Saran Ahli Gizi agar Pasien Hipertensi Tetap Sehat di Kala Puasa

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 14 Mei 2019, 18:00 WIB
Diperbarui 16 Mei 2019, 08:13 WIB
Ilustrasi Hipertensi, Tekanan Darah, Tekanan Darah Tinggi (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Beberapa kondisi seperti pasien gagal ginjal dan diabetes yang tidak terkontrol sebaiknya diminta tidak melakukan puasa Ramadan. Namun, bagaimana dengan orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi?

Triyani Kresnawan, Dietisien Instalasi Gizi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa orang dengan hipertensi boleh berpuasa. Tentunya harus disesuaikan dengan kondisi yang dimiliki pasien.

"Orang yang hipertensi dan harus minum obat terus, obatnya bisa diatur pada saat buka dan sahur," kata Triyani dalam sebuah temu media di kantor Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kuningan, Jakarta ditulis Selasa (14/5/2019).

Sementara, agar tekanan darah tetap terkontrol, pasien hipertensi disarankan untuk mengurangi konsumsi garam saat makan sahur atau buka puasa. Untuk ukuran yang dianjurkan, Anda bisa menggunakan versi DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension).

"Kurang lebih yang dianjurkan DASH diet sekitar 5 gram NaCl untuk pasien hipertensi," kata Triyani menjelaskan. Angka ini bisa disamakan dengan ukuran rumah tangga yaitu satu sendok teh per hari.

 

2 of 3

Manfaat Puasa Turunkan Tekanan Darah

Ilustrasi Hipertensi, Tekanan Darah, Tekanan Darah Tinggi (iStockphoto)
Dianjurkan untuk Kita Rutin Mengecek Tekanan Darah agar Terhindar dari Hipertensi Sekali Setahun (Ilustrasi/iStockphoto)

Mengutip Cleveland Clinic pada Selasa (14/5/2019), kardiolog Haitham Ahmed mengatakan bahwa ada banyak keuntungan dari puasa makanan untuk sementara. Salah satu dari banyak manfaatnya adalah membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, mengontrol diabetes, dan berat badan.

"Empat risiko utama penyakit jantung adalah tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, dan berat badan, sehingga ada dampak sekunder," kata Ahmed.

"Jika kita mengurangi itu, kita bisa mengurangi risiko penyakit jantung," tambahnya.

Namun, beberapa orang tetap memiliki risiko dari berpuasa. Ahmed mengatakan, hal ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, jantung tidak stabil dan rentan aritmia.

Sehingga, Ahmed menyarankan orang untuk memeriksa tes darah. Terutama, untuk melihat diet yang tepat, suplementasi kalium, serta mencegah terjadinya ketidakseimbangan elektrolit.

Karena itu, kapanpun Anda memiliki masalah atau kondisi kesehatan tertentu, bicaralah dengan dokter terlebih dulu jika ingin melakukan puasa.

3 of 3

Saksikan juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by