Tak Lagi Pakai Sumur, Nurhayati Bersyukur Layanan Ini Permudah Akses Air Bersih

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 22 Mar 2019, 20:00 WIB
Diperbarui 22 Mar 2019, 20:17 WIB
Salah satu warga Kota Surabaya, Nurhayati, sudah bisa mendapatkan akses air bersih. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti)

Liputan6.com, Surabaya Adanya akses air bersih membuat wajah Nurhayati, warga yang tinggal di Jalan Semarang, Kota Surabaya, Jawa Timur sumringah. Sambil tersenyum, ia menceritakan, akses air bersih PDAM sudah mudah diperoleh di rumahnya.

Sebelumnya, Nurhayati menggunakan air sumur yang terletak tak jauh dari rumahnya. Dahulu, air bersih dan jernih masih bisa didapat dari sumur tersebut. Ia menggunakannya untuk keperluan minum dan rumah tangga, seperti mencuci.

"Saya sudah bertahun-tahun (lebih dari 20 tahun), dan sejak kecil tinggal di sini. Dulu pakai air sumur masih bersih, buat minum juga. Nah, lama-lama air sumurnya makin keruh dan kotor," tutur Nurhayati saat diwawancarai Health Liputan6.com, Jumat, 22 Maret 2019.

Sulitnya akses air bersih karena kondisi air sumur yang semakin kotor terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut Nurhayati, kotornya air sumur dipengaruhi pembangunan gedung-gedung di sekitar lingkungan rumahnya. Tempat tinggal Nurhayati yang berada di Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan termasuk kawasan padat penduduk.

Ketika air sumur kotor, Nurhayati tidak lagi menggunakan air untuk minum. Air sumur hanya digunakan untuk mencuci pakaian dan lainnya, tapi tidak digunakan untuk minum.

"Air sumur buat cuci baju sama cuci piring saja, kalau air minum beli jeriken," ujar Nurhayati.

2 of 3

Air sumur kotor

Salah satu warga Kota Surabaya, Nurhayati, sudah bisa mendapatkan akses air bersih. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti)
Salah satu warga Kota Surabaya, Nurhayati, sudah bisa mendapatkan akses air bersih. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti)

Ketika kondisi air sumur semakin kotor, Nurhayati dan keluarga yang semula masih mengonsumsinya sering mengalami diare. Berbagai hal ikut memengaruhi kebersihan air sumur di sekitar tempat tinggal Nurhayati. 

"Selain keruh dan kotor, di sumur juga ada bangkai tikus, persoalan septic tank, dan masuk juga air dari got-got. Jadi airnya sudah enggak bersih dan sehat," ungkap ibu dari tiga anak ini.

Kepadatan rumah penduduk diduga ikut menjadi faktor yang memengaruhi kebersihan air sumur. Ketika ada anggota keluarga dari sebuah rumah mengalami diare, maka penyakit tersebut mudah menyebar dan menular. Tak ayal, diare bisa melanda banyak warga di Jalan Semarang, yang dihuni sekitar 550 rumah tangga.

"Saya kira, diare juga mudah menular mungkin karena rumah kami di sini kan saling berhimpitan. Padat rumahnya," Nurhayati menambahkan.

3 of 3

Program master meter

Akses air bersih yang diperoleh Nurhayati berasal dari pemasangan master meter. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti)
Akses air bersih yang diperoleh Nurhayati berasal dari pemasangan master meter. (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti)

 

Kini, Nurhayati bisa menikmati air bersih setelah master meter, sistem penyediaan layanan air komunal, dipasang. air bersih tersebut tetap berasal dari PDAM.

Sistem master meter cocok diterapkan di kawasan permukiman informal yang tak memungkinkan dibangunnya fasilitas PDAM. "Bermanfaat sekali master meter ini. Air bersih jadi gampang saya peroleh," ujar Nurhayati.

Meteran dan sambungan pipa rumah tangga yang terhubung dengan master meter milik PDAM sudah ada di masing-masing rumah tangga. "Air dari master meter ini baru nyala semalam. Saya harapkan ya diare yang kami alami juga bisa berkurang karena sudah ada air bersih," tutupnya.

Lanjutkan Membaca ↓