Lalai Mengawasi Anak, Orangtua Perlu Dapat Sanksi

Oleh Liputan6.com pada 21 Jun 2019, 11:00 WIB
Pasutri tersangka adegan ranjang secara live kepada sejumlah ABG di Tasikmalaya tengah melakukan pemeriksaan di depan penyidik

Liputan6.com, Jakarta Kasus pasangan suami istri (pasutri) muda di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang mempertontonkan adegan seks secara berbayar kepada anak-anak perlu dihukum. Namun, bukan hanya pasutri tersebut yang perlu mendapatkan hukuman. Orangtua dari anak-anak yang abai mengawasi buah hatinya perlu mendapat sanksi agar menjadi pembelajaran seperti disampaikan pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devi Rahmawati.

"Pelaku harus dihukum sesuai perbuatannya, tetapi tanggung jawab itu tidak dibebankan begitu saja kepada pelaku, orangtua seharunya diberikan sanksi bisa denda atau kerja sosial karena tidak mampu mendampingi anak-anaknya," kata Devie di Jakarta seperti dikutip Antara. 

Selama ini terjadi budaya menyalahkan orang lain di masyarakat. Padahal untuk kasus-kasus pornografi yang melibatkan anak ini juga ada fungsi pengawasan dari orangtua.

Jika hanya pelaku yang disalahkan, maka semua orangtua akan melepaskan tanggung jawabnya dan menyalahkan orang lain.

"Padahal yang salah adalah dia (orang tua) tidak mendampingi anak-anaknya mendapatkan ilmu yang tepat, bahwa pornografi itu tidak bisa dikonsumsi di usia sangat muda," kata dosen Vokasi Universitas Indonesia ini.

 

2 of 4

Paparan Teknologi pada Anak

Devie menyebutkan orangtua harus tahu bahwa saat ini tnegah bersaing dengan teknologi yang sangat cepat. Itu sebabnya orangtua harus memperketat pengawasanya dan membangun komunikasi dengan anaknya.

"Caranya, sediakan ruang untuk berkomunikasi dengan anak, permasalahan durasinya itu kualitas," kata Devie yang juga aktif menulis ini.

Devie mengatakan sanksi denda tersebut juga bisa dikembalikan lagi kepada orang tua untuk digunakan kembali mendidik anaknya, sehingga ke depan para oran tua jangan sekadar membangun budaya menyalahkan orang lain.

 

3 of 4

Penyebab Orangtua Lalai

Saat ditanya soal faktor yang melalaikan orang tua mengawasi anaknya, Devie mengatakan ada beberapa hal yang menjadi penyebab kelalaian, yakni karena memang tidak ada bimbingan belajar menjadi orangtua. Selain itu teknologi yang begitu pesat, sementara orangtua hanya mampu mendidik anak dari pengalaman yang didapat saat saat dirinya kecil (sebagai anak).

"Padahal pada saat itu kondisi orangtua sebagai anak sudah sangat berbeda dengan kondisi sekarang," kata Devie.

Faktor berikutnya orang tua tidak punya referensi dan orangtua berpikir ketika dia sudah memasukkan anak sekolah dan memberikan pendidikan agama hal itu sudah selesai.

"Karena orangtua berpikir hal-hal tersebut sudah diajarkan dan akan mampu menjadi benteng. Dia tidak sadar bahwa gempuran media-media itu jauh lebih kuat di bandingkan pengetahuan-pengetahuan yang ada," kata Devie.

Ia mengatakan perlunya anak-anak diajarkan tentang pendidikan biologis, termasuk pendidikan seks dengan cara dan metode yang tepat.

Mestinya para orang tua mengajar kepada anaknya dari semenjak kecil terkait pelajaran biologis, pendidikan seks. Orang kebanyakan mengartikan pendidikan seks itu mengajarkan seks, padahal anak-anak perlu melihat apa bahayanya ketika menonton tayangan pornografi.

Banyak hasil penelitian mengungkapkan bahaya menonton tayangan pornografi. Anak-anak yang terpapar pornografi otaknya secara fisiologis lebih rusak dibanding ketika mereka menegak narkoba.

Ketika hal itu diajarkan oleh orang tua kepada anak maka dari awal anak-anak mereka akan membangun sensorsif buat diri mereka.

"Artinya orang tua harus mau belajar tidak bisa lagi berbekal pengetahuan di masa lalu. Orang tua harus meng-upgrade dirinya," kata Devie.

4 of 4

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓