5 Langkah Aman Pergi ke Daerah Endemis Malaria

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 25 Apr 2019, 17:00 WIB
Diperbarui 25 Apr 2019, 17:00 WIB
Ilustrasi Travel
Perbesar
Langkah hindari penularan malaria ke daerah endemis. (dok. Pixabay.com/Putu Elmira)

Liputan6.com, Jakarta Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, jumlah kasus malaria di negara-negara di kawasan Asia Tenggara menurun. Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk kawasan Asia Tenggara, Poonam Khetrapal Singh menyampaikan, antara tahun 2015 dan 2017 perkiraan jumlah kasus yang diperkirakan dan dikonfirmasi menurun hingga 25 persen.

Negara-negara endemis malaria di kawasan Mediterania Timur juga membuat kemajuan yang signifikan. Kasus dan kematian malaria di wilayah ini turun lebih dari 60 persen antara tahun 2000 dan 2015. Hal ini berkat peningkatan cakupan intervensi pengendalian malaria.

Uni Emirat Arab dan Maroko disertifikasi bebas dari malaria. Mesir dan Oman sedang bersiap untuk sertifikasi status bebas malaria. Iran dan Arab Saudi mengalami kemajuan menuju eliminasi malaria.

Meski jumlah kasus malaria negara-negara endemis menurun, Anda harus tetap mempersiapkan diri agar tak kena malaria. Negara-negara di Afrika, seperti Malawi, Kongo, dan Ghana masih menjadi wilayah paling endemis malaria.

Kepala Ahli Patologi Centre for Emerging, Zoonotic and Parasitic Diseases, National Institute Communicable Diseases and Wits Research Institute for Malaria, University of the Witwatersrand John Frean memberikan langkah utama persiapan menuju negara endemis malaria.

1. Kesadaran menghindari risiko malaria

Memahami soal malaria dapat menghindari atau meminimalkan risiko kena malaria. Potensi kena malaria tergantung pada wilayah, terutama ketinggian dan iklim--umumnya tempat yang lebih rendah, lebih hangat dan lebih lembab. Kondisi ini semakin cocok untuk vektor malaria, nyamuk Anopheles berkembang biak.

Di Afrika selatan, sebagian besar malaria adalah kejadian musiman. Ini meningkat selama bulan-bulan musim panas yang lebih hangat dan lembab (September hingga Mei di belahan bumi selatan). Risiko malaria di musim dingin umumnya lebih rendah.

Paparan yang lebih lama, seperti menginap semalam di alam terbuka berisiko lebih tinggi kena malaria, misal hiking dan berkemah.

"Wanita hamil, bayi, dan anak kecil, yang punya sistem kekebalan tubuhnya lemah sebaiknya menghindari daerah penularan malaria sama sekali," kata John, dikutip dari The Conversation, Kamis (25/4/2019).

2 dari 5 halaman

Hindari gigitan nyamuk

Nyamuk
Perbesar
Hindari gigitan nyamuk. (iStockphoto)
3 dari 5 halaman

Deteksi gejala malaria

2. Hindari gigitan nyamuk

Menghindari gigitan nyamuk Anopheles, pembawa malaria adalah tindakan pencegahan yang paling penting. Ini karena gigitan nyamuk menularkan parasit. Tanpa gigitan, tidak ada penularan malaria.

Nyamuk punya organ sensorik yang mendeteksi kehangatan orang, mengeluarkan karbon dioksida, dan bau dari keringat.

Ada beberapa cara untuk menghindari gigitan nyamuk, yakni sudah berada di dalam rumah antara senja dan fajar serta menutupi kulit dengan pakaian lengan panjang saat ke luar di malam hari, lanjut John.

Insektisida dapat mencegah nyamuk. Krim anti nyamuk bisa diterapkan pada kulit. Cara lain menggunakan kelambu yang ditambahi insektisida. Menggunakan kipas angin dan pendingin ruangan menghambat aktivitas nyamuk di dalam ruangan.

3. Konsultasi obat pencegah malaria

Ada dua jenis obat yang digunakan untuk mencegah infeksi malaria. Produk atovaquone-proguanil menghentikan infeksi lebih awal, segera setelah gigitan nyamuk. Tipe kedua (doksisiklin, mefloquine dan atovaquone-proguanil) mengobati tahap infeksi selanjutnya, sebelum parasit dapat berkembang biak.

"Obat profilaksis sangat efektif jika dikonsumsi dengan benar. Penting untuk dipahami, tidak ada rejimen profilaksis yang 100 persen efektif. Tetapi infeksi masih cenderung lebih ringan daripada jika tidak ada obat yang digunakan,"John menambahkan.

4 dari 5 halaman

Deteksi gejala malaria

20151020-Ilustrasi-Sakit-Demam
Perbesar
Deteksi gejala malaria. (iStockphoto)

4. Deteksi gejala malaria

Deteksi perlu dilakukan sedini mungkin. Jika Anda sakit mengalami gejala seperti flu berupa sakit kepala, demam, menggigil, nyeri sendi, dan otot selama tiga bulan setelah kembali dari daerah endemis malaria, pastikan ke dokter.

"Kadang-kadang, malaria ditularkan di luar daerah endemik oleh nyamuk yang menumpang mobil atau taksi," tambah John.

Salah satu petunjuk kena malaria, yakni jumlah trombosit yang rendah. Ini diketahui saat pemeriksaan demam yang tak kunjung sembuh.

5. Laporkan gejala lebih awal

Sejumlah langkah kunci untuk memastikan pemulihan malaria yang cepat. Anda bisa melaporkan gejala penyakit lebih awal setelah bepergian ke daerah endemis malaria. Diagnosis yang cepat dan perawatan efektif akan membantu pulih dengan cepat.

"Jika salah satu dari langkah-langkah di atas tertunda, kemungkinan Anda terinfeksi malaria bisa parah. Tingkat kelangsungan hidup lebih rendah," tutup John.

5 dari 5 halaman

Saksikan video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓