Buduk, Masalah Kesehatan Tersering yang Menyerang Para Santri

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 28 Mar 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 28 Mar 2019, 12:17 WIB
Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat

Liputan6.com, Tasikmalaya Mendapatkan asupan makanan yang sehat saja bukan jaminan para santri di pondok pesantren bebas dari masalah kesehatan. Di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, masalah yang banyak dialami para santri adalah penyakit buduk atau skabies.

Hal ini diungkapkan oleh Pengurus Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya Jawa Barat dalam puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2019 pada Rabu kemarin. Dalam sambutannya, KH. Ubaidillah Ruhyat mengatakan bahwa meski tidak ada kasus TB, gatal-gatal menjadi masalah yang banyak dialami para santri.

"Sesuai pesan ibu (Menteri Kesehatan), setiap pagi anak-anak kami dikasih sarapan tempe, karena tempe itu baik untuk kesehatan," kata Ubaidillah di depan Menteri Kesehatan Nila Moeloek yang hadir dalam acara tersebut ditulis pada Kamis (28/3/2019).

"Tapi nanti kalau bisa diberi arahan karena banyak santri yang buduk," imbuhnya disusul dengan tawa dari para santri yang hadir dalam kegiatan tersebut.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

 

2 of 2

Keluhan orangtua

Santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Giovani Dio)
Santri Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Giovani Dio/Liputan6.com)

Ubaidillah mengatakan, dia sering mendapatkan keluhan dari orangtua karena masalah buduk yang dialami para santri. Sayangnya, dirinya tidak bisa menjelaskan karena bukan dokter.

"Saya bilang begini, 'Bu, Pak, anak bapak buduk berarti sudah diterima menjadi santri, jadi kalau belum pernah buduk bukan santri,'," seloroh Ubaidillah.

Dia mengungkapkan, apabila terjadi masalah semacam itu, para santri diberikan pengobatan. Selain itu, para santri juga diminta untuk tetap menjalani aktivitas sehari-harinya dengan berpikir positif dan menganggap bahwa itu adalah ujian dalam kehidupannya.

"Karena saya bukan dokter, jadi saya hanya bilang kalau ini adalah suatu ujian di Pondok Pesantren Cipasung," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Nila mengatakan anggapan "Kalau belum buduk belum jadi santri" adalah salah. Maka dari itu, mereka yang belajar di pondok pesantren harus terus menjaga kebersihan.

"Sebenarnya, ketika ada dua ribu anak tinggal di asrama, kebersihan nomor satu. Kutu-kutu itu lho yang menjadikan skabies. Kalau sudah digigit, digaruk semakin gatal, semakin jadi dia (penyakitnya)," kata Nila memberikan penjelasan.

Jika itu terjadi, Nila meminta agar para santri mendatangi Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) sehingga bisa mendapatkan obat berupa salep. Jangan lupa juga untuk tetap menjaga kesehatan. 

Lanjutkan Membaca ↓