Curhat 3 Pemudik Disabilitas yang Sulit Akses Toilet di Rest Area

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 04 Jun 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 04 Jun 2019, 22:15 WIB
Pemudik

Liputan6.com, Jakarta Curahan hati Pungki (44), Widodo (37), dan Faisal Namin (42) mengalir pilu saat beristirahat di Rest Area KM 39 Cikarang tol Jakarta-Cikampek. Ketiganya merupakan penyandang disabilitas pengguna kursi roda yang difasilitasi mudik Lebaran 2019 oleh Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) LAZISMU.

Perjalanan mudik dilakukan pada Sabtu, 1 Juni 2019 menggunakan bus khusus disabilitas. Pungki dan Widodo mudik ke Jawa Timur, sedangkan Namin pulang ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah.

Saat bus berhenti untuk istirahat di Rest Area KM 39 Cikarang, jalan dari tempat parkir menuju toilet tidak ramah akses disabilitas. Pungki, Widodo, dan Namin harus melewati tanjakan, undakan, dan tidak ada ramp (bidang miring/datar) yang bisa dilalui pengguna kursi roda.

Dari tiga lokasi toilet di rest area di KM 39, hanya satu yang ada tanda akses disabilitas. Satu ruang toilet yang ada pun sulit sekali dijangkau karena kontur tanah dan bangunan naik-turun. Kemiringan bangunan tidak bisa dilewati sendiri oleh pengguna kursi roda.

Akses tangga menuju toilet juga sangat tinggi. Namin yang mencoba menjangkau toilet akses disabilitas kesulitan karena padatnya mobil yang berebut parkir dan lalu-lalang di rest area.

“Untuk naik di jalan tanjakan menuju bangunan rest area yang tersedia toilet akses, saya harus bersaing dengan banyak mobil yang berhenti buat mengantre parkir. Ya, mesti melewati undakan-undakan lantai yang tidak kalah curam dan tinggi. Karena sulit ke sana, akhirnya saya memilih pindah lokasi toilet umum lain yang jaraknya ratusan meter,” tutur Niman dalam keterangan rilis yang diterima Health-Liputan6.com ditulis Selasa (4/6/2019).

2 dari 4 halaman

Buang Air Kecil di Plastik

Pemudik
Pemudik disabilitas harus buang air kecil di plastik. (Dok MRAD)

Meski jalan menuju toilet relatif landai, bangunan toilet yang dipergunakan Pungki, Widodo, dan Namin juga  tidak mudah diakses. Ketiganya harus didampingi dan dibantu orang lain. Seluruh pintu bilik toilet ini tidak bisa dimasuki kursi roda.

Akibatnya, di depan pintu bilik toilet, Namin harus mengeluarkan plastik untuk menampung dan membuang air kencingnya. Hal itu ia lakukan dalam posisi menghadap kamar mandi.

Sementara itu, Widodo harus turun dari kursi rodanya lantas merangkak ke dalam kamar mandi ukuran 90 cm x 1,15 meter dengan pintu tetap terbuka.

Di toilet wanita, Pungki juga harus turun dari kursi rodanya demi buang air kecil.“Ruang  kamar mandi tidak bisa dimasuki kursi roda, terpaksa saya harus turun,” keluhnya.

3 dari 4 halaman

Perlu Fasilitas Toilet Ramah Disabalitas

Pemudik
Pintu kamar mandi tak muat untuk kursi roda milik pemudik disabilitas masuk. (Dok MRAD)

Kesulitan buang air kecil saat perjalanan mudik, Widodo berharap pemerintah dan pihak-pihak lain memperhatikan penyandang disabilitas. 

“Saya berharap, pemerintah sangat memerhatikan para penyandang disabilitas dengan menyediakan transportasi yang bisa diakses. Di setiap rest area juga perlu disediakan toilet akses disabilitas agar kami tidak basah-basahan," katanya. 

"Sebab, toilet ini tidak bisa kami gunakan dan sangat sulit buat penyandang paraplegia dan cerebral palsy,” lanjut pria yang ikut mengaudit transportasi dan fasilitas publik bersama program Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2019.

Walaupun mengalami hambatan menggunakan toilet di rest area, Pungki merasa senang bisa ikut mudik bersama MRAD.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓