Kenali Penyakit Kawasaki pada Anak, Sindrom Langka yang Sulit Dideteksi

Oleh Loudia Mahartika pada 12 Mar 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 12 Mar 2019, 11:14 WIB
Penyakit Kawasaki

Liputan6.com, Jakarta Ada begitu banyak penyakit di dunia ini yang jarang sekali didengar oleh telinga masyarakat Indonesia. Alasannya beragam, mulai dari susahnya dideteksi penyakit tersebut dan sangat jarang kasus yang menyerang di Indonesia. Sehingga masyarakat tak memiliki akses untuk mencari tahu.

Salah satu kasus yang sangat jarang menyerang masyarakat di Indonesia adalah penyakit Kawasaki yang disebabkan oleh virus Kawasaki. Selain jarang menyerang, penyakit Kawasaki masih cukup sulit untuk dideteksi penyebabnya. Masyarakat kerap kali terkecoh bahwa awal gejala penyakit Kawasaki sebagai penyakit biasa.

Dokter spesialis anak RSUD dr Soetomo Surabaya, dr Agus Harianto SpA (K), mengatakan bahwa masih adanya kesulitan mendiagnosis penyakit Kawasaki ini. Penyebabnya masih belum bisa diidentifikasikan dan didiagnosis.

Berikut ulasan lengkap tentang penyakit Kawasaki yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (11/3/2019).

2 dari 5 halaman

Penyakit Kawasaki pada Anak

Penyakit Kawasaki (sumber: iStock)
Penyakit Kawasaki (sumber: iStock)

Penyakit Kawasaki adalah salah satu penyakit yang tak boleh dianggap sepele apalagi diabaikan. Penyakit Kawasaki sering dikenal pula sebagai mucocutaneous lymph node syndrome.

Pada anak-anak, penyakit Kawasaki menyerang pada sistem jantung dan pembuluh darah yang akan menyebabkan peradangan di dinding pembuluh darah arteri. Hal tersebut akan berakibat peradangan yang kemudian menjadi pembengkakan pembuluh darah pada arteri.

Pembuluh darah arteri sendiri adalah jalur darah menuju ke jantung. Jika pembuluh darah mengalami peradangan hingga bengkak maka berbagai penyakit akan muncul pada tubuh anak. Penyakit Kawasaki juga dapat menyerang tenggorokan, hidung, selaput lendir pada mulut, kulit dan kelenjar getah bening.

Maka dari itu, penyakit Kawasaki adalah salah satu penyakit mematikan yang harus diwaspadai walaupun hingga kini kasusnya masih jarang ditemukan di Indonesia. Penyakit Kawasaki bukanlah penyakit yang menular sehingga, perlu adanya tanggapan secara cepat jika ditemukan penyakit ini.

3 dari 5 halaman

Gejala Penyakit Kawasaki pada Anak

Penyakit Kawasaki awalnya ditemukan di Jepang pada tahun 1960-an oleh Prof. Tomisaku Kawasaki. Ia adalah seorang dokter spesialis anak di Jepang, sekaligus penemu penyakit ini pada tahun 1960-an.

Secara umum, penyakit Kawasaki menyerang pada anak berusia 5 bulan. Namun ada kemungkinan juga bahwa penyakit Kawasaki menyerang anak di atas usia tersebut. Gejala-gejala penyakit Kawasaki pada anak dapat dilihat sebagai berikut:

1. Gejala utamanya adalah demam. Anak akan mengalami demam tinggi sehingga suhu tubuhnya menjadi tidak stabil sekitar 5 hari.

2. Terjadinya perubahan warna mata pada anak yang menjadi merah.

3. Kondisi bibirnya menjadi warna biru dan lidahnya menjadi merah (strawberry tongue) serta pada mulut.

4. Adanya bercak kemerahan yang muncul pada kulit kaki dan tangan yang terkadang tampak bengkak.

5. Muncul pembengkakan pada kelenjar getah bening pada leher anak.

Penyakit Kawasaki memang masih jarang terjadi dan ditemui kasusnya. Namun jika menemukan gejala-gejala di atas pada anak, segera ditangani secara medis. Hal ini akan menghalangi penyakit Kawasaki agar tidak menimbulkan komplikasi pada jantung si anak.

Perlu diperhatikan bahwa penyakit Kawasaki mirip dengan campak dan demam berdarah. Akibat dari terlambatnya penangan medis akan beresiko pola detak jantung anak menjadi tidak normal, bahkan berakibat fungsi abnormal pada katup jantung.

Anak yang menderita penyakit Kawasaki wajib untuk ditangani di rumah sakit. Dengan mengetahui gejala tersebut, anak akan dapat ditangani secepat mungkin sehingga penyembuhannya dapat berlangsung cepat dan mengurangi resiko komplikasi.

4 dari 5 halaman

Penanganan Penyakit Kawasaki pada Anak

Penyakit Kawasaki (sumber: iStock)
Penyakit Kawasaki (sumber: iStock)

Setelah anak mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, peran orang tua sangatlah penting bagi kesembuhan total pada anak. Anak yang telah mendapatkan perawatan biasanya akan disarankan untuk minum sebanyak mungkin.

Orang tua harus memastikan anak untuk minum obat sesuai dengan resep dokter dan selalu perhatikan efek sampingnya jika ada. Perlu untuk selalu memantau pola makan anak dan memperhatikan anak agar selalu merasa nyaman.

Pemulihan total penyakit kawasaki pada anak bisa memakan waktu hingga 6 minggu tergantung dari kondisi anak itu sendiri.

Obat atau vaksin untuk penyakit Kawasaki ini tidak bisa dikatakan murah. Vaksin tersebut bernama Immune Globulin Injection, jenis Gamunex. Harganya pun sangat mahal, yaitu Rp 9,5 juta untuk 50 ml atau per botolnya.

Penggunaan vaksin pada anak pun berbeda-beda. Hal tersebut bergantung dari kondisi dan berat badan si anak. Semakin berat badan anak, maka vaksin yang dibutuhkan pun semakin banyak pula.

50 ml vaksin Kawasaki akan habis dalam waktu sekitar 4 jam. Tak hanya mengonsumsi vaksin tersebut, anak juga perlu mengonsumsi obat pengencer darah agar tidak terjadi serangan pada jantungnya yang biasanya dikonsumsi dalam waktu 6 minggu.

5 dari 5 halaman

Kasus Penyakit Kawasaki Terjadi di Surabaya

Kasus penyakit Kawasaki penah terjadi di Surabaya, di mana seorang bayi berusia sekitar 8 bulan terinfeksi penyakit mematikan ini. Gejala yang dialami si bayi seperti gejala demam berdarah.

"Gejala awal virus Kawasaki ini hampir mirip demam berdarah. Suhu badan panas yang tidak stabil. Bahkan, hingga lebih dari 4 hari. Jika dokter yang tidak mengetahui penyakit ini, pasti akan mendiagnosis sebagai penyakit demam berdarah atau campak. Namun, virus ini tidak menular," tutur dr Agus Harianto SpA (K), Selasa, 30 Januari 2018 lalu.

Bayi yang terjangkit penyakit Kawasaki tersebut telah menjalani sejumlah tes seperti tes darah, tes urin dan foto thorax dan semua hasilnya normal. Dokter semakin kuat menduga bahwa bayi itu menderita Kawasaki karena suhu badan yang panas, matanya memerah serta mulut dan bibirnya kering kemerahan. Untungnya bayi tersebut segera mendapatkan penangan medis sehingga dapat dirawat secara intensif.

Lanjutkan Membaca ↓