WHO Uji Vaksin Malaria Pertama pada Anak

Oleh Dyah Puspita Wisnuwardani pada 29 Apr 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 29 Apr 2019, 07:00 WIB
20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Upaya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menyediakan vaksin malaria tampaknya mulai membuahkan hasil. Jelang akhir April 2019 ini, tepatnya pada 23 April, WHO memulai program imunisasi malaria pada anak-anak di daerah berisiko tinggi malaria di Afrika. Dimulai dari Malawi untuk kemudian diikuti dengan Ghana dan Kenya.

Masing-masing anak menerima empat dosis imunisasi malaria. Tujuannya mencegah empat dari 10 kasus malaria.

"Ini adalah hal yang berani untuk dilakukan, tapi bukan berarti solusi mudah bagi masalah yang rumit," ujar Thomas Churcher, ahli malaria di Imperial College London pada Associated Press.

"Selama penggunaan vaksin tidak dicampuri dengan usaha lain seperti kebutuhan mendesak untuk menggunakan insektisida baru, maka ini adalah hal yang baik untuk dilakukan," lanjutnya, melansir laman The Scientist.

 

 

2 dari 3 halaman

Vaksin pertama cegah malaria

WHO merencanakan penggunaan vaksin malaria ini untuk melengkapi upaya pencegahan malaria sebelumnya seperti penggunaan kelambu dan semprotan nyamuk.

Vaksin yang dibuat oleh GSK ini merupakan vaksin pertama untuk memerangi parasit malaria. Meski efektivitasnya lebih rendah dibandingkan vaksin lainnya dan pemberian empat dosis vaksin akan menghadapi tantangan logistik, WHO berharap langkah ini bisa lebih meningkatkan pencegahan terhadap malaria. 

3 dari 3 halaman

Target imunisasi 360 ribu anak per tahun

WHO berharap vaksin malaria ini bisa mempercepat usaha memerangi malaria yang setiap tahunnya memakan korban hingga 250 ribu anak di Afrika saja. Sementara, data 2016 memperkirakan ada 216 juta kasus malaria dengan 445 ribu kematian di 91 negara di dunia.

"Kami telah melihat keberhasilan penggunaan kelambu antimalaria serta cara lainnya untuk mengontrol malaria selama 15 tahun terakhir. Tapi program tersebut telah tertunda bahkan mengalami kemunduran di beberapa area. Kita perlu solusi baru untuk mengontrol persebaran malaria dan vaksin memberikan harapan baru untuk mencapai hal tersebut," ujar Director General WHO Tedros Adhanoom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan.

Program ini menargetkan sekitar 360 ribu anak untuk diimunisasi malaria setiap tahunnya.

Lanjutkan Membaca ↓