Pesan Dokter Gizi untuk Anak Kos yang Sahur Makan Mi Instan

Oleh Aditya Eka Prawira pada 25 Mei 2019, 17:00 WIB
Diperbarui 27 Mei 2019, 16:13 WIB
Ilustrasi Mi Instan (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Mi instan seringkali jadi pilihan anak kos untuk makan sahur saat bulan puasa. Mereka biasanya beralasan bahwa mi lebih gampang dibuatnya dan harganya yang murah.

Tak apa-apa sebenarnya mengonsumsi mi instan, baik saat sahur maupun sesudah berbuka. Namun, jangan terlalu sering.

Spesialis gizi klinis, dr Diana F Suganda, mengatakan, yang namanya makanan cepat saji seperti halnya mi instan, ada efek samping yang bisa langsung dirasakan oleh tubuh. Terlebih saat Ramadan, kondisi perut bisa tanpa isi selama lebih dari 10 jam.

"Makanan instan itu sudah pasti diproses. Yang jelas, pengawetnya lebih tinggi dan garamnya juga tinggi," kata Diana belum darah.

 

2 of 2

Mi Instan Tinggi Garam

Mi Unicorn, Sensasi Seru Menikmati Mi Gaya Baru
Seperti apa mi instan gaya baru yang marak dibicarakan? (iStockphoto)​

Menurut Diana, garam memiliki sifat menarik cairan (deuretik). Yang membuat si penikmat mi instan di saat sahur bisa haus seharian,"Semakin haus, semakin dehidrasi pula."

Diana, mengimbau, supaya yang berpuasa bisa mengurangi konsumsi garam di pagi hari. Belum terlambat, karena puasa tersisa sepuluh hari lagi.

Pun dengan pengawet, harus dikurangi. Sebab, membuat tubuh kita bekerja lebih keras di siang hari.

Karena itu sebaiknya tidak menyantap makanan penuh santan dan gorengan di pagi hari. Bisa bikin kita haus seharian.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by