Joshua Beckford, Bocah Autisme Termuda yang Kuliah di Oxford

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 06 Mar 2019, 17:00 WIB
Diperbarui 06 Mar 2019, 19:16 WIB
Joshua Beckford

Liputan6.com, Inggris Autisme tidak membuat Joshua Beckford terhambat maju dalam pendidikan. Pada usia enam tahun, bila sebagian besar anak memasuki sekolah dasar, lain halnya dengan Beckford. Ia justru sudah menduduki bangku kuliah di Universitas Oxford, Inggris.

Anak ajaib asal Tottenham menjadi orang termuda yang pernah kuliah di Universitas Oxford. Kini, di usianya yang 13 tahun, Beckford menyandang gelar sarjana muda yang punya impian menjadi ahli bedah saraf. Baru-baru ini, ia terdaftar dalam 30 orang paling luar biasa di dunia dengan autisme yang memberikan insipirasi pada publik.

Pencapaian Beckford yang menyandang autisme tak lepas dari latihan dan didikan sang ayah. Pada usia 10 bulan, ayah Beckford, Knox Daniel, menemukan kemampuan belajar putranya yang unik saat bocah lucu itu duduk di pangkuannya di depan komputer.

Keyboard komputer menjadi minat anak. Daniel mulai memberi tahu Beckford huruf-huruf pada keyboard. Ia menyadari, anaknya mampu mengingat dan mengerti.

Pada usia 3 tahun, Beckford sudah bisa membaca dengan lancar menggunakan phonics--sistem pengajaran membaca bahasa Inggris. Ia belajar berbicara bahasa Jepang, bahkan belajar mengetik di komputer sebelum belajar menulis.

"Sejak usia 4 tahun, aku menggunakan laptop ayah untuk belajar," ucap Beckford, dikutip dari Face2Face Africa, Rabu, 6 Maret 2019.

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Jadi penulis dan duta pendidikan

Joshua Beckford
Joshua Beckford, bocah autisme jadi mahasiswa termuda Universitas Oxford. (Screenshoot Youtube TEDx Talks)

Pada tahun 2011, Daniel mengetahui, sebuah program kuliah di Universitas Oxford yang khusus untuk anak-anak berusia antara delapan dan tiga belas tahun. Untuk membantu putranya, ia menulis ke Oxford berharap mendapatkan izin masuk untuk anaknya meski ia lebih muda dari usia yang ditentukan untuk program tersebut.

Alhasil, Beckford diberi kesempatan untuk mendaftar. Ia menjadi mahasiswa termuda yang pernah diterima di Universitas Oxford . Bocah brilian mengambil kursus filsafat dan sejarah.

Ia minat dalam sejarah Mesir selama masa studi. Jenius muda ini juga menulis buku anak-anak tentang negara bersejarah dan kuno. Selain kecakapan akademisnya, wajah Beckford menjadi ikon kampanye National Autistic Society’s Black and Minority.

Ia membantu menyoroti tantangan yang dihadapi kelompok minoritas dalam upaya mereka mendapatkan dukungan dan layanan autisme. Pada Januari 2019, Beckford ditunjuk sebagai Duta Pendidikan Keluarga Berpenghasilan Rendah (L.I.F.E) untuk Jaringan Advokasi Pendampingan Anak Laki-Laki di Nigeria, Uganda, Ghana, Afrika Selatan, Kenya, dan Inggris.

Dukungan Pendidikan Keluarga Rendah Penghasilan didirikan untuk menciptakan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Hal ini mengarahkan mereka memiliki harapan untuk berkontribusi secara positif bagi masyarakat.

Beckford dan ayahnya akan membuka fasilitasi sesi bimbingan dengan orang tua dalam acara inisiatif Father And Son Together [FAST] di Nigeria pada Agustus 2019.

Pada tahun 2017, Beckford memenangkan The Positive Role Model Award for Age dalam acara The National Diversity Awards, sebuah acara yang merayakan pencapaian luar biasa dari komunitas akar rumput yang menangani berbagai isu di masyarakat.

3 dari 3 halaman

Galang dana amal autisme

Joshua Beckford
Joshua Beckford menjadi mahasiswa termuda Universitas Oxford. (Screenshoot Youtube TEDx Talks)

Beckford juga menggalang dana untuk tiga badan amal autisme (dua badan amal di Afrika dan satu di Inggris). Baru-baru ini, ia menulis puisi Saving Mother Earth di Konferensi Internasional TEDx di Wina, Austria.

Sosok Beckford menjadi salah satu bocah laki-laki paling cemerlang di dunia. Tak tanggung-tanggung, ia pun merancang dan memberikan presentasi power-point tentang Human Anatomy di acara penggalangan dana yang dihadiri 200 hingga 3.000 orang, menurut National Diversity Awards.

Bagi seorang sarjana super yang otaknya di atas rata-rata sebagian besar anak-anak seusianya, bahkan kebanyakan orang dewasa, Beckford, menurut ayahnya, tidak suka bergaul anak-anak seusianya.

"Dia hanya suka dengan remaja dan orang dewasa. Dia tidak suka suara keras dan selalu berjalan kaki dengan ujung jari kakinya. Joshua selalu makan dari piring yang sama, menggunakan pisau makan yang sama, dan meminum dari cangkir yang sama," ujar Daniel.

Namun, Daniel bangga dengan prestasi putranya dan percaya bahwa Beckford punya masa depan yang cerah.

“Aku ingin menyelamatkan Bumi. Aku ingin mengubah dunia, mengubah pandangan orang untuk melakukan hal-hal yang benar tentang Bumi," ucap Beckford saat ditanya tentang masa depannya.

Lanjutkan Membaca ↓