-hari dan membuat keputusan- keputusan penting," tulis para peneliti.

Selain itu, laporan tersebut juga mencatat polusi udara meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan demensia.

4 of 7

4. Kematian

Polusi Udara di Jakarta
Pengendara menggunakan masker saat meintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (12/3). Rata-rata harian kualitas udara di Jakarta dengan indikator PM 2.5 pada 2018 adalah 45,3 mikrogram per meter kubik udara. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Laporan SOGA 2019 menemukan, polusi udara menyumbang 41 persen kematian global akibat penyakit paru obstruktif kronik, 20 persen diabetes tipe 2, 19 persen kanker paru-paru, dan 11 persen kematian akibat stroke.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan, efek gabungan dari polusi udara dan rumah tangga menyebabkan sekitar 7 juta kematian dini di seluruh planet setiap tahunnya. Sebagian besar akibat meningkatnya kematian karena stroke, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronik, kanker paru-paru, dan infeksi saluran pernapasan akut.

Studi dalam European Heart Journal 2019 juga menyatakan bahwa polusi udara lebih berbahaya ketimbang rokok.

"Merokok bisa dihindari tetapi polusi udara tidak," kata penulis studi profesor Thomas Münzel dari Departemen Kardiologi University Medical Centre Mainz.

5 of 7

5. Diabetes

kelompok masyarakat yang menamakan diri Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibukota) mendatangi Balai Kota DKI Jakarta meminta agar pemerintah serius tangani polusi udara. (Foto: Liputan6/Giovani Dio Prasasti)
kelompok masyarakat yang menamakan diri Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibukota) mendatangi Balai Kota DKI Jakarta meminta agar pemerintah serius tangani polusi udara. (Foto: Liputan6/Giovani Dio Prasasti)

Meski belum diketahui kaitan langsung antara polusi udara dengan diabetes. Namun dalam penelitian yang diterbitkan di The Lancet Planetary Health 2018, peningkatan risiko penyakit tersebut terlihat signifikan.

"Penelitian kami menunjukkan hubungan yang signifikan antara polusi udara dan diabetes secara global," kata penulis senior studi tersebut Dr. Ziyad Al-Aly, asisten profesor kedokteran di Universitas Washington, St. Louis, Amerika Serikat.

Para peneliti meyakini, polusi udara mengurangi produksi insulin, memicu peradangan, dan mencegah tubuh untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.

6 of 7

6. Mudah Berhalusinasi

Aktivis dari Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta
Aktivis membentangkan spanduk saat kampanye damai terkait buruknya udara Jakarta di Bundaran HI, Rabu (5/12). Aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah akibat lalai dalam menangani polusi udara di Jakarta. (Merdeka.com/Imam Buhori)

Sebuah penelitian dari King's College London, Inggris menyatakan anak yang terpapar polusi udara 72 persen berisiko mengalami pengalaman psikotik. Para ilmuwan mendapatkan hasil ini setelah menganalisis 2.062 remaja usia 18 tahun dan melihat tingkat pencemaran udara di sekitar tempat tinggalnya.

30 persen perserta dilaporkan memiliki paling tidak satu kali pengalaman psikosis semenjak usia 12 tahun. Salah satu masalah yang paling sering dialami adalah halusinasi. Beberapa partisipan mendengar suara-suara misterius, merasa sedang diikuti, atau diawasi. Angkanya bahkan lebih tinggi dengan tingkat polusi yang lebih tinggi.

Studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA Psychiatry tersebut juga menyatakan bahwa partikel di polusi udara mengandung nitrogen oksida, nitrogen dioksida, serta partikel-partikel yang sangat kecil. Mereka yang terpapar nitrogen oksidan 72 persen lebih berisiko.

7 of 7

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓