Alergi Akibat Gigitan Nyamuk, Apa Bisa?

Oleh Liputan6.comDyah Puspita WisnuwardaniAditya Eka Prawira pada 19 Jun 2019, 19:00 WIB
Nyamuk

Liputan6.com, Jakarta - Nyamuk tidak disenangi hampir semua orang karena merupakan hewan yang dapat menyebarkan penyakit seperti malaria.

Dilansir dari Men's Health pada Rabu, 19 Juni 2019, ternyata nyamuk pun menjadi ancaman lebih besar bagi seseorang yang memiliki alergi terhadap serangga.

Menurut American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology, jika Anda memiliki benjolan merah dan berukuran besar setelah digigit nyamuk, itu bisa jadi pertanda bahwa Anda alergi gigitan nyamuk (skeeter syndrom)

Ahli alergi dan asisten profesor di Klinik Obat, NYU Langone Health, Clifford Bassett mengatakan bahwa seseorang yang mengalami alergi gigitan nyamuk mengalami reaksi inflamasi terhadap protein dalam saliva nyamuk.

Akan tetapi tidak diketahui secara pasti berapa banyak orang yang mengalami hal ini, hanya saja untuk saat ini kondisi ini merupakan hal langka.

 "Saya melihat orang dengan alergi gigitan nyamuk meningkat dalam jangka waktu lima tahun," kata Bassett.

 

 

2 of 4

Populasi Nyamuk

Nyamuk
Ilustrasi Foto Nyamuk (iStockphoto)

Menurut Basset, hal ini mungkin disebabkan populasi nyamuk yang meningkat sehingga lebih banyak orang yang membutuhkan perawatan disebabkan alergi gigitan nyamuk.

Namun, ini bukanlah pertanda bahwa populasi manusia dalam jumlah besar memiliki alergi tersebut.

Lalu bagaimana gejalanya? Gigitan dari nyamuk akan membesar, bengkak, merah dan terasa sangat gatal. Kadang pun terasa sakit dan hangat sama seperti infeksi.

Faktanya, seseorang dengan kondisi ini seringkali mendapatkan diagnosis infeksi kulit karena gejala yang mirip.

"Ini adalah kondisi yang terkadang menjadi sedikit rumit," kata Basset.

 

 

3 of 4

Menggaruk Gigitan Nyamuk

Nyamuk
Ilustrasi Foto Nyamuk (iStockphoto)

Menggaruk gigitan nyamuk tersebut pun bisa menyebabkan infeksi disebabkan bakteri yang ada di bawah kuku. Dokter mungkin akan memberikan obat antibiotik untuk mencegah.

Dalam beberapa kasus, pasien dapat mengalami permasalahan pernafasan, sakit tenggorokan, gatal-gatal, dan anafilaksis. Namun, hal ini jarang terjadi.

"Saya hanya melihat sedikit orang yang memiliki dampak berbahaya karena alergi terhadap nyamuk," kata Bassett.

Basset mengatakan bahwa tes darah dapat memperlihatkan apabila seseorang memiliki alergi terhadap saliva nyamuk dan uji tusuk kulit dapat menentukan hal tersebut.

 

 

4 of 4

Perawatan Alergi Nyamuk

Nyamuk
Ilustrasi Foto Nyamuk (iStockphoto)

Lalu bagaimana perawatannya? Bassett mengatakan bahwa antibiotik tidak diperlukan kecuali dokter khawatir pasien akan mengalami infeksi.

Krim kortison dapat meredakan rasa gatal dan kemerahan pada kulit. Sedangkan es dapat meredakan pembengkakan dan menurunkan rasa tidak nyaman.

Dia bahkan juga menyarankan pasien obat antithistamin sebelum keluar beraktivitas untuk meredakan gejala.

"Saya menemukan bahwa pencegahan dengan antithistamin merupakan solusi mudah dan nyaman. Saya lebih memilih yang non sedatif," kata Bassett.

Namun, kunjungilah dokter bila memiliki gejala parah atau kesulitan bernafas. Untuk pencegahan, Anda pun juga bisa menggunakan krim penangkal nyamuk atau sejenisnya sebelum keluar rumah. 

 

Penulis: Khairuni Cesario

Lanjutkan Membaca ↓