Kualitas Dokter Penentu Keberhasilan Perawatan Kanker

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 01 Apr 2019, 16:00 WIB
Gejala Kanker Tenggorokan

Liputan6.com, Jakarta Selama ini, banyak orang Indonesia melakukan pengobatan kanker ke Singapura. Salah satu alasan yang banyak dikemukakan adalah bagaimana majunya fasilitas perawatan kanker di negara tetangga tersebut.

Meskipun begitu, pakar kanker dari Parkway Cancer Centre (PCC) Singapura, Dr. Ang Peng Tiam mengatakan bahwa fasilitas bukanlah penentu baik buruknya suatu kualitas layanan medis untuk kanker. Konsultan Senior Onkologi Medis itu mengatakan bahwa yang paling penting sesungguhnya adalah profesionalisme dari para dokter itu sendiri.

"Fasilitas itu gampang diduplikasi, yang paling sulit adalah kualitas orang-orangnya," kata Ang ditemui Health Liputan6.com di kawasan Sudirman beberapa waktu lalu, ditulis Senin (1/4/2019).

Ang mengungkapkan, ketika dia menjalani pelatihan dokter di Stanford University, fasilitas yang diberikan padanya dan teman-temannya untuk belajar sangatlah minim. Walaupun begitu, mereka berhasil menjadi dokter-dokter kelas dunia yang bahkan mendapat pasien para pejabat serta tokoh-tokoh dunia.

"Saya melihat selama ini, orang-orang banyak menghabiskan biaya untuk fasilitas tetapi bukan pada pelatihan," ujar Ang menambahkan.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 of 2

Satu dokter hebat tidaklah cukup

Ilustrasi Pasien Kanker, Kanker, Pasien (iStockphoto)
Keluarga Pasien Kanker Harus Memerhatikan Pola Makan Pasien Tersebut Agar Mempercepat Proses Pemulihan Setelah dan Selama Perawatan (Ilustrasi/iStockphoto)

Menurutnya, hanya satu dokter yang ahli saja tidaklah cukup. Bahkan jika fasilitas canggih tersedia. Ang mengatakan bahwa harus ada dokter-dokter ahli yang siap saling bekerjasama. Khususnya dalam perawatan kanker.

"Kalau mau mendapatkan perawatan kanker yang sukses, seluruh tim harus brilian. Kalau kita buat sebuah ilustrasi, ada sebuah negara dengan sistem transportasi yang buruk, sementara penyimpanan obatnya baik dan obat harus segera diantarkan, tetap saja obatnya akan jadi buruk. Meskipun obatnya sama, tapi yang didapatkan pasien adalah obat yang sudah kadaluwarsa," kata dokter yang juga Direktur Medis PCC itu.

Begitupula dengan dalam sebuah tim kedokteran. Apabila satu dokter salah melakukan diagnosis, maka hasil dari perawatan itu sendiri akan terpengaruh.

"Itulah mengapa dalam perawatan kanker bukan soal fasilitas atau 'hardware' tetapi tentang 'software'," kata Ang menambahkan.

"Fasilitas cuma soal uang. Ada banyak uang untuk fasilitas. Kalau Anda punya dokter yang baik, orang-orang akan menginvestasikan untuk menyediakan fasilitas pelayanan yang baik. Mesin itu mudah untuk dibeli. Kalau punya mesin tapi orang tidak tahu cara pakainya, itu tidak berguna," pungkas Ang.

Lanjutkan Membaca ↓