Penyakit yang Sering Hampiri Pasien Seiring Perubahan Iklim

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 22 Apr 2019, 13:00 WIB
Ilustrasi asma

Liputan6.com, Florida Seiring perubahan iklim, berbagai penyakit marak mendera pasien. Para dokter di Florida Selatan, Amerika Serikat sudah melihat dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia.

Dokter penyakit dalam Ankush Bansal mengungkapkan, penyakit yang dialami pasien-pasiennya disebabkan faktor perubahan iklim, yang terkait dengan cuaca.

"Saat hari-hari yang lebih panas daripada hari-hari lainnya, saya menangai lebih banyak pasien yang datang karena penyakit paru-paru, seperti COPD atau asma, penyakit jantung (nyeri dada, gagal jantung), penyakit ginjal, dan dehidrasi," ungkap Bansal, dikutip dari WPTV, Senin (22/4/2019).

Keluhan penyakit tersebut seringkali didera pasien dalam bulan yang sama, terutama pada hari-hari saat cuaca lebih panas. Cuaca yang lebih panas dan lembab akibat perubahan iklim dapat memperburuk kondisi kesehatan.

"Anda yang punya riwayat penyakit tertentu, dengan adanya perubahan iklim akan membuat kondisi kesehatan lebih buruk," tambah Bansal, yang berpraktik di Martin Health System.

Berdasarkan informasi National Weather Service mencatat, rata-rata dalam empat tahun terakhir adalah tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat dari Martin County melalui Miami-Dade County sejak 1900.

2 of 4

Asma dan alergi

ilustrasi kulit gatal (istockphoto)
Asma dan alergi makin parah. (istockphoto)

Data Center for Climate Change and Health menunjukkan, suhu yang lebih tinggi dan banyak hujan juga akan memicu masalah kesehatan lainnya, seperti ganggang biru-hijau beracun dan penyakit yang ditularkan serangga.

Badai yang lebih kuat ikut mengancam kesehatan dan keselamatan manusia. Serangan asma dan alergi juga terjadi.

Damara Cohn, pemilik Mangrove Realty di pusat kota Delray Beach dan ibu bagi tiga anak mengatakan, keluarganya membawa obat Zyrtec setiap malam untuk mengatasi alergi.

"Hidung terus berair, batuk, dan kelelahan. Benar-benar tidak nyaman sepanjang waktu," ujar Damara.

Putra bungsunya, Samuel menderita asma dan harus menggunakan semprotan Nebulizer setiap empat jam ketika asmanya kambuh.

"Asma sangat menakutkan karena tidak ada cara mengatasinya. Setiap serangan asma berbeda dan berkembang dengan cepat," tambah Damara.

Serangan asma dapat dipicu oleh memburuknya polusi udara. Itu bisa menyebabkan alergi karena polusi dan cuaca yang lebih panas membuat tanaman menghasilkan lebih banyak serbuk sari.

3 of 4

Risiko penyakit Lyme

Kutu Rambut
Penyakit Lyme juga berisiko terjadi.

Dalam panel diskusi United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change pada 2018, dokter asal Boston, Caren Solomon dan Regina LaRocque menyampaikan lebih lanjut penyakit akibat perubahan iklim.

Pemaparan berjudul Climate Change — A Health Emergency ditulis di New England Journal of Medicine, yang dipublikasikan pada Januari 2019.

"Kami melihat peningkatan gelombang panas sehingga kualitas udara turun. Bahkan beberapa orang tidak dapat menghabiskan waktu di luar rumah mereka. Anak-anak dan orang-orang dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular makin parah kondisinya," tulis Solomon, dikutip dari WBUR.

Vektor penyakit, seperti serangga meningkatkan jangkauannya. Contohnya kutu. Ketika mencurigai pasien menderita penyakit Lyme--infeksi menular karena bakteri yang dibawa kutu--dokter akan bertanya apakah pasien itu mengunjungi daerah tertentu.

"Sekarang kita tahu, Anda tidak harus berada di tempat lain untuk berisiko kena penyakit Lyme (kutu bisa di mana-mana)," tambahnya.

Solomon juga menulis, adanya badai yang semakin kuat dan kerusakan yang disebabkannya, misal menghancurkan rumah akan memengaruhi kesehatan mental. Orang akan didera tekanan karena kehilangan materi dan anggota keluarganya.

4 of 4

Simak video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓