Sumbang 80 Persen dari Makanan Dunia, Kehidupan Petani Masih Belum Layak

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 06 Apr 2019, 14:00 WIB
Harga Gabah Kering Turun

Liputan6.com, Jakarta Sebagian besar makanan yang sampai ke meja makan kita berasal dari kerja keras petani. Paling tidak, petani menghasilkan 80 persen dari makanan dunia.

Namun, banyak dari keluarga petani mengalami rawan pangan dan sangat miskin. Hal ini disampaikan Asisten Direktur Jenderal FAO dan Perwakilan Regional untuk Asia dan Pasifik, Kundhavi Kadiresan.

Di Asia Tenggara, sebagian besar lahan pertanian dimiliki oleh petani kecil kurang dari lima hektar. Di Indonesia, bahkan lebih kecil lagi, sebagian besar petani mengolah lahan kurang dari satu hektar.

Pertanian keluarga juga mencakup nelayan, peternak, dan orang-orang yang bergantung pada hutan untuk makanan dan mata pencaharian mereka. Masyarakat miskin pedesaan, terutama pertanian keluarga, menghadapi kesulitan besar dalam mengakses kredit, layanan, dan teknologi.

"Akses pasar yang memungkinkan mereka meningkatkan produktivitas sumber daya alam dan tenaga kerja juga terkendala. Perempuan pedesaan juga amat dipengaruhi oleh situasi yang tidak menguntungkan ini," papar Kadiresan dalam keterangan rilis yang diterima Health Liputan6.com, ditulis Sabtu (6/4/2019).

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 of 2

Pendapatan rendah dan tidak stabil

Petani
Kundhavi Kadiresan, Asisten Direktur General FAO untuk kawasan Asia Pasifik menyampaikan sambutan para konferensi regional pertanian keluarga. (Dok FAO)

Pekerjaan yang tersedia di sektor pertanian juga berkaitan dengan pendapatan yang rendah dan tidak stabil, kondisi keselamatan dan kesehatan yang buruk. Apalagi masalah ketidaksetaraan gender dalam upah juga peluang kerja, serta perlindungan sosial yang terbatas.

Kurangnya akses petani terhadap pelatihan, layanan keuangan dan penyuluhan dan fasilitas pemrosesan seringkali lebih terbatas di daerah pedesaan. Akibatnya, berkontribusi pada perubahan populasi dari desa ke kota.

“Saat berbicara tentang bertani di Asia Tenggara, kita membicarakan pertanian keluarga. Memberdayakan pertanian keluarga dan keluarga petani akan membantu mengatasi akar penyebab kerawanan pangan dan kekurangan gizi di wilayah ini,” jelas Kadiresan.

Situasi kehidupan petani di atas disampaikan Kadiresan saat sesi pembukaan Konferensi Regional tentang Penguatan Ketahanan Pangan, Nutrisi, dan Kesejahteraan Petani Asia Tenggara melalui Dekade Pertanian Keluarga PBB pada 4 April 2019 di Jakarta.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait