Penyakit Hepatitis, Jenis dan Gejalanya yang Tampak Sepele Padahal Mematikan

Oleh Yunisda Dwi Saputri pada 09 Mar 2019, 10:37 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 19:02 WIB
Penyakit Hepatitis

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang yang mengira bahwa kanker adalah penyakit yang sangat mematikan. Namun siapa sangka kalau ada penyakit selain kanker yang juga tak kalah mematikan. Hanya karena telat penanganan bisa berujung kematian. Contohnya adalah demam berdarah, serangan jantung, diabetes, hepatitis, dan banyak lainnya.

Salah satu penyakit ganas di atas memiliki jenis yang berbeda tingkat keparahannya, yaitu penyakit hepatitis. Hepatitis adalah penyakit yang menyerang organ hati manusia. Penyakit ini terjadi ketika hati mengalami peradangan yang disebabkan karena virus. Seseorang yang menderita hepatitis secara cepat atau lambat fungsi hatinya akan menurun dan menjadi rusak.

Hepatitis terdiri atas 6 jenis, yaitu hepatitis A, B, C, D, E, dan G. Tiap jenis memiliki gejala dan penularan yang berbeda. Di antara keenam jenis tersebut, hepatitis A, B, dan C adalah jenis yang paling sering dialami pasien di seluruh dunia.

Jenis A kerap digolongkan sebagai penyakit hepatitis ringan karena jarang menyebabkan kematian, meski penyebarannya terbilang cepat. Sedangkan hepatitis B bisa berakhir fatal jika tidak segera diobati. Sementara itu, hepatitis C biasanya ditularkan melalui jarum suntik yang sudah terkontaminasi.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai jenis penyakit hepatitis, simak penjelasan lengkapnya yang dihimpun Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (9/3/2019).

2 of 4

Jenis & Gejala Penyakit Hepatitis

Penyakit Hepatitis (sumber: iStock)
Penyakit Hepatitis (sumber: iStock)

Hepatitis A (HAV)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hepatitis A dapat menyebar dengan mudah dan cepat. Virus penyakit ini menyebar melalui kotoran atau feses penderita yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Hepatitis A biasanya mudah menular dalam satu keluarga di satu rumah.

Penyebaran infeksi hepatitis A juga bisa terjadi karena mencuci tangan tidak bersih, seperti di rumah makan yang terdapat banyak orang. Hepatitis A memiliki masa inkubasi dua hingga enam pekan sejak penularan terjadi, barulah penderita menunjukkan beberapa gejala. Gejalanya termasuk kelelahan, mual, sakit perut, kehilangan nafsu makan, dan demam ringan.

Hepatitis B (HBV)

Penularan hepatitis B dapat menyebar melalui darah atau serum yang mengandung virus. Selain itu, penyakit menular ini dapat menyebar melalui kontak seksual, donor darah, jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi, dan transfusi darah.

Ibu hamil yang positif penyakit hepatitis B juga bisa menularkan infeksi kepada bayi. Infeksi juga dapat ditularkan dari tato, tindik, pisau cukur, dan sikat gigi jika ada kontaminasi dengan darah yang terinfeksi.

Pasien dengan infeksi hepatitis B kronis juga berisiko terkena sirosis, gagal hati, dan kanker hati. Gejala hepatitis B berupa mata kuning, sakit perut, dan warna air kencing tak jernih. Pada beberapa orang, terutama anak-anak, tidak mengalami gejala apa pun. Dalam kasus-kasus kronis, penderita bisa mengalami gagal hati, kanker atau jaringan parut dapat terjadi.

 

3 of 4

Jenis & Gejala Penyakit Hepatitis

Hepatitis C (HCV)

Centers for Disease Control and Prevention melaporkan, ada sekitar 16.500 kasus hepatitis C baru yang dilaporkan per tahun. Hepatitis C ditularkan dari penggunaan jarum bersama di antara pengguna narkoba, dan transfusi darah.

Penularan virus juga bisa melalui kontak seksual. Diperkirakan 50 persen hingga 70 persen pasien dengan infeksi hepatitis C akut mengalami infeksi kronis. Hal ini bisa berujung sirosis, gagal hati, dan kanker hati. Kebanyakan orang tidak memiliki gejala hepatitis C. Mereka mungkin mengalami kelelahan, mual, kehilangan nafsu makan, dan mata juga kulit kuning.

Hepatitis D, E, dan G

Penularan penyakit hepatitis D ditularkan penggunaan jarum bersama di antara pengguna narkoba, darah yang terkontaminasi, dan kontak seksual. Individu yang sudah terinfeksi hepatitis B kronis dapat terkena infeksi hepatitis D pada saat yang sama. Seseorang yang terinfeksi virus hepatitis D dan hepatitis B secara bersamaan sangat sulit diobati. Gejala hepatitis D berupa sakit perut, mual, dan kelelahan.

Virus hepatitis E (HEV) mirip dengan hepatitis A. Ini terjadi terutama di Asia, yang mana ditularkan melalui air yang terkontaminasi. Beberapa gejala berupa sakit kuning, kurang nafsu makan, dan mual. Dalam kasus yang jarang terjadi, mungkin berkembang menjadi gagal hati akut.

Virus Hepatitis G (HGV, yang juga disebut GBV-C) baru-baru ini ditemukan dan menyerupai hepatitis C. Namun, virus hepatitis G berupa flaviviruses (jenis virus). Saat ini, virus hepatitis G dan dampaknya sedang diselidiki lebih lanjut.

4 of 4

Cara Pengobatan Hepatitis

1. Kurangi Konsumsi Garam

Mencegah Hepatitis C dapat dilakukan dengan cara yang mudah, seperti mengurangi asupan garam. Alasannya adalah ketika hepatitis atau penyakit hati menjadi semakin parah, ginjal akan bereaksi untuk menyimpan garam dan air. Karena garam berfungsi seperti spons yang menyerap air, hal ini meyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh.

2. Banyak Minum Air

Air adalah salah satu bagian penting yang berpengaruh di dalam fungsi tubuh kita dan membantu menghilangkan racun dan melakukan proses penyerapan terhadap nutrisi penting. Minum air dalam jumlah yang diperlukan juga dapat menghilangkan efek samping selama pengobatan atau terapi.

3. Vaksin

Dapatkan vaksinasi untuk mencegah Hepatitis A dan Hepatitis B. Meskipun belum ada vaksin untuk Hepatitis C, vaksinasi untuk mencegah penderita Hepatitis C dari infeksi virus Hepatitis A dan Hepatitis B dapat dilakukan.

4. Tes Hepatitis

Virus hepatitis bisa menular lewat berbagai cara, salah satunya lewat hubungan seksual. Guna mencegah penularan, Ketua Perhimpunan Penelitian Hati Indonesia, Irsan Hasan mengingatkan para calon pengantin melakukan tes hepatitis sebelum menikah.

Dengan melakukan tes hepatitis, kata Irsan, calon pasangan akan mengetahui kondisi masing-masing. Jika hasil tes hepatitis menunjukkan salah satu satu pasangan terkena hepatitis B, maka ia harus menjalani pengobatan terlebih dahulu.

Lanjutkan Membaca ↓